Meja Makan Bu Febri

Ketika pertama kali bertemu Bu Febri di kantin basement kantor, Maret 2023 lalu, saya mendapati kesan bahwa ia adalah sosok yang judes, galak, dan dingin. Waktu itu Pak Ario memperkenalkan saya sebagai staf baru, dan responnya nampak biasa saja. Tidak nampak antusias, tidak nampak menyambut, biasa saja. Saat itu ia sedang menikmati menu takjil, kebetulan kami berkenalan di saat acara buka puasa bersama. Tentu saja kudapan takjil lebih menggoda dibanding berkenalan dengan staf baru ini. Setelah basa-basi pendek soal nama panggilan saya, pertanyaan pertamanya menggelegar cepat: “Lu bisa ngedit video, gak? Kalo bisa, nanti bisa bantuin Arya di Pensosbud.” Saya gak tahu jawaban apa yang ia harapkan dengan pertanyaan “bisa ngedit video”, dan saya tidak tahu siapa manusia bernama “Arya” tersebut. Apakah yang dimaksud adalah sebatas cut & trim video , atau editing sebagaimana jika ia melihat konten video Bu Retno Marsudi yang saat itu masih Menteri Luar Negeri. Waktu itu saya belum menjaw...

Refleksi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Modul 2.2 yang sudah dipelajari akhir-akhir ini mempunyai kesan mendalam bagi saya pribadi, utamanya soal bagaimana sisi sosial dan emosional dihadirkan dalam proses pembelajaran.

Facts (Peristiwa)

Setidaknya ada tiga hal yang saya garis bawahi dari modul ini, antara lain:

  1. Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), mencakup kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan membangun relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, atau semua itu disebut juga dengan istilah Lima Kompetensi Sosial Emosional.
  2. Kesadaran penuh dalam proses belajaran (Mindfulness), yaitu perhatian yang dilakukan secara sengaja dan dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Manfaat dari kesadaran penuh ini antara lain dapat membuat kita tidak cepat menjatuhkan vonis dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.
  3. Elemen SAFE (Sequential [Berurutan], Active [Aktif], Focused [Fokus], dan Explicite [Eksplisit]), merupakan serangkaian elemen yang dapat terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan siswa, membuat pembelajaran aktif yang melibatkan murid dalam rangka meningkatkan skill dan sikap baru, fokus pada pengembangan keterampilan sosial emosional, dan dapat tertuju pada pengembangan keterampilan sosial emosional tertentu secara eksplisit.

Feeling (Perasaan)

Saya tetap merasa antusias dalam mengikuti proses ke proses di Modul 2.2 ini. Karena materi ini merupakan salah satu jawaban agar kita bisa mempertimbangkan materi ajar kepada siswa dengan melibatkan aspek sosial dan emosionalnya.

Finding (Pembelajaran)

Ada dua hal penting yang saya pelajari dari modul ini, yaitu tentang pentingnya mengembangkan potensi anak tidak hanya dari sisi kognitifnya saja. Siswa juga perlu dikembangkan aspek sosial dan emosionalnya juga supaya punya sikap yang positif terhadap dirinya sendiri, dapat beradaptasi dengan baik di lingkungannya, memiliki tujuan dan arah hidup, serta mampu mengeksplorasi kemampuan dirinya ke tingkat yang lebih luas.

Hal kedua yang saya temukan adalah bahwa implementasi PSE secara spesifik mengintegrasikan KSE ke dalam praktik pembelajaran di ruang kelas antara guru dan muridnya. PSE mampu mempengaruhi pola pikir siswa tentang persepsi diri, orang lain, dan lingkungannya.

Future (Penerapan)

PSE memberi tahu tentang peluang untuk kita menerapkan teknik STOP di ruang kelas, yaitu Stop (berhenti), Take a deep breath (tarik napas dalam-dalam), Observe (amati), dan Process (lanjutkan). Teknik STOP ini bisa digunakan untuk meringankan beban pikiran para siswa sehingga siswa bisa lebih santai, mengelola dirinya, menata kembali pikiran positif, dan siap untuk melanjutkan aktivitas. 

Komentar