Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Orang Tua yang Berbakti kepada Anaknya


Tepat di hari kemarin, kalender nasional kita punya agenda Hari Anak Nasional. Ada banyak berita, informasi, kegiatan, juga renungan yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk menyikapi peringatan tersebut. Berdasarkan pembacaan di sosial media, saya menemukan satu benang merah bahwa orang tua menjadi pondasi utama bagi kehidupan seorang anak. Sehebat apapun lingkungan yang ditinggali seorang anak, orang tua tetap menjadi pondasi dasar yang akan menjadi titik berangkat tumbuh kembang anak. Tidak berlebihan jika kita bilang, orang tua punya tanggung jawab yang sangat besar terhadap kehidupan seorang anak. Karenanya, pernahkah Anda mendengar istilah orang tua yang berbakti kepada anaknya?  

Dulu saya tidak tahu ada istilah itu, sampai suatu hari ketika saya duduk di suatu majelis, salah satu guru saya, Dr. Humaidah Abd Aziz, mengatakan bahwa orang tua itu harus berbakti kepada anak, sebagaimana anak harus berbakti kepada orang tuanya. Tapi bakti orang tua itu bagaimana? 

Ternyata, bakti orang tua terhadap anak adalah perjalanan yang panjang dan menarik untuk dibahas. Mengapa? Karena langkah pertama dari baktinya orang tua terhadap anaknya adalah dari sejak seseorang memilih calon pasangan hidup. Waktu dulu Anda yang bapak-bapak masih bujang pasti ada proses seleksi calon istri, kira-kira perempuan yang mana nih yang cocok buat jadi ibu dari anak-anak kelak. Begitupun ketika Anda yang ibu-ibu masih gadis, pasti pilih-pilih laki mana nih yang cocok buat jadi calon ayah bagi anak-anak. Nah, proses memilih calon ibu atau calon ayah itulah yang menurut Dr. Humaidah sebagai langkah pertama baktinya orang tua terhadap anak. Sederhananya, untuk membesarkan sesuatu yang unggul, harus dimulai dari sesuatu yang unggul juga. 

Lalu setelah menemukan calon ibu/ayah yang cocok, menikah, lahir anak, bakti kedua orang tua bagi anaknya adalah memberi nama yang baik. Diriwayatkan pada masa Umar bin Khattab ra. ada seorang ayah yang menyeret putranya untuk dibawa ke hadapan Umar. Orang tua itu mengadukan kelakuan putranya yang tak mau menghormati dan durhaka padanya. Ayah itu bilang, "Mohon nasehati dia, wahai Amirul mukminin!"

Lalu Umar pun menasehati si anak tentang pentingnya berbakti kepada orang tua. Tapi tak disangka-sangka, anak itu bertanya, "Wahai Khalifah! Apakah di samping terdapat perintah anak berbakti kepada orang tua, terdapat juga ajaran orang tua berbakti kepada anaknya?"

Umar menjawab, "Ya, benar ada! Seharusnya seorang ayah menyenangkan dan mencukupi nafkah istri sekaligus ibu dari putra-putrinya, memberikan nama yang baik kepada putra-putrinya, serta mengajari putra-putrinya Alquran dan ajaran agama lainnya."

Mendengar jawaban itu, si anak membalas, "Jika demikian, bagaimana aku berbakti kepada ayahku? Demi Allah, ayahku tak sayang kepada ibuku yang diperlakukan tak ubahnya seorang hamba sahaya. Sekali-kalinya dia mengeluarkan uang untuk ibuku, adalah sebanyak 400 dirham untuk menebus ibuku sewaktu dulu masih jadi hamba. Dia juga tak menamaiku dengan nama yang baik: Aku dinamai ayahku dengan nama ‘Juala’ (Jadian). Dia juga tak mengajariku mengaji, satu ayat pun!"

Seketika itu Umar bin Khattab berpaling, matanya memandang tajam ke arah orang tua anak itu, sambil berkata: "Kalau begitu bukan anakmu yang durhaka, tetapi kamulah orang tua durhaka!"

Si anak pun berganti nama sejak saat itu dengan nama yang lebih baik. Sebab sebagaimana kita tahu, nama itu adalah doa bagi pemiliknya. Bahkan sering kita dapati anak-anak sekarang namanya makin hari makin canggih, kayanya bukan hanya satu doa yang ada di nama anaknya, tapi berbagai doa dari aneka bahasa dan bangsa dikolaborasikan. 

Hal ketiga sebagai wujud baktinya orang tua terhadap anak adalah memberi nafkah yang halal bagi anak. Air yang diminum, makanan yang dicerna, rumah yang ditinggali, orang tua seyogyanya harus memastikan bahwa semuanya bersumber dari rizki yang halal. Halal cara dapatnya, halal cara olahnya. Karena berkah sehat itu hanya datang kepada raga yang tersusun dari hal-hal halal, dan ciri dari rizki yang berkah adalah yang membuat kita tidak malas-malasan untuk berbuat kebaikan. 

Hal berikutnya yang juga menjadi bakti bagi orang tua terhadap anak adalah, orang tua harus memberikan pendidikan yang baik bagi anaknya. Termasuk yang menjadi top list adalah orang tua harus mengenalkan Allah dan Rasulullah kepada anak sejak dini. Anak-anak sekarang banyak yang sejak kecil cita-citanya ingin jadi orang terkenal, jadi Youtuber, jadi selebriti, nah tugas kita sebagai orang tua jangan lupa untuk mengingatkan anak-anak kita bahwa semakin terkenal seseorang, tanggung jawabnya untuk mengenalkan Allah dan Rasulullah semakin besar pula. 

Urusan pendidikan ini bisa jadi urusan paling penting yang harus jadi perhatian orang tua. Apalagi jika kita melihat jauh ke depan, investasi terbesar bangsa kita ada pada manusianya. Negeri kita di masa depan akan ditentukan oleh pendidikan yang dieyam oleh anak-anak kita hari ini. Maka sebagai warga negara, sebagai generasi muslim, sebagai orang tua yang berbakti kepada anaknya, kita sudah seharusnya memberikan pendidikan terbaik bagi anak. Pendidikan akhlaknya, pendidikan karakternya, ilmu agamanya, eksaknya, bahasanya, pendidikan sosialnya, semuanya harus diperhatikan. 

Zaman semodern sekarang ini, mungkin kita pernah dengar cibiran, buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya juga jadi ibu rumah tangga. Pernah denger gak? Nah, perlu kita balikin tuh. Ibu rumah tangga yang berpendidikan dan tidak berpendidikan itu beda. Cara mendidik anak pasti beda, cara merawat anak pasti beda. Cara ngajak belajar anak dari seorang ibu yang belajar ilmu parenting dan ibu yang gak pernah belajar parenting pasti beda, dan hasilnya pun pasti beda. Sebagaimana kita tahu, Ibu adalah sekolah pertamanya anak. Maka yang namanya sekolah, ya harus bagus kan. Nah, kita bisa kembali lagi ke poin pertama tadi, kenapa seseorang harus mencari calon ibu atau calon ayah terbaik bagi calon anak-anaknya, karena orang tua akan menjadi sekolah seumur hidup bagi anaknya.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dalam kitab "Tuhfat al-Maudud" pernah berkata: "Barangsiapa menyia-nyiakan pendidikan yang berguna untuk masa depan anaknya dan putra-putrinya dibiarkan begitu saja, maka sungguh dia menjadi orang tua yang paling merugi. Kebanyakan anak menjadi rusak moralitasnya disebabkan faktor orang tua yang menyia-nyiakan pendidikan anaknya. Akibatnya anak itu tak berkembang akal pikirannya dan tak mendatangkan manfaat di masa depannya untuk kedua orangtuanya."

Ada banyak hal lain yang bisa dilakukan orang tua sebagai bentuk baktinya kepada anak. Tentu masih banyak hal lainnya yang juga disebutkan oleh banyak ulama. Ada yang menambahkan poin-poin di atas sengan tambahan kewajiban lain, seperti tidak membanding-bandingkan anak dengan yang lainnya, tidak merendahkan anak, harus  membahagiakan masa kecilnya, dan sebagainya.

Tapi kiranya itu saja yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Jika ada kebaikan dari apa yang saya sampaikan kali ini, semoga bisa diambil manfaatnya yang mudah-mudahan bisa melahirkan lebih banyak kebaikan di kemudian hari. 

Sebagai penutup, mari kita sama-sama berdoa semoga kita semua diberi rizki anak-anak yang soleh, termasuk kitanya sendiri semoga jadi anak soleh bagi orang tua kita, dan semoga senantiasa diberi ilmu yang bermanfaat dan bisa diamalkan.

ربي اجعلنا مقيم الصلاة ومن ذريتنا ربنا وتقبل دعاء. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, والحمد لله رب العالمين. 

_____________________________

Materi ini disampaikan dalam acara silaturahmi dan pengajian bersama Guru dan Orang Tua siswa kelas 8 SMPS Fullday Al-Muhajirin Purwakarta, Sabtu, 24 Juli 2021.


Komentar

Posting Komentar