Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Dua Tahun Menjadi Guru

Kira-kira beberapa hari menjelang pembagian raport tengah semester, saya “di-briefing” Bu Ai Fitri dalam bentuk simulasi berbicara di depan orang tua siswa. Saya pura-pura jadi Ortu yang mau ngambil raport anaknya, sedangkan Bu Ai jadi wali kelasnya. Saat itu saya mempelajari retorika bagaimana Bu Ai bicara di depan orang tua. Pilihan katanya, caranya merespons, cara menyampaikan hal-hal positif tentang anak, juga cara menyampaikan hal-hal yang butuh peningkatan soal anak. Buat saya, ini hal baru yang butuh latihan dulu.

Bu Ai adalah “emak” bagi guru-guru di sekolah. Usia dan pengalamannya paling banyak, sehingga wajar kalau ia “di-emak-an” oleh banyak guru. Karenanya saya pun seringnya ke Bu Ai untuk belajar cara menghadapi Ortu yang beraneka rupa. Tidak hanya ketika pembagian raport, di kegiatan sehari-hari pun saya sering berkonsultasi soal “seni menghadapi orang tua siswa”. Kebetulan saya bekerja di sekolah yang Ortu siswanya mayoritas proaktif dan sangat terlibat dalam dunia sekolah, bukan tipikal ortunya cuek bebek.

Bu Ai adalah satu dari sekian banyak guru yang membuat wawasan saya makin cerah dalam dua tahun terakhir. Selain Bu Ai, ada juga role model yang menurut saya guru banget. Namanya Bu Naning. Bukan melebih-lebihkan, tapi profesi guru nampaknya sudah mendarah daging di raga Bu Naning. Administrasinya rapi, metode mengajarnya beragam, sepertinya ia sudah tahu bagaimana cara menghadapi anak-anak yang kondisinya berbeda-beda. Bu Naning pernah ngajarin saya cara membuat soal ujian. Kalau selama ini kita berpikir ujian itu susah, ternyata bikin soal ujian jauh lebih susah. Harus mikirin bentuk soal yang variatif, sedikit mengecoh, tapi tidak terlalu mudah. Apalagi di semester lalu, saya ngajar empat mata pelajaran yang berbeda. Artinya harus membuat empat bank soal, masing-masing 50 soal.
“Soal ganda itu gak boleh berujung dengan tanda tanya, Pak, tapi harus seperti kalimat terpotong yang potongannya ada di pilihan a-b-c-d.” Kira-kira begitu kata Bu Naning.



Pertemanan dengan rekan guru ada banyak manfaatnya, baik dalam meningkatkan profesionalitas, maupun kehidupan sosial. Betul kata pepatah, cara terbaik untuk belajar adalah mengajar. Dengan pekerjaan mengajar inilah, saya jadi belajar lagi materi-materi yang sudah lama terlupakan, atau materi yang tidak tahu bagaimana cara mengajarkannya, termasuk materi yang baru saya tahu. Misalnya kita ngajarin anak soal penunjuk waktu dalam bahasa Inggris. Kita sendiri mungkin paham bagaimana cara menunjukkan waktu dalam bahasa Inggris. Tapi untuk membagikan pemahaman itu ke anak-anak, kita perlu belajar dulu metodenya. Toh ternyata, mengajar tak sesederhana yang dulu saya pikirkan. Mengajar harus ada sesi pembukaannya dulu, rangsang dulu siswa dengan pertanyaan atau cerita, materi inti, lalu penutup. Betapa testrukturnya kegiatan mengajar ini. 



Warna-warni dan dinamika ini membuat saya merasa betah di sekolah, dan menjadikan dua tahun terakhir sebagai dua tahun yang padat kenangan. Padahal ketika pertama masuk sekolah ini, saya hanya kenal Kepala Sekolah dan Pak Eko. Sisanya adalah nama-nama asing yang baru saya hafal satu persatu. Mungkin Pak Eko adalah guru yang harus saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya, karena ia banyak memberi info soal budaya kerja di sekolah, sehingga saya bisa beradaptasi dengan mulus.

Pertama kalinya saya jadi guru sekolah ini, 2021 lalu, saya langsung ditunjuk jadi wali kelas. Betapa banyak PR saya sebagai guru baru pada waktu itu. Mulai dari pertama kali kenalan dengan administrasi pembelajaran, metode mengajar, sampai urusan gimana cara ngomong depan Ortu pas bagi raport. Meski sebagian besar keluarga saya berprofesi sebagai guru, saya tidak pernah bercita-cita untuk jadi guru, apalagi guru sekolah. Alasannya sederhana: saya gak bisa ngajar di depan anak-anak. Mengkondisikan anak-anak supaya siap belajar adalah hal yang sampai sekarang masih jadi PR saya. Syuulit. Apalagi jika kita sudah terbiasa ngajar di depan orang dewasa, ngajar di depan anak-anak/remaja butuh ilmu yang lain lagi.

Karenanya dalam banyak waktu, saya sering kali bertanya, apa cara saya mengajar udah bener gitu ya? Kok ada anak yang nilai ujiannya cuma 20/100? Kok ada anak yang tidak antusias? Informasi yang disampaikan ke anak-anak sudah valid gak ya? Apa saya terlalu galak atau terlalu lembek dalam mengajar? Jika saya jadi murid dan ketemu guru macam saya, akankah saya mengerti materi yang disampaikan? Akankah saya menyukai guru ini?

Sampai pada banyak titik, saya menyerah dan ingin ganti profesi karena pertanyaan-pertanyaan itu. Saya memutar ingatan bagaimana dulu guru-guru favorit saya ketika mengajar, dan melihat bagaimana rekan-rekan guru saat ini ketika mengajar. Satu hal yang saya simpulkan bahwa menjadi guru itu tidak sulit, tapi bukan hal yang mudah. Perlu usaha, perlu totalitas, apalagi dengan terminologi guru sekolah sebagai mitra orang tua dalam mendidik anak, maka menjadi guru harus seserius orang tua yang membesarkan seorang anak.

Terlepas dari semua keraguan itu, menjadi guru ada banyak sisi menyenangkannya. Mungkin kata lebih tepat adalah "memuaskan". Saat kita menyampaikan satu hal yang rumit dengan cara sederhana, lalu siswa bisa memahami penjelasan itu dengan baik, kita menemukan kepuasan di sana. Atau saat siswa tidak paham suatu hal, lalu setelah kita jelaskan ia merespon dengan "oh, maksudnya gitu," atau dengan anggukan kecil, momen itu begitu memuaskan. Terlebih jika ada anak yang terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang sama dengan yang pernah kita lakukan, kepuasannya bikin kita alhamdulillah masyaallah tabarakallah. 

Setelah hampir genap dua tahun menjadi guru di sekolah, akhirnya takdir berkata lain. Saya berhenti sejak minggu lalu dengan hati yang sedang betah-betahnya menjadi warga sekolah. Bahkan saya gak mengira ketika melakukan seremoni perpisahan, ternyata ada juga murid yang merasa kehilangan, orang tua siswa yang banyak mendoakan, bahkan tak mengira akan melakukan perpisahan di hadapan banyak guru dan siswa. Sebuah kejutan yang tak pernah terpikirkan.

Saya sampaikan terima kasih untuk bapak Kepala Sekolah, Pak Haji Wawan, untuk rekan-rekan guru dan staf SMP Fullday Al-Muhajirin, untuk anak-anak, untuk orang tua, dan semua orang yang dalam dua tahun terakhir ini membuat hari-hari saya berwarna.

Sampai jumpa di belahan dunia yang lain :)

28 Maret 2023

Komentar