Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Refleksi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Modul 2.2 yang sudah dipelajari akhir-akhir ini mempunyai kesan mendalam bagi saya pribadi, utamanya soal bagaimana sisi sosial dan emosional dihadirkan dalam proses pembelajaran.

Facts (Peristiwa)

Setidaknya ada tiga hal yang saya garis bawahi dari modul ini, antara lain:

  1. Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), mencakup kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan membangun relasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, atau semua itu disebut juga dengan istilah Lima Kompetensi Sosial Emosional.
  2. Kesadaran penuh dalam proses belajaran (Mindfulness), yaitu perhatian yang dilakukan secara sengaja dan dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Manfaat dari kesadaran penuh ini antara lain dapat membuat kita tidak cepat menjatuhkan vonis dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.
  3. Elemen SAFE (Sequential [Berurutan], Active [Aktif], Focused [Fokus], dan Explicite [Eksplisit]), merupakan serangkaian elemen yang dapat terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan siswa, membuat pembelajaran aktif yang melibatkan murid dalam rangka meningkatkan skill dan sikap baru, fokus pada pengembangan keterampilan sosial emosional, dan dapat tertuju pada pengembangan keterampilan sosial emosional tertentu secara eksplisit.

Feeling (Perasaan)

Saya tetap merasa antusias dalam mengikuti proses ke proses di Modul 2.2 ini. Karena materi ini merupakan salah satu jawaban agar kita bisa mempertimbangkan materi ajar kepada siswa dengan melibatkan aspek sosial dan emosionalnya.

Finding (Pembelajaran)

Ada dua hal penting yang saya pelajari dari modul ini, yaitu tentang pentingnya mengembangkan potensi anak tidak hanya dari sisi kognitifnya saja. Siswa juga perlu dikembangkan aspek sosial dan emosionalnya juga supaya punya sikap yang positif terhadap dirinya sendiri, dapat beradaptasi dengan baik di lingkungannya, memiliki tujuan dan arah hidup, serta mampu mengeksplorasi kemampuan dirinya ke tingkat yang lebih luas.

Hal kedua yang saya temukan adalah bahwa implementasi PSE secara spesifik mengintegrasikan KSE ke dalam praktik pembelajaran di ruang kelas antara guru dan muridnya. PSE mampu mempengaruhi pola pikir siswa tentang persepsi diri, orang lain, dan lingkungannya.

Future (Penerapan)

PSE memberi tahu tentang peluang untuk kita menerapkan teknik STOP di ruang kelas, yaitu Stop (berhenti), Take a deep breath (tarik napas dalam-dalam), Observe (amati), dan Process (lanjutkan). Teknik STOP ini bisa digunakan untuk meringankan beban pikiran para siswa sehingga siswa bisa lebih santai, mengelola dirinya, menata kembali pikiran positif, dan siap untuk melanjutkan aktivitas. 

Komentar