Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Review Novel Afstand by Ananda Puspa Kartika


Identitas Buku

Judul Buku: Afstand, Tiada Berbatas
Penulis: Ananda Puspa Kartika
Penyunting: Radiant Af
Perancang Sampul: Herlin Pare
Penerbit: CV Raditeens
ISBN: 978-602-6476-48-7
Jumlah halaman: 132 halaman

Cerita

Novel Afstand berkisah dengan seorang perempuan bernama Adhisti yang jatuh hati pada seorang pria bernama Adyasta. Mereka berdua adalah teman satu kuliah. Seperti kisah percintaan paling jamak, Adhisti tidak berani mengungkapkan rasa sukanya itu, sampai akhirnya mereka terpisahkan jarak karena sama-sama sudah lulus kuliah. Lalu Adhisti melanjutkan kuliah S2 di Leiden, sementara Adyasta di Bandung. Kisah Adyasta tidak banyak disorot dalam kisah ini, sehingga tidak cukup jelas apa dan bagaimana kehidupan Adyasta dijalani di Bandung.

Di Leiden sana, Adhisti bertemu dengan sosok pria lain bernama Ikal. Sosok ini yang secara intens bertemu dan beriteraksi, sampai akhirnya tumbuhlah benih-benih cinta di hati Ikal. Dengan sedikit drama-drama percintaan, Ikal pun mengajak Adhisti untuk menikah. Namun karena alasan apa, Adhisti masih merawat cintanya untuk pria di masa lalunya, Adyasta. 

Selang berapa waktu, ajakan Ikal untuk menikah pun diterima. Keduanya pulang ke Indonesia dalam jarak waktu yang beriringan. Beberapa waktu sebelum melangsungkan acara lamaran, tiba-tiba Adyasta datang ke rumah Adhisti untuk bersilaturahmi, meski tak secara langsung bertemu dengan Adhisti. Adhisti pun seperti mematung disapa masa lalu, ada kebimbangan, sampai akhirnya ia, atas izin Ikal, memberanikan diri untuk bertemu Adyasta untuk berbincang dan menyelesaikan yang belum selesai. 

Epilognya, Adhisti menikah dengan Ikal dengan bahagia.

Plot dan Alur

Novel ini punya cerita sederhana yang mudah diingat pembaca. Plotnya sederhana, gaya tuturnya juga sederhana. Hal ini jadi satu kelebihan, sekaligus kekurangan. Kekurangannya adalah novel ini terlalu sederhana dan minim konflik. Bahkan membuat saya bertanya-tanya, di bagian mana klimaks yang sekiranya akan membuat saya sebagai pembaca menjadi gregetan akan tokoh-tokohnya. 

Padahal beberapa bagian sangat potensial untuk diberi plot tambahan sebagai daya kejut. Misalnya, bagaimana kalau di momen Adyasta mengunjungi rumah Adhisti, itu dilakukan ketika Adhisti dan Ikal sedang melangsungkan lamaran sehingga ada kondisi dramatisnya di sana. Atau mungkin ketika tinggal di Leiden, bisa saja tokoh Adhisti bertemu dengan banyak kebiasaan atau keseharian yang sama dengan kebiasaan yang pernah dilakukan bersama dengan Adyasta sewaktu di Yogyakarta. Deskripsi semacam ini bisa lebih meyakinkan pembaca bahwa tokoh Adhisti memang betulan masih cinta dan gak bisa move on. Alternatif lain, bisa juga Adhisti menjalani proses bersama Adyasta dalam berjuang mencari beasiswa S2, sehingga pencapaian menerima beasiswa S2 di Leiden tak lepas dari jasa Adyasta.

Selain minim konflik, penulis novel juga mengambil risiko yang besar sekali dalam alur novel ini. Ia mengambil latar Yogyakarta dan Leiden sebagai latar tempat. Konsekuensi dari pemilihan tempat ini adalah harus bisa meyakinkan pembaca bahwa semua kejadian itu memang betulan terjadi di Yogyakarta dan Leiden. Bahkan idealnya, pembaca harus bisa turut merasakan bagaimana Leiden dan Yogyakarta sesungguhnya, meskipun mungkin saja pembaca belum pernah mengunjungi Leiden dan Yogyakarta. Bagiaman caranya? Tambahkan detail. 

Misalnya bisa kita lihat di kutipan dialog berikut (Hal. 15):

"Besok kita jadi nggak, Mas, lihat festival di Amsterdam?" tanyaku bersemangat.

Petikan tersebut bisa dibuat lebih detail dan nyata, andai saja penulis mengganti kata Amsterdam dengan nama tempat yang lebih spesifik. Karena kita pun di dunia nyata, kalau ngajak orang ke suatu acara pasti akan menyebutkan sesuatu yang lebih spesifik. Misalnya, "Besok jadi kan Bukber di Ciumbuleuit?" atau "Besok jadi kan lihat pameran di JICC?". Detail seperti ini akan membuat pembaca lebih merasa memang sedang berada di latar tempat yang dimaksud penulis.

Detail lain yang juga terlewat adalah muatan kultur. Misalnya narasi di halaman 29 berikut:

Jarak dari Malioboro ke rumahku sekitar 20 menitan. Kami memilih tepat makan lesehan, susana malam hari di Malioboro jauh lebih ramai dibanding siang hari. Selain penduduk asli sini, Malioboro juga dipadati para wisatawan yang sedang berbelanja atau sekadar berjalan-jalan menikmati suasana Yogya pada malam hari.

Pertanyaannya, apa benar orang Yogya asli betulan belanja dan jalan-jalan di Malioboro? Orang Jogja yang baca bagian ini mungkin akan bilang, belanjanya kita bukan di Malio, kali. Itu mah buat turis aja. Penggambaran Yogyakarta dan Leiden dalam novel ini menurut saya masih menggunakan kaca mata penulis sebagai pengunjung. Sementara dalam kisahnya, tokoh digambarkan sebagai penduduk yang tinggal dan mengenal kota itu dengan baik.

Meminjam istilahnya Ahmad Farid, bercerita adalah seni yang membuat pembaca merasakan sesuatu, bukan mengetahui sesuatu. Sebab jika hanya untuk sekadar tahu, tulisan jurnalistik punya bagian besar dalam menjalankan peran itu. Sementara novel, harusnya bisa membuat pembaca terlibat, entah dalam perasaannya, entah dalam pikirannya. 

Tokoh dan Penokohan

Salah satu kunci agar pembaca merasa dilibatkan dalam cerita novel adalah ada pada tokoh dan penokohannya. Pembaca harus sampai tahu secara komprehensif tentang tokoh yang sedang "disaksikan" dalam sebuah novel. Pembaca seharusnya tahu siapa tokohnya, apa keinginan tokoh itu, apa masa lalunya, apa prinsip dan nilai yang ia pegang, bagaimana sikapnya dalam merespon sesuatu, bagaimana kondisi psikisnya, dan lain-lain. Sehingga setelah membaca novel, pembaca (setidaknya) bisa melakukan analisis terhadap tokoh tersebut. 

Saya merasa tidak mengenal tokoh Adhisti, Adyasta, atau pun Ikal dengan baik. Sebagai tiga sosok dominan dalam kisah ini, atau bahkan Adhisti sebagai tokoh dominan, deskripsinya kurang banyak, sehingga saya sulit untuk memutuskan apakah saya harus suka atau justru benci pada tokoh ini. 

Puisi

Meskipun buku ini berlabel novel, namun ada banyak sisipan puisi di dalamnya. Puisi-puisi melankolis soal cinta, kerinduan, harapan, dan memoar-memoar refleksi diri. Puisi-puisi ini juga bagian penguat antara narasi prosa yang disajikan, yang dari awal sampai akhir punya suasana yang menurut saya sendu. 

Judul

Novel ini berjudul "Afstand: Tiada Berbatas".  Afstand berasal dari bahasa Belanda, artinya "jarak" atau "jalan". Judul ini punya nilai kiasan yang mewakili isi ceritanya. Namun apa kabarnya jika pembaca tidak mengerti arti dari kata itu? Sebab sayangnya, kata ini tidak sempat terkisahkan secara literal dalam novel ini.

Penulis fiktif memang punya tanggung jawab untuk menyajikan hal-hal fiksi terasa bukan fiksi. Entah narasinya, dialognya, entah ceritanya. Kita ambil contoh misalnya Harry Potter, atau Twilight, atau Game of Thrones. Tiga cerita itu sangat amat fiksi, tapi penulis-penulisnya bisa meyakinkan pembaca bahwa itu 'nampak' betulan terjadi di hidup kita. Dalam versi bahasa Indonesia, novel Aromakarsa adalah salah satu karya fiksi yang menurut saya meyakinkan dan bisa dijadikan rujukan. 

Terima kasih, Nanda, sudah menulis novel ini. Saya akan sangat menunggu karya-karya selanjutnya.

Selasa, 4 April 2022.



Komentar