Dear Ex-Isro …

  Hello, Al-Isro!  How’s life? Tiap liat Pak Tara nyetatus foto kalian, atau mamah kalian bikin status, rasanya saya masih Walas kalian. Kaya belum nerima aja kenyataan bahwa kita gak lagi bersama. Padahal setahun kemarin, pagi siang malam hape selalu rame notif entah dari kalian, entah dari orang tua kalian. Dari perkara Birul nanyain sekolah pake seragam apa, Sam nanya daring apa luring, sampe urusan gak penting dari Rai yang pertanyaannya suka absurd. Sementara sekarang, saya nyaris belum kenal kelas baru yang saya walikelasi, baik anak-anaknya maupun orang tuanya. Jadinya belum ada titik temu mau ngobrol apa atau bercanda apa sama kelas sekarang. Kondisi ini rasanya kaya hubungan yang dipaksa putus pas lagi sayang-sayangnya, lalu tiba-tiba dijodohin sama orang baru yang belum kenal. Statusnya sama orang baru, tapi hatinya masih sama orang lama. Aduduh …  Gini nih kalo udah putus tapi masih sayang, susah move on. Tiap liat Fachri, Davi, Otir ngumpul, bawaannya pengen motoin. Tiap li

9 Latihan untuk Meningkatkan Kualitas Tulisan



Seorang penulis Brittiany Cahoon mengibaratkan proses menulis itu seperti mengasuh anak-anak. Kadang kala kita menyukai anak-anak sepanjang waktu, tapi ada kalanya mengurus anak-anak justru melelahkan dan membosankan, sampai pada titik kita butuh waktu untuk istirahat dan melupakan anak-anak dari kehidupan kita untuk sesaat. Untuk menghindari kebosanan dan kejenuhan dalam proses menulis, ada beberapa latihan yang bisa kita lakukan agar kita punya pendekatan yang baru dan segar ketika melakukan kegiatan menulis, baik untuk kepenulisan fiksi maupun non-fiksi.

1. Menulis bebas

Cara ini bisa dibilang sebagai cara paling populer untuk melatih kemampuan menulis. Cukup buka dokumen baru di Ms. Word, atau kertas kosong, atau catatan di ponsel, tarik napas, lalu tuliskan apa saja yang sedang terlintas di pikiran. Sebagai tips, gunakan seluruh panca indera untuk memulainya. Misalnya, kita bisa mulai menuliskan sesuatu yang terdengar sedetail mungkin, lalu yang terlihat, teraba, terasa, tercium, dan sebagainya. Panca indera bisa membantu kita memandu apa saja yang hendak dituliskan ketika kita hendak mendeskripsikan sesuatu.

2. Mulai dari yang paling dekat

Pikirkan sesuatu yang sedang kamu minati, seperti hobi, lagu kesukaan, olah raga favorit, makanan terenak, lalu kamu tuliskan apapun yang kamu tahu soal itu. Apa yang kamu rasa soal itu, kenapa kamu suka soal itu, apa kelebihannya, apa yang membuatnya beda dari yang lain, dan sebagainya. Kadang kala, menulis sesuatu yang kita sukai akan lebih mengalir dan lebih "gue banget" dibanding menuliskan hal-hal yang jauh dari jangkauan personal. Tuliskan dan deskripsikan apapun yang kamu suka meski hanya satu paragraf. Latihan ini bisa menyegarkan pikiran kita ketika akan menulis topik lain yang mungkin sedang buntu dan belum diteruskan. 

3. Pertajam gergaji

Sesuatu yang saya suka ketika saya ngerasa buntu dan gak tau harus nulis apa lagi adalah dengan cara membaca tulisan penulis lain, khususnya tulisan yang punya kesamaan topik, tema, gaya, atau format dengan tulisan yang sedang digarap. Jika kamu sedang menulis tulisan fiksi fantasi, cobalah baca Harry Potter, Lord of The Rings, atau beberapa novel Tere Liye yang mengangkat tema fantasi. Jika kamu sedang menulis biografi, cobalah tengok biografi lain yang sudah ada yang mengisahkan kehidupan tokoh politik, pendidikan, agama, aktor, dll. "Kabur" sejenak ke dalam karya orang lain akan membantu menyantaikan pikiran kita, dan memberi penyegaran baru bagi tulisan kita.

4. Gunakan musik

Menulis itu seperti proses memindahkan emosi penulis ke dalam bentuk tulisan. Tulisan yang ditulis seorang penulis seyogyanya harus bisa mewakili emosi yang sedang dirasakan penulisnya, sehingga pembaca bisa ikut hanyut dan merasakan apa yang penulis rasakan. Cobalah nyalakan musik atau lagu yang punya keterkaitan cerita, suasana, atau kenangan dengan emosi yang sedang dibangun penulis pada tulisannya. Cobalah buka Joox, Spotify, Youtube, Soundcloud, atau apapun yang mungkin saja bisa memberimu inspirasi.

5. Kata dan Imajinasi 

Pilihlah satu kata benda, satu kata kerja, dan satu kata sifat. Buatlah susunan seacak mungkin dari tiga kata tersebut, lalu buat cerita yang memuat tiga kata tersebut. Latihan ini bisa membantu kita meliarkan imajinasi. Misalnya kita pilih kata 'kucing', 'memarahi', dan 'senang'. Kira-kira tiga kata itu bisa jadi cerita apa ya?

6. Jadi penyadap

Hal ini memang bukan hal yang baik untuk dilakukan, tapi cukup berguna untuk melatih kemampuan menulis. Jika kamu kesulitan menulis dialog antar karakter yang natural dan agar terkesan tidak dibuat-buat, cobalah duduk di dekat orang yang sedang mengobrol. Di taman, di angkot, di kafe, di manapun yang sekiranya ada orang yang mengobrol, cobalah untuk dengarkan dan cerna bagaimana pola dialog yang mereka lakukan. Hal ini akan memperkaya pola penulisan kita agar tahu bagaimana orang berdialog di dunia nyata, sehingga ketika membuat dialog dalam bentuk tulisan, pembaca akan merasakan hal yang natural dan apa adanya.

7. Orang, tempat, kejadian

Jika kamu sedang punya ide baru untuk dituliskan, latihan ini akan sangat berguna. Ambillah kertas kosong dan buat dua garis sejajar dan satu garis tengah sehingga membuat tiga kolom.. Di kolom pertama, tuliskan jenis-jenis karakter orang yang ada di pikiranmu. Misalnya polisi, kakek tua, guru, anak kecil, pangeran, dll. Lalu pikirkan beragam jenis tempat untuk ditulis di kolom selanjutnya. Pasar, sekolah, rumah sakit, kantor, pengadilan, kebun, laut, dll. Di kolom terakhir, tuliskan kejadian yang menunjukkan waktu spesifik. Misalnya Perang Diponogoro tahun 1900, kemerdekaan Indonesia 1945, Pemilu Jokowi 2014, Konser BTS 2020, dll. Cobalah kombinasikan antara tokoh, tempat, dan waktu kejadian itu untuk membuat satu cerita. Misalnya petani di pasar pada masa kemerdekaan Indonesia. Dari kombinasi itu, kita bisa mulai mengarang cerita.

8. Riset kecil-kecilan

Pilih satu istilah random yang asing yang menurutmu baru terdengar. Misalnya istilah arkais (bahasa lama yang sudah tidak dipakai) atau istilah yang tidak umum dipakai. Seperti kata arunika, patrikor, senandika, kulacino, African Bush, American Dream, Arab Spring, dll. Bisa juga cari istilah-istilah yang spesifik dalam keilmuan tertentu, misalnya istilah-istilah yang hanya ada di dunia bisnis, politik, filsafat, agama, dan lain-lain. Buka kamus, buka wikipedia, buka referensi apapun untuk mencari tahu makna dari sitilah-istilah tersebut. Wawasan baru ini akan sangat berguna untuk memperkaya kualitas tulisan kita.

9. Sudut pandang baru

Pilih satu genre atau sudut pandang yang sebelumnya belum pernah kamu pilih, dan tuliskan cerita pendek dengan sudut pandang tersebut. Jika kamu biasanya menggunakan sudut pandang orang ketiga, cobalah gunakan sudut pandang orang pertama. Jika kamu biasanya menulis fiksi, cobalah untuk menulis artikel non fiksi. Jika normalnya kamu menulis soal kisah romantis, cobalah untuk menuliskan kisah kriminal dan kejahatan. Keluar dari zona nyaman akan membawamu pada inspirasi baru dan menambah perspektif.

Setelah tahu latihan-latihan ini, kamu mau coba yang mana dulu?
Selamat menulis.    

Komentar