Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Mengurai kenangan di kafe-kafe Kairo

Sekitar pukul sembilan atau sepuluh pagi, di saat perkuliahan sedang berlangsung dan ujian masih beberapa minggu lagi, saya pernah bikin "perkuliahan" sendiri dengan Fathul di Kafe Fishawy. Itu kunjungan pertama Fathul ke Fishawy, sebuah kafe di gang kecil dekat Masjid Sayyidina Husein dan Pasar Khan Khalili. Kafe ini salah satu spot favorit bagi saya sekadar duduk menyaksikan orang-orang berlalu lalang, atau belajar bahasa Arab dari sembarang orang. Jika sedang beruntung, kafe ini akan mempertemukan saya dengan orang-orang dengan cerita luar biasa. Entah dari pelayannya, pelanggannya, atau orang asing yang baru pertama kali. 

Fishawy ini punya kekuatan magis yang membuat saya punya banyak alasan kenapa pagi itu ingin buat "perkuliahan" sendiri dengan Fathul. Salah satunya karena kafe ini tidak punya TV dan wi-fi. Di saat kafe lain menawarkan dua hal itu untuk mengajak orang datang, justru Fishawy menghindari itu. Sebab yang ia inginkan bukan pengunjung yang datang karena ada tontonan bola atau koneksi gratisan, tapi karena di Fishawy kita bisa ngobrol, berdiskusi, berkontemplasi, atau mungkin berdebat dengan cangkir-cangkir ahwah turki yang hangat.

Pagi itu saya menantang Fathul untuk menuliskan 100 keinginan yang ingin dicapai dalam hidup. Kau tahu? Baru di angka belasan atau puluhan pun, Fathul dan Saya sudah kehabisan ide. "Naon deui nya?" Dari keinginan-keinginan serius sampai hal-hal paling receh pun kita masukkan. Misanya: ikut rapat PBB membahas kesejahteraan pangan di Jenewa, menulis Pidato Presiden untuk acara agustusan, mengislamkan Agnes Mo, sampai naik banana boat bareng Dewi Persik. Omaygat. 

Fishawy punya banyak kenangan yang sesekali harus saya ziarahi lagi. Pernah satu waktu saya dan Ocad nongkrong di sana, kenalan dengan gadis Mesir yang akhirnya gadis itu pacaran dengan Ocad. Pernah bertukar akun Facebook dengan seorang dosen dari Lebanon hanya karena duduk sampingan dan ia menawarkan beberapa lagu Fairus yang aduhai. Pernah juga nongkrong bareng Nijat dan ngobrolin identitasnya sebagai syiah dan punya dua anak gadis kembar nan cantik. Ah, cantik tapi syiah. Gimana dong? 

Menemukan obrolan di kafe-kafe Kairo adalah hal yang menurut saya mudah didapatkan, sekalipun kita sedang tidak ingin ngobrol dengan siapapun. Naguib Mahfouz jika sedang butuh ide untuk menulis, ia akan datang ke kafe-kafe pinggir jalan, atau dalam gang, yang pengaturan bangku duduknya berjejer membelakangi tembok. Pemandangan umum bagi kafe-kafe di Mesir, di mana semua kursi berderet satu arah menghadap jalan, atau televisi, atau arah manapun yang membuat setiap pengunjung bisa duduk berdampingan beradu lutut. Jarak yang begitu dekat itulah yang membuat siapapun “terpaksa” ngobrol dengan orang di sampingnya. Orang asing sekalipun. Jarak duduk yang dekat membuat kita “terpaksa” berkenalan, "terpaksa" bertegur sapa, membicarakan pertandingan bola yang sama sekali tidak saya pahami, bertukar selera kopi atau shisha, bahkan tak jarang bertukar cerita keluarga atau asmara. Kehangatan semacam itu bisa sangat mudah saya atau kita temukan di Kairo, di kafe-kafenya yang tersebar di berbagai sudut. 

Lain cerita jika saya, sebagaimana halnya Naguib Mahfouz, sedang ingin menyendiri. Naguib dan Saya (berasa temen deket wwkkw) akan datangi kafe-kafe yang formatnya "kebarat-baratan", di mana penganturan bangkunya sendiri-sendiri, sangat mengutamakan privasi dengan jarak dan sekat, biasanya lebih sepi, dan mungkin pengunjungnya terkategorikan, seperti kata Naguib, bagi orang-orang menengah ke atas yang individual dan tidak begitu ramah untuk dihampiri dan bercakap-cakap. 

Kenangan kafe-kafe Kairo jadi bermunculan lagi ketika melihat banyaknya kafe yang saya lihat setiap hari. Di beberapa tempat yang saya lewati akhir-akhir ini, dari Purwakarta ke Bandung ke Bekasi ke Depok ke Jakarta, ada banyak sekali kafe-kafe bermunculan dengan suasana yang sekilas nampak ada kemiripan. Lampu kuning sedikit temaram, desain corak industrialis minimalis, dan tak sedikit yang mengusung konsep kafe sebagai tempat yang tidak hanya untuk ngopi atau nongkrong, tapi juga untuk bekerja, berdiskusi, nonton mini konser, baca buku, atau sekadar foto-foto. Sangat modern, sangat millenial. Dari pemilihan nama, ada yang memilih nama-nama kebarat-baratan, diksi-diksi bahasa Inggris, ada juga yang muncul dengan nama-nama berbahasa Indonesia yang indie banget. Arus indie nampaknya cukup deras menghampiri para pelaku usaha kafe, jika dilihat dari nama-nama yang mereka pilih. Janji Jiwa, Kopi Kenangan, Janji Kenangan, Dari Hati, Teman Bicara, Kopi Baris, Lain Hati, dan sebagainya. Sayangnya dari sekian banyak kafe-kafe ini, saya tidak merasa bahwa tempat-tempat ini benar-benar bisa jadi tempat nongkrong ketika senang atau pun gabut, tidak seperti apa yang saya rasakan ketika berkunjung ke kafe-kafe di Mesir. Tidak ada kafe dengan bangku berderet yang membuat lutut kita beradu dengan pengunjung lain. Tidak ada kafe yang bisa saya tongkrongi sampai menjelang subuh sebagaimana kafe-kafe di Kairo, tidak ada Fishawy atau Layali versi Indonesia dengan segala keramaiannya. Sejujurnya saya gagal move on di bagian ini.

Saya ingin menyamakan konsep kafe rakyat di Mesir dengan Warkop di Indonesia. Tapi apakah peran sosial politiknya sama-sama besar? Saya belum tahu banyak soal ini.

Tapi secara sepihak, jika kita baca catatan yang lebih panjang soal kafe dan sejarahnya di Kairo, akan kita dapati bahwa kafe punya peran peradaban yang begitu besar. Ada banyak karya, pergerakan, bahkan revolusi yang semuanya berangkat dari obrolan di bangku-bangku kafe. Sebut saja misalnya Revolusi Mesir tahun 1919 yang mengantar Sa'ad Zagloul menjadi Perdana Menteri, perencanaan dan strategi politiknya berawal dari obrolan di Kafe Mitatiya. Semangat revolusi dan pergerakan juga pernah menyala di Kafe Hurriyyah yang sampai sekarang masih ramai pengunjung di titik Bab Luq.  Kafe Riche di Wust Balad pernah ditutup paksa pada tahun 1972 karena menjadi "pusat" seruan dari intelektual dan sastrawan yang mengkritisi pemerintah Sadat. Ummu Kultsum biasa mendengarkan kritikan dan masukan setelah konser dari para penggemarnya di Fishawy. Abbas Akkad dan Naguib menulis karya-karyanya di kafe-kafe. Juga ketika Perang Dunia meletus, Syekh Azhar dan pemimpin Gereja Coptic melakukan diskusi tertutupnya di ruangan pojok Fishawy, tempat di mana cermin besar peninggalan Napoleon Bonaparte dipajang begitu historis.

Sejarah panjang tentang keterkaitan kafe dengan berbagai hal ini yang membuat saya tidak heran ketika melihat teman-teman serumah dulu, seperti Fatah, Albi dan Mas Fardan sering mewacanakan banyak hal di kafe-kafe. Entah konsultasi politik PPMI, strategi kampanye Wihdah, dinamika media Masisir, atau sekadar debat kusir soal pertandingan MU yang kayanya tidak keren-keren amat.  

Obrolan di kafe bisa mengalir ke mana saja, dengan siapa saja. Orang bisa berdiskusi di kafe tanpa moderator atau notulen, tapi menghasilkan sesuatu yang bernilai luar biasa. Mengutip kalimat Habermas dalam Majalah al Iqtishodiyyah (Maqahi al Mutsaqqafin al Arab) yang dikutip Mirza Syauqi,  rahasia kopi dan efek kafe dalam kehidupan budaya terletak pada karakteristik spasial kafe sebagai ruang sosial baru. Di kafe, individu dapat bertemu dan berkumpul dengan pola yang terbebas dari kontrol lembaga sosial tradisional terutama keluarga, negara dan masyarakat sipil. Kafe menjadi ruang yang komprehensif yang mampu melahirkan pikiran-pikiran cemerlang yang menyentuh berbagai lini kehidupan, menjunjung tinggi semangat egaliter dan keterbukaan berpikir yang tidak dikontrol oleh kepentingan kekuasaan dan ekonomi. Seidealis itu fungsi kafe dalam eksistensinya. Apakah pendapat Habermas ini masih relevan dengan kondisi kafe sekarang? Kita bisa lihat dari tujuan orang-orang datang ke kafe, dan ada produk apa yang dihasilkan setelah pulang dari kafe. 

Minggu lalu Farid mention saya di Instagram dalam caption panjang soal mimpi jaman baheula waktu SMA. Ia mengingatkan saya soal keinginan membuka kafe yang ada deretan rak bukunya sehingga orang bisa mendapatkan nutrisi dari makanan dan bacaan, ada panggung kecilnya untuk orang baca puisi, orasi, atau memainkan skill musik yang mungkin saja payah, dan ada bangku-bangku yang diduduki orang-orang yang penuh gelora hidup. Saya berterima kasih kepada Farid sudah mengingatkan saya soal itu, karena ingatan itu yang membuat saya menulis tulisan ini. 

Jika ada kesempatan kembali lagi ke Kairo, saya ingin kembali menyusuri Zamalek dan menduduki beberapa kafe yang belum sempat tercicipi aroma kopinya. Ada kafe warna-warni di depan salah satu pertigaan Abu Fida yang belum pernah saya jamah, atau mungkin kembali ke Kafe Sufi menyaksikan band-band indie memainkan gitar, oud, atau stand up comedy Arab yang tidak saya pahami.

Pagi tadi saya mengunjungi sebuah kafe dekat stasiun kereta, duduk lama dengan secangkir kopi arabika. Kopi tadi pagi nampaknya tidak menghasilkan apa-apa selain beberapa paragraf di tulisan ini. Tapi sore ini saya mulai berandai-andai, jika saja tadi pagi kopinya kuteguk sambil ngobrol denganmu,  mungkin sore ini yang kutulis bukan soal kenangan kafe-kafe, tapi soal manisnya senyummu yang membuatku lupa pahitnya kopi. Duh halu. 

Kamis, 25 Maret 2021.     

Komentar