Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Kesan Pertama Tinggal di Amerika


Beberapa hari sebelum berangkat ke Amerika, teman saya, Farid, bilang, “Gimana kalo nanti cape-cape kerja di Amerika, ternyata gajinya UMR Jogja?” Duh, iya juga ya, gimana ya kalo beneran gitu? Saya jadi overthinking menimang-nimang nominal gaji dan biaya hidup.

Apalagi pas hari kedua di sini, saya beli kartu sim hape dan harganya 110$, atau setara 1,6 juta rupiah. Aduh itu gaji guru honorerku menangis melihatnya. 

Dulu waktu saya mau ke Mesir saat di sana musim dingin, Farid bilang bahwa saking dinginnya udara di sana bisa bikin ingus beku, sehingga kita bisa sesak napas karena lubang hidung tersumbat. Bodohnya saya malah ngasih respon, “Iyaa gitu?”.

Sekarang pun saya nampaknya sedang ngasih respon yang sama atas kelakarnya soal kerja di Amerika tapi gaji UMR Jogja. Apa iya gitu ya?

Tapi namanya hidup bukan cuma soal UMR. Ada hal-hal lain yang nampaknya lebih perlu untuk diperjuangkan. Meskipun harus diakui, pindah 'tampian' ke Amerika adalah keputusan besar yang banyak sekali pertimbangannya. Purwakarta sedang hangat-hangatnya sebagai rumah, makanya agak berat juga ninggalin Purwakarta.

Meski cuma kelakar dan heureuy tongkrongan, pernyataan Farid ada benarnya. Biaya hidup yang mahal menjadi culture shock saya di Amerika. Kalau pakai kalkulasi gaji dan biaya hidup di Amerika, padanan UMR Jogja untuk mereka yang hidup di Jogja memang agak mirip-mirip. Amerika kok mahal-mahal sekali ya, sampai-sampai saya heran, kok bisa-bisanya mata uang rupiah diciptakan. Harga langganan transportasi umum sebulan di sini bisa setara dengan harga motor Honda Beat second milik Farid di Purwakarta.

Mungkin karena saya baru tiba, jadinya masih banyak menghitung dan membandingkan harga-harga di sini dengan nominal rupiah. Yang kalau keseringan ngebanding-banding, tiap mau beli sesuatu malah gak jadi. Ada bagusnya juga, sih. Jadinya kita tahu mana yang betulan butuh, mana yang cuma sekadar ingin.

Terlepas dari harga-harga yang di luar nalar itu, saya senang bisa tinggal di sini. Senangnya karena saya bisa ketemu orang-orang baru yang keren-keren dan punya latar belakang berbeda-beda. Beda daerah, beda suku, beda agama, beda keahlian, beda pengalaman, beda cara pandang, yang kesemua itu saya percaya tidak akan saya dapatkan kalo tetap bertahan tinggal di kampung halaman.

Kedua, saya patut senang karena bertemu budaya dan lingkungan baru. Dulu waktu pulang dari Mesir ke Indonesia untuk terakhir kali, saya punya rasa khawatir tidak akan lagi hidup di tanah asing sehingga saya mungkin akan kehilangan kesempatan bertemu budaya baru. Tapi hidup saya saat ini ternyata merupakan jawaban Allah bahwa kekhawatiran itu tidak betul-betul terjadi. Allah kasih lagi kesempatan untuk bertemu tanah baru, budaya baru, pengalaman baru.

Misalnya saya baru tahu bahwa di Washington DC, ganja itu legal dan orang bila ngelinting bebas di mana aja. Awalnya saya ngerasa aneh kalau di jalan mencium bau pahit kaya ketek gak mandi seminggu. Lalu temen saya bilang bahwa itu bukan bau ketek, tapi bau asap marijuana. 

Misal yang lain bahwa restoran berlabel halal ternyata punya harga sedikit lebih mahal dibanding resto yang gak berlabel halal. Mungkin karena harus bayar biaya legalitas, jadinya lebih mahal.

Amerika bagi saya adalah kejutan. Saya ingat betul sewaktu wawancara kerja di Kementerian Luar Negeri, saya ditanya kesiapan kalau sewaktu-waktu ditempatkan di negara-negara konflik semisal Afganistan, Suriah, Lebanon, atau negara antah berantah yang namanya pun baru dengar. Waktu itu si pewawancara bilang, "Anda kan berpengalaman hidup di Mesir, di wilayah yang kriminalitasnya juga cukup tinggi. Enam tahun dan bisa survive. Jadi cocok lah kalau ditempatkan di negara konflik." Ucap si bapak-bapak Kemlu sambil tertawa. Saya juga tertawa dan panik dengan pernyataan itu. Bisa-bisanya ada kesimpulan demikian atas pengalaman saya bertahan hidup di negara berkembang. Kalimat pewawancara itu bikin mental saya awas, jangan-jangan bakal dapet negara konflik nih. Eh ternyata dapet Amerika. Bukan negara berkembang, tapi negara yang di musim ini lagi banyak kembang.

Beberapa minggu ini, teman-teman banyak japri sekadar bertanya kabar, lalu disusul pertanyaan biaya transport, dan pengeluaran harian. Hampir dua minggu ini, kabar saya baik dan pengeluaran harian masih aman. Makanan halal agak sedikit susah, karena meski tinggal deket sama KFC dan McD, tapi dua tempat itu di sini jual daging haram. WC umum di sini gak ada gayungnya, kamar mandi juga gak ada baknya. Harga baju HnM di sini setara dengan harga seporsi makan siang, jadi norak sekali kalau di Indo ada yang nyebut merk itu sebagai brand mewah. Begitu pun dengan harga kopi. Starbuck merupakan kopi termurah, meski di Purwakarta jadi kopi termahal.

Tapi kebanyakan ngopi di bulan ramadan ini gak baik juga. Selain potensial menaikkan asam lambung, ngopi malam-malam malah bikin susah tidur dan memperpanjang masa jetlag. Mungkin setelah ramadan nanti saya akan banyak ngopi dan japri jomblo-jomblo macam Farid cuma untuk bilang bahwa sendirian di Washington ternyata lebih terasa keren dibanding sendirian tapi di Ciseureuh. Chuaaxs.

9 April 2023. 

Komentar