Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Refleksi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik


Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi refleksi pengalaman dan wawasan yang dipelajari dan didapatkan dari Modul 2.3 tentang Coaching. Tulisan ini saya buat sebagai dokumentasi dari pengalaman, gagasan, dan perasaan saya selama mempelajari modul ini. Harapannya bisa menjadi manfaat bagi siapapun yang membacanya, baik untuk diri saya sendiri, maupun untuk orang lain.

Facts (Peristiwa)

Terdapat beberapa aktivitas pembelajaran dalam Modul 2.3, antara lain dimulai dengan menjawab serangkaian pertanyaan pemantik untuk merefleksikan diri bagaimana supervisi di sekolah tempat saya bekerja diterapkan. Di bagian Eksplorasi Konsep, kita belajar tentang perbedaan coaching, mentoring, konseling, fasilitasi, dan training. Secara lebih dalam kita belajar apa itu coaching secara umum dan bagaimana konsep ini diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Di samping itu, kita juga belajar untuk membedakan antara konsep coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sesama guru. Materi ini terkesan menarik karena turut disajikan dalam media video yang dapat mempermudah pemahaman CGP dalam memahami materi yang sedang didiskusikan. 

Kompetensi inti dari Coaching dapat secara mudah dipahami melalui istilah TIRTA. TIRTA merupakan singkatan untuk Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab. Selain lebih mudah dihafal, singkatan ini juga secara independen memiliki makna yang bagus: tirta, air. Harapannya agar konsep ini bisa mengalir seperti air. Komunikasi yang mengalir lancar sampai hilir yang diharapkan. 

Coaching pada hakikatnya bermakna kehadiran penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi pendengar yang baik, dan aktif berpartisipasi dengan memberi tanggapan atau pertanyaan. 

Modul 2.3 juga membahas tentang membuat rencana aksi, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi.

Feelings (Perasaan)

Saya merasa sangat antusias untuk mengikuti kegiatan CGP secara umum, dan mempelajari modul demi modul secara khusus. Terlebih dalam modul ini yang membahas tentang coaching, membuat saya semakin penasaran tentang bagaimana cara menjadi coach yang baik di dalam proses pembelajaran bersama siswa. 

Findings (Pembelajaran)

Modul 2.3 punya muatan bertenaga yang membawa banyak informasi, pengetahuan, dan pengalaman belajar bagaimana menjadi coach yang baik, dan bagaimana supervisi akademik dapat membantu secara langsung dan tidak langsung dalam pengembangan diri sendiri dan rekan sejawat.

Future (Penerapan)

Coaching dinilai sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai dinamika yang terjadi di lingkungan sekolah. Misalnya dalam penanganan anak yang malas belajar, atau potensi diri siswa yang terlambat berkembang, coaching sangat diperlukan oleh semua guru. Dengan mempelajari coaching dengan baik, diharapkan semua guru dapat menjadi coach yang baik bagi para muridnya.


Komentar