Dear Ex-Isro …

  Hello, Al-Isro!  How’s life? Tiap liat Pak Tara nyetatus foto kalian, atau mamah kalian bikin status, rasanya saya masih Walas kalian. Kaya belum nerima aja kenyataan bahwa kita gak lagi bersama. Padahal setahun kemarin, pagi siang malam hape selalu rame notif entah dari kalian, entah dari orang tua kalian. Dari perkara Birul nanyain sekolah pake seragam apa, Sam nanya daring apa luring, sampe urusan gak penting dari Rai yang pertanyaannya suka absurd. Sementara sekarang, saya nyaris belum kenal kelas baru yang saya walikelasi, baik anak-anaknya maupun orang tuanya. Jadinya belum ada titik temu mau ngobrol apa atau bercanda apa sama kelas sekarang. Kondisi ini rasanya kaya hubungan yang dipaksa putus pas lagi sayang-sayangnya, lalu tiba-tiba dijodohin sama orang baru yang belum kenal. Statusnya sama orang baru, tapi hatinya masih sama orang lama. Aduduh …  Gini nih kalo udah putus tapi masih sayang, susah move on. Tiap liat Fachri, Davi, Otir ngumpul, bawaannya pengen motoin. Tiap li

Kaidah cinta agar jangan berputus asa


 Kaidah Cinta No. 8 dari Buku Qawaaidul 'Isyq al-Arba'uun (40 Kaidah Cinta) karya Elif Şafak:

مهما حدث في حياتك ومهما بدت من الأشياء مزعجة فلا تدخل ربوع اليأس. وحتى لو ظلت جميع الأبواب موصدة، فإن الله سيفتح دربا جديدا لك. احمد ربك! من السهل عليك أن تحمد الله عندما يكون كل شئ على ما يرام. فالصوفي لا يحمد الله على ما منحه إياه فحسب، بل يحمده أيضا على كل ما حرمه منه.

Apapun yang terjadi dalam hidupmu dan tak peduli semengganggu apapun itu, jangan sampai terjerumus pada keputusasaan. Bahkan jika kamu merasa semua pintu sudah tertutup, Allah akan membukakan pintu baru untukmu. Pujilah Tuhanmu! Sangat mudah bagimu untuk memuji Allah ketika semuanya baik-baik saja. Seorang sufi tidak hanya menyembah Allah hanya atas nikmat yang Tuhan berikan padanya, tapi juga atas apa yang terhalang baginya.

Dalam hidup manusia terdapat dua hal yang sudah menjadi hukum alam, ada yusrun (kemudahan, kesenangan), ada 'usrun (kesulitan, ketidakmudahan). Dua hal ini merupakan manifestasi dari penciptaan Allah atas makhluk yang berpasang-pasangan. Ada siang-malam, basah-kering, langit-bumi, laki-perempuan, kekurangan-kecukupan, dan sebagainya. Kemudahan dan kesulitan ini kerap kali menjadi dua hal yang tidak lepas dari kehidupan manusia dalam dimensi waktu manapun. Yang perlu dititikberatkan adalah bahwa kita harus melihat dua hal ini sebagai suatu musibah. Kesenangan berupa nikmat adalah musibah, begitupun kesulitan hidup juga sebagai musibah.

Kita nampaknya perlu sepakat dengan ungkapan kaidah di atas bahwa memuji dan menyembah Tuhan ketika segalanya baik-baik saja terasa lebih mudah dibanding ketika kita dalam kondisi sulit. Kesulitan yang dihadapi seseorang tak jarang mendorongnya pada jurang keputusasaan, mendorong pada pencarian jalan-jalan alternatif yang tidak dihalalkan agama, bahkan tak sekali dua kali kita dengar berita seseorang sampai mengakhiri hidupnya karena putus asa. 

Kaidah cinta di atas mengingatkan kita bahwa jika kita beranggapan sebuah masalah punya lima pintu solusi dan kita merasa kelima pintu itu sudah tertutup, maka kita harus tetap yakin pada Allah, tetaplah memujinya, karena Allah punya kuasa dan kehendak untuk menghadirkan pintu keenam untuk kita. Tak peduli seberapa tidak logisnya cara yang Allah hadirkan, solusi dan kemudahan dari setiap kesulitan akan Allah hadirkan baginya hambaNya yang tidak berputus asa. 

Sebagaimana firmanNya dalam Surat al-Insyirah ayat 5-6:

 فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا (5) اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏ (6)

Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan (5) sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. (6)

Jika diperhatikan dengan seksama, kata ma'a pada ayat tersebut punya makna dan, beserta, atau setelah. Jika diartikan dan, maka setiap kesulitan akan datang berbarengan dengan solusinya. Jika diartikan setelah, maka solusi itu akan datang berurutan tidak berbarengan tapi tanpa jeda yang lama. Merujuk pada terjemahan dan tafsiran manapun, yang perlu digarisbawahi adalah keyakinan kita pada Allah bahwa kemudahan itu akan selalu datang bagi setiap kesulitan yang menghadang.

Jangan sampai kesulitan dan kemudahan yang datang kepada kita justru malah menjadi penentu tunggal kondisi keimanan kita di hadapan Tuhan. Kita bisa bercermin pada kondisi masayarakat yang digambarkan Allah dalam Alquran surat Al-Fajr ayat 15-16:

 فَاَمَّا الۡاِنۡسَانُ اِذَا مَا ابۡتَلٰٮهُ رَبُّهٗ فَاَكۡرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗ ۙ فَيَقُوۡلُ رَبِّىۡۤ اَكۡرَمَنِؕ‏

Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku."

وَاَمَّاۤ اِذَا مَا ابۡتَلٰٮهُ فَقَدَرَ عَلَيۡهِ رِزۡقَهٗ فَيَقُوۡلُ رَبِّىۡۤ اَهَانَنِ‌ۚ

Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku."

Satu hal menarik yang bisa kita lihat dalam dua ayat tersebut, konteks nikmat/kesenangan dan kesulitan sama-sama menggunakan term Ibtila alias ujian. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak selalu kenikmatan yang dirasakan oleh manusia akan menjadikannya semakin dekat dengan Zat Pemberi Rizki, tapi mungkin saja menjauhkannya dari ketaatan dan kebaikan. 

Tidak bermaksud memukul rata satu fenomena, tapi memang begitulah jamaknya manusia akan lebih taat dan sadar akan besarnya kebutuhan pada Tuhan ketika dalam kondisi sulit, bukan dalam kondisi nikmat. Jika kita lihat bagaimana ungkapan penyair Ibn Farid dalam salah satu puisinya:

عذِّبْ بما شئتَ غيرَ البعدِ عنكَ تجدْ # أوفى مُحِبٍ، بما يُرْضيكَ مُبْتَهِجِ

Siksa aku sekehendakmu jika itu membuatku tak jauh dariMu. Akan Kau dapati pecinta paling sejati dengan segala yang menyenangkanMu.

Seorang Ibn Farid punya keberanian untuk mengatakan ungkapan di atas karena satu kesadaran bahwa dalam kondisi diujilah, ia merasa selalu dekat dengan Tuhannya. Bahkan dalam kondisi diuji pula, seorang hamba akan melakukan banyak hal yang 'menyenangkan Tuhan', yang mana hal-hal tersebut belum tentu terlaksana jika dalam kondisi bergelimang kenikmatan. Sebagai contoh, saat kita punya keinginan atau kebutuhan tertentu pada Allah, tidak hanya perkara wajib kita lakoni, tapi juga hal-hal sunnah pun dilakukan. Salat tahajud, duha, hajat, witir, puasa sunnah, sedekah, infak, dan banyak kebaikan lainnya sering kali dilakukan dalam rangka merayu Tuhan. Apakah rayuan-rayuan itu juga kerap dilakukan jika dalam kondisi segalanya baik-baik saja? 

Semoga kita semua senantiasa menjadi hamba yang bersyukur dan memuji Allah dalam kondisi apapun, dan semoga kondisi apapun yang kita hadapi baik itu nikmat maupun ujian, senantiasa membuat kita semakin sadar siapa diri kita di hadapan Allah dan membuat kita menjadi hambaNya yang pandai bersyukur. 

---------------------

Materi ini disampaikan dalam Pengajian Mingguan Guru dan Staf SMP Fullday Al-Muhajirin Purwakarta, Jumat, 21 Januari 2022.

 

 

Komentar