Turats: Mengungkit Masa Lalu, Menerka Masa Depan

Kegiatan saya di hari Minggu malam ini adalah mengikuti Webinar Sejarah Perkembangan Karya Intelektual (turats) Islam di Nusantara yang diadakan Kampus Sanad. Webinar ini dinarasumberi oleh Ahmad Ginanjar Sya'ban, atau dulu saya 'diajari' untuk memanggilnya dengan nama Kang Aceng. Beliau seorang dosen, peneliti, filolog, seorang pro yang nampaknya sudah tertasbih sebagai seseorang yang tidak lengkap kita membicarakan turats nusantara jika tanpa kehadirannya.  Webinar ini dimulai pada pukul 19.15 sampai 20.30-an lebih sedikit. Dalam durasi yang singkat itu, ada banyak uraian panjang yang saya kira bisa menjadi bab-bab tersendiri sebagai materi webinar tersendiri. Bayangkan, yang kita bicarakan adalah sejarah panjang dunia manuskrip dari abad entah kapan (dalam kenusantaraan mungkin dari abad 16 atau 17-an) sampai masa kini, dengan berbagai dinamikanya tidak mungkin bisa dibahas paripurna dalam waktu satu jam. Tapi sebagai memoar, izinkan saya mencatat apa yang saya tangkap d

Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku


Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yang bisa didiskusikan? Percakapan yang seharusnya berjalan sebagai proses bertukar pikiran, nyatanya jadi monolog satu arah, layaknya guru di depan murid yang belum tahu apa-apa. 

Kalau aku jadi mentornya, pasti udah kesel sendiri. Wes angel wes. Pada gak baca buku (yang di minggu sebelumnya disepakati harus baca buku dalam seminggu), pada off cam, lempar pertanyaan tapi sedikit yang nangkap, dan sebagainya. Ketika kamu pernah ada di posisi sebagai pembicara dalam forum meeting online dan audiens kamu pada off cam, atau pas ditanya tiba-tiba pura-pura gak denger dengan alasan sinyal susah atau suara putus-putus, you know exactly how it feels! Kita kaya ngomong sama tembok. 

Terlepas dari soal kondisi itu, mari kita buat catatan tentang apa yang saya dapat dari pertemuan kemarin. 

Ron Ashrovy selaku mentor memberikan materi soal Cancelling Recoil. Ide ini buat saya mirip-mirip dengan pesan yang disampaikan buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Kita dipandu untuk berani bilang tidak pada hal-hal yang tidak penting, berani menolak pikiran-pikiran yang sifatnya hanya datang sebagai gangguan, tidak peduli pada pendapat orang lain yang tidak konstruktif, dan sebagainya. Irisan yang sama juga banyak ditemukan dalam obrolan-obrolan seputar minimalisme, soal seni bagaimana mengurangi sebanyak mungkin potensi yang bisa mendistraksi kita ketika melakukan sesuatu. Cancelling Recoil versi Ron Ashrovy ini tentu saja menggiring kita untuk berani menjauhkan diri dari gangguan-gangguan supaya mau fokus baca buku. Misalnya dengan mengatur waktu baca, menjauhkan handphone, mematikan notifikasi aplikasi, tidak menyimpan aplikasi yang sering dikunjungi di layar utama, dan tentu saja yang paling utama dalam membaca buku adalah harus memaksakan diri untuk membaca. Males, tentu saja ada. Tapi alasan akan selalu ada kalau tidak dipaksakan. Alasan sibuk ini, sibuk itu, kalau males mah ya males aja gak perlu pakai alasan apapun. Nah bagaimana caranya supaya terpaksa gak males? Versinya Kak Ron, begitu orang-orang memanggilnya, dimulai dari pikiran sendiri. Kontrol dari dalam, berani menolak gangguan-gangguan yang datang dalam imajinasi, dan sebagainya.



Setiap orang mungkin punya treatment yang berbeda-beda bagaimana cara ia mengatasi malas dalam proses membaca buku. Ada yang memotivasi dirinya supaya tidak betah-betah jadi orang bodoh, ada yang mendorong dirinya karena motivasi untuk jadi seorang pemimpin sukses harus rajin baca, ada yang terpaksa baca buku karena ia merasa menemukan penghiburan, dan sebagainya. Lisa Bu dalam forum TedX "How books can open your mind?" bilang bahwa membaca buku bagi dirinya seperti memiliki banyak role model, ia merasa ketemu banyak orang tua yang mengajarkan hal yang berbeda-beda, baginya buku juga menjadi media bisa berkomunikasi dengan orang-orang lintas zaman dan lintas generasi. Tapi apakah kenikmatan yang dirasakan Lisa Bu itu juga bisa dirasakan oleh kita juga? Untuk sampai ke level nikmat itu tidak instan, yang nampaknya proses menuju ke sana masih belum kelihatan di grup Reading Enthusiast yang saya ikuti.

Hal lain yang saya ingat dari materi pertemuan kemarin adalah logika dan emosi. Pikiran kita selogis apapun akan lebih mudah mengingat hal-hal yang di dalamnya ada keterlibatan emosi. Misalnya dalam memori penglihatan. Ada kenangan-kenangan yang pernah dilihat yang sampai sekarang masih teringat. Saya pribadi misalnya, masih bisa mereka ulang bagaimana mata saya melihat rumah sendiri ketika akan mobil yang saya kendarai akan berangkat ke bandara mau ke Cairo. Sekarang saya bisa tiap hari liat rumah itu, tapi tatapan yang saya rasa pada saat itu tersaji dalam kemasan yang beda di pikiran saya. Ada juga ingatan yang terekam pendengaran, indera peraba, rasa makanan, aroma parfum, dan sebagainya. Menurut Kak Ron, godaan yang datang ketika kita malas membaca buku bisa jadi dalam bentuk pikiran, bisa jadi dalam bentuk emosi. Jika godaannya hanya sebatas pikiran, cara menepisnya lebih mudah. Lagi baca buku tiba-tiba ada tukang bakso dan kondisi perut lagi gak lapar-lapar amat, ya udah, skip aja. Tapi ketika lagi baca buku tiba-tiba ada anak nangis dan pikiran kita gak tegaan untuk menelantarkannya, biasanya akan lebih sulit dihadang godaannya. 

Cancelling Recoil harusnya bisa memandu kita agar bisa membedakan mana distraksi yang masuk emosi dan mana yang cuma sebatas pikiran. Juga memandu kita bagaimana cara melogikana emosi dan mungkin mengemosikan logika. 

Di bagian terakhir pertemuan itu, ada sesi break out untuk ngobrol satu sama lain dengan pertanyaan-pertanyaan yang disediakan. Pertanyaan yang menurut saya cocok buat deep talk dengan pasangan. Lumayan lah buat referensi nge-date, atau mungkin pedekate. 

15 Oktober 2021.



Komentar