Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Happy Salma Sukses Sajikan Monolog Melodrama di Amerika


Setelah sukses berkali-kali 'menayangkan' Monolog Inggit Garnasih dalam hampir satu dekade terakhir, aktris kenamaan Happy Salma kini tampil perdana dengan monolog baru yang mengangkat sosok Ibu Kartini dalam lakonnya. Mengambil inspirasi dari novel biografi "Panggil Aku Kartini Saja" karya Pramoedya Ananta Toer, monolog ini dengan sukses dipentaskan di aula kediaman Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Wisma Indonesia, Washington D.C., Jumat (28/04/2023). Pementasan ini dilakukan sebagai bagian dari peringatan Hari Kartini yang tahun ini bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri pada tanggal 21 lalu. Monolog ini menawarkan satu sudut pandang baru dari sosok Kartini sebagai seorang perempuan bercita-cita besar yang harus berjuang memerdekakan pikirannya.

Di bagian pembuka, 'Kartini' mengibaratkan dirinya sebagai seekor burung yang punya kemampuan untuk terbang bebas. Namun sayangnya, kemampuan itu tidak bisa ia lakukan karena harus hidup dalam kurungan kandang adat dan norma sosial saat itu. Ia menceritakan keinginannya untuk bisa bersekolah ke Eropa, sehingga nanti bisa kembali ke kampung halaman dan mencerdaskan perempuan-perempuan pribumi. Tapi karena tuntutan adat dan kondisi masyarakat saat itu yang belum sepenuhnya sadar akan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan bagi perempuan, cita-cita besar Kartini untuk bisa bersekolah hanya sebatas angan-angan belaka. Bahkan ketika Pemerintah Belanda pertama kalinya memberikan beasiswa sekolah di Belanda untuk warga pribumi, dan Kartini serta adiknya menjadi dua orang pertama yang menerima beasiswa itu, keduanya tidak bisa mengambil beasiswa itu karena statusnya sebagai perempuan. "Memangnya kenapa kalau aku seorang perempuan?" ujar tokoh Kartini memancing emosi para penonton. 


Salah satu bagian yang membuat monolog ini menarik adalah ada beberapa sisipan surat-surat yang memang secara asli pernah ditulis oleh Kartini untuk kawannya dan orang-orang penting di Pemerintah Belanda. Monolog ini jadi terasa seperti garis waktu perjalanan emosional Kartini dari satu surat ke surat lainnya, tentang pergulatan batinnya ketika menghadapi berbagai hambatan yang mengekang kemerdekaannya sebagai perempuan saat itu.

Monolog ini tidak hanya mengingatkan penonton tentang Kartini tentang pelopor emansipasi wanita di Indonesia, tapi juga sebagai gadis muda yang mempunyai pemikiran dan ide gagasan yang sangat hebat untuk memajukan kehidupan rakyatnya. Kartini hidup dalam masa yang sulit di mana penjajahan terjadi di Indonesia. Selain itu, budaya Jawa juga tidak lepas dari kehidupan Kartini yang membuat kaum wanita tidak dapat melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Monolog ini merupakan sajian kultural yang sangat baik untuk mengetahui sisi personal Kartini secara mendalam.


Kepiwaianan Happy Salma dalam melakonkan naskahnya patut diacungi jempol. Ekspresi, mimik, bahasa tubuh, kolokasi, bahkan setiap jeda yang dilakukan berhasil membuat penonton hanyut dalam suasana yang digambarkan. Penonton bisa merasakan bagaimana besarnya hasrat Kartini untuk 'melahap' buku-buku di perpustakaan Leiden, bagaimana kepercayaan diri Kartini jika suatu hari menghadapi musim dingin Eropa, bagaimana kekecewaan dan kemarahan Kartini ketika gagal mendapatkan beasiswa, juga kebesaran hati Kartini ketika beasiswa itu ia serahkan untuk Agus Salim, dan memutuskan diri untuk tetap tinggal di Jawa dan membangun sekolah perempuan.


Monolog melodrama ini terlaksana atas inisiatif Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Washington DC., bekerja sama dengan Asean Women's Circle Washingon DC. Acara ini berlangsung dari pukul 11 sampai pukul 13.30 siang, dihadiri oleh istri dari 30 duta besar Asean dan negara sahabat, diaspora Indonesia, dan masyarakat umum.

Happy Salma dikenal sebagai aktris yang cukup konsisten membawakan lakon teater bertema isu seputar perempuan. Dimulai dari debut pertamanya pada monolog 'Nyai Ontosoroh' di tahun 2007, kemudian 'Ronggeng Duhuh Paruk' (2009), 'Roro Mendut', dan 'Inggit Garnasih' (2011) yang sampai 2019 lalu masih ditayangkan dalam format teater musikal.

Komentar