Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Muhajirin Merdeka Berdinamika


Kita mesti percaya bahwa masa depan bangsa dan agama kita ada pada manusianya. Karenanya, menyiapkan generasi santri dan pembelajar hari ini adalah satu keharusan yang tidak bisa dibantah. Al-Muhajirin menyadari hal tersebut dalam kiprahnya sebagai lembaga pendidikan Islam kepercayaan publik saat ini. Dalam rangka  menyiapkan kader ulama dan para pemimpin masa depan tersebut, Al-Muhajirin harus ma(mp)u menyiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan sosial, budaya, medan dakwah, dan kemajuan teknologi yang pesat. Kompetensi santri dan para gurunya  harus disiapkan untuk lebih gayut dengan kebutuhan zaman. Link and match dengan tren terkini saja tidaklah cukup, tetapi juga dengan masa depan yang berubah begitu rapid dan masif. 

Al-Muhajirin melalui unit-unitnya dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif, agar para santri  dapat meraih capaian pembelajaran yang mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal serta selalu relevan, sebagaimana banyak digaungkan akhir-akhir ini dalam ranah Kurikulum Merdeka. 

Berbagai perubahan dan dinamika sosio  kultural yang terjadi akhir-akhir ini bisa dijadikan parameter, untuk melihat bagaimana Al-Muhajirin merespon, dan akan ke arah mana mengayunkan langkah.

Di tahun ajaran baru ini, Al-Muhajirin turut menelaah, mengkaji, dan mengadopsi spirit nilai yang terkandung dalam Kurikulum Merdeka, yang tengah hangat diperbincangkan sejak setahun terakhir. Perubahan kurikulum dan adaptasi pendekatan pembelajaran menjadi keniscayaan yang hangat dicanangkan di unit-unit pendidikan formal Al-Muhajriin, mulai dari SD Plus sampai STAI. Serempak hampir di waktu bersamaan, seluruh unit pendidikan melaksanakan Rapat Kerja Tahunan untuk merancang kegiatan pembelajaran, kegiatan kesiswaan, dan strategi-strategi menerjemahkan tataran kognitif menjadi aksi, agar Al-Muhajirin yang saat ini tengah menyambut kedatangan lebih dari seribu santri baru di seluruh unitnya, bisa konsisten menjadi lembaga pendidikan yang sesuai dengan semangat slogan “mengakar ke bumi dan menjulang ke langit”.

Dari panjangnya rangkaian Rapat Kerja di setiap unit di rentang bulan Juni-Juli, tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa Al-Muhajirin sudah banyak melakukan inovasi dan kebijakan program “merdeka” sejak lama, yang secara esensi memiliki ruh nilai yang sama dengan program kurikulum baru saat ini. Al-Muhajirin mampu mencatatkan sejarahnya sendiri sebagai lembaga pendidikan otonom dan fleksibel, sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan santri di lapangan.

Memasuki kalender baru 1444 H, kegiatan Istighosah dan Doa Bersama menjadi pembuka yang baik bagi seluruh warga  Al-Muhajirin untuk bertafakur, bertadabur, bermuhasabah, dan beritikad mempertegas langkah menuju hari-hari baru yang lebih baik.

Peringatan tahun baru hijriah bagi Al-Muhajirin tentu tidak sekadar marak perayaan dan seremonial belaka, tapi justru harus jadi kesempatan untuk mengikrarkan tekad baru dan langkah-langkah kongkret. 

Apalagi jika dibarengi dengan semangat Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77, spirit hijrah bagi Muhajirin sudah sepatutnya menjadi semangat baru untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi diri, merencanakan aksi-aksi perubahan, mengejar ketertinggalan, dan memberikan kontribusi lebih nyata. Sebagaimana hijrahnya Rasulullah dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah, mereka merintis langkah dan kerja keras untuk mencapai kejayaan peradaban. 

Jika kita dihadapkan pada pertanyaan apa yang pasti terjadi selain kematian, maka  jawabannya adalah perubahan. Perubahan zaman yang dinamis merupakan satu keniscayaan yang harus disikapi dengan sikap yang terencana. Di titik inilah kerja-kerja keilmuan memiliki pengaruh besar, agar terminologi ‘merdeka’ dapat menemukan maknanya dengan baik dan tepat guna, ketika diimplementasikan sebagai sikap di hadapan dinamika yang ada. Dengan dorongan misi ‘bersatu, maju, mandiri’, kita tengah menyaksikan bagaimana Al-Muhajirin berdinamika memaknai kemerdekaan, dan memaknai kemerdekaan dalam berdinamika.

(Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Mahaduna, Majalah Taqaddum edisi Agustus 2022)

Komentar