Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Perundungan dan Hal-Hal yang Terjadi di Sekitar Kita

Salah satu hal yang mengingatkan kembali pada zaman-zaman saya waktu sekolah dulu adalah fenomena perundungan. Di zaman manapun, di sekolah sebagus apapun, perundungan adalah masalah klasik yang nampaknya selalu hadir di dunianya anak-anak remaja baru meletek. Bahkan dalam lingkungan sealim pesantren pun, perundungan tak bisa dianggap absen. 
Jika ditanya bagian mana dalam hidup saya yang ingin saya ulangi, jawabannya adalah bagian mana saja boleh diulangi asal jangan masa-masa sekolah. Masa-masa SD dan SMP adalah kenangan tidak menyenangkan, nampaknya ingatan saya hanya soal perundungan. Sewaktu SD, saya gak bisa dan gak suka main bola. Lalu teman-teman saya waktu itu mem-bully saya dengan sebutan banci, dengan sebutan-sebutan senada yang membuat saya merasa sekolah bukan tempat yang aman dan nyaman untuk belajar dan bermain. Ironisnya, saya tinggal di lingkungan yang orang-orang dewasanya tidak punya kepekaan soal kondisi itu. Tidak ada yang menenangkan, tidak ada yang menasehati, tidak ada yang sadar bahwa kondisi demikian adalah tidak baik-baik saja. Di masa SMP, notabene saya sekolah di lingkungan pesantren yang kaya akan nilai-nilai agama dan budi pekerti, perundungan tetap ada, bahkan lebih mengerikan. Meskipun fisik saya tidak ada yang terluka satu pun, namun ingatan soal masa-masa itu terasa bagai luka yang menganga, bahkan mungkin sampai sekarang. Sedewasa apapun kita atau saya hari ini, selama apapun waktu berlalu, jauh dalam bawah sadar saya tetap ada perasaan marah dan kesal pada orang-orang di masa lalu yang menganggap perundungan sebagai hal yang biasa. Mungkin betul bahwa orang-orang yang dulu merundung saya, hari ini punya sikap menghormati dan menghargai saya, tapi jauh dalam ingatan saya, tetap ada rasa marah yang tidak mudah untuk dilupakan bahwa orang ini di masa lalu pernah menyakiti saya berulang-ulang, hampir setiap hari.

Lalu datanglah hari ini sebagai masa depan yang dulu tak sepenuhnya terbayangkan. Beberapa kali saya ketemu teman SD dan SMP, teman-teman yang mulutnya kali ini nampak lebih bungkam dan tidak seberani dulu untuk berbicara seenaknya. Oh, ada yang kuli pabrik, ada yang jadi tukang bengkel, ada buruh serabutan, bahkan ada juga yang jadi pengangguran. Apa yang mereka bisa rasakan ketika bertemu saya hari ini? Malu hati! Kadang bahkan seringkali, saya punya "kesombongan" untuk bilang dalam hati, orang yang dulu kamu bully, sekarang sekolahnya sampai luar negeri, sudah tahu ibadah haji, paspornya sudah tiga kali ganti, relasi pertemanannya lebih luas, mainnya bisa lebih jauh dari kamu, lalu hidupmu hari ini, apa kabar?

Cerita serupa juga banyak terjadi di kehidupan kita. Saya masih jauh untuk sampai pada level sukses atau berhasil menjalani hidup, untuk sampai berani melakukan kesombongan. Tapi nyatanya, ada orang yang hari ini punya karir bagus, secara ekonomi jauh lebih mapan, dan seketika orang-orang yang dulu merundungnya tiba-tiba datang dan meminta pekerjaan, meminta bantuan, bahkan ada juga pasien yang berobat ke dokter spesialis yang dulu pernah ia sakiti hatinya. Dunia bekerja setidak terduga itu. Kita gak tahu di masa depan nanti, siapa yang akan menolong kita atau siapa yang akan kita tolong. Maka bersikap baik hari ini kepada siapapun, beretorika agar semua orang merasa nyaman dan aman, tiada lain adalah investasi jangka panjang untuk diri kita sendiri. Dalam bahasa pemasaran ada istilah Return On Investment (ROI), kita melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Kita ngiklan barang supaya mendapatkan pembelian, kita berakhlak baik ke orang lain supaya mendapat perlakuan baik dari orang lain.

Deskripsi itu akan mudah dipahami oleh orang dewasa. Namun apakah akan mudah dipahami juga oleh anak-anak usia SMP?

Perundungan menjadi isu yang akhir-akhir ini hangat di lingkungan saya, di mana saya bekerja di sekolah dengan usia anak-anak remaja yang sedang keur meujeuhna. Perundungan yang terjadi memang bukan berupa fisik, tapi berupa verbal. Berupa ucapan yang justru lebih menyakitkan dari pada fisik. Luka fisik bisa ditangani obat medis, tapi luka batin belum tentu sembuh dengan tetes betadine atau obat tidur. Perundungan di dunia anak-anak SMP dari masa ke masa tidak banyak perubahan. Ada yang mengejek kondisi fisik seperti sebutan si bogel, si tuyul botak, ceuli rebing, bahkan bagian sedihnya ada pula yang mengejek "dasar autis" untuk kondisi anak yang memang butuh perlakuan khusus. Selain soal sebutan, memanggil teman dengan nama orang tuanya adalah tren yang entah kenapa hal semacam itu harus jadi ejekan. Saya pun bertanya-tanya dari mana anak-anak ini bisa saling tahu nama orang tua temannya.

Suatu hari saya memanggil seorang anak yang menurut teman-temannya, ia sering memanggil anak-anak lain dengan nama orang tuanya. Seringnya nama bapaknya. Saya gak paham apa motif dari tindakannya itu, selain asumsi saya sendiri bahwa ia kangen sosok bapaknya sendiri karena tumbuh besar sebagai anak dengan kondisi orang tua terpisah. Namun terlepas dari apakah seorang anak dalam kondisi broken home atau bukan, ejek-ejekan nama orang tua bisa terjadi kapan saja oleh siapa saja.

Puncak kesedihan kita sebagai manusia dewasa di lingkungan sekolah adalah ketika mendengar seorang anak mengeluh karena dirundung teman-temannya, ia bercerita sambil menangis, lalu dengan singkatnya berpikiran untuk pindah ke sekolah lain. Yang mana, di sekolah lain pun tidak pernah ada jaminan bahwa perundungan tidak pernah ada. Mengatasi korban perundungan memanglah hal yang sulit, namun menurut saya, mengatasi pelaku perundungan jauh lebih sulit. Anak-anak usia SMP dengan kadar pemahaman dan kemampuan memahami dirinya sendiri yang masih terbatas, menjadi satu faktor yang membuat kita harus ekstra sabar dan penuh strategi dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Seberbusa apapun kita bicara soal pentingnya berbuat baik agar juga diperlakukan baik, dunia mereka belum serumit dunia orang dewasa. Segalanya masih dalam jarak pandang sesaat dan minim resiko.

Maka, persoalan perundungan bukan hanya persoalan anak yang bisa tuntas teratasi oleh guru di sekolah, atau orang tua di rumah. Orang tua dan guru perlu bersinergi melakukan langkah-langkah yang membuat anak-anak kita sadar bahwa perundungan adalah bahaya laten yang akibatnya sangat panjang. Saya cenderung menilai bahwa anak-anak dengan kondisi orang tua yang peduli pada perkembangan anaknya, komunikasinya terbangun dengan baik, performanya di sekolah nampak sangat baik dan tidak punya potensi menjadi pelaku perundungan. Saya kira, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, juga anak dan guru menjadi titik fokus yang bisa kita perkuat bersama. Karena dengan alasan apapun, perundungan tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa saja.

Purwakarta, 12 November 2022.

Komentar