Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Buku, Obat Penyakit yang Tidak Bisa Disembuhkan Dokter (Review Novel The Little Paris Bookshop karya Nina George)

Judul: "The Little Paris Bookshop"
Penulis: Nina George
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9786020333595, 6020333590
Jumlah halaman: 434 hlm.
Tahun Terbit: 2017


Salah satu novel yang berkesan bagi saya adalah novel "The Little Paris Bookshop" karya Nina George. Novel ini bercerita tentang sebuah toko buku yang tokonya berupa sebuah perahu di sisi Sungai Seine, Paris. Toko ini punya nama "apotek literatur", karena Monsier Perdu, sang 'apoteker', menganggap bahwa buku merupakan obat bagi setiap orang. Bahkan lebih jauh ia punya konsep bahwa buku bisa mengobati penyakit yang tidak bisa diobati oleh dokter. 

Monsier Perdu melalui toko bukunya ingin membantu meringankan hidup banyak orang. Ada banyak orang yang datang ke toko bukunya, curhat, lalu Perdu pun tahu buku mana yang pas untuk orang tersebut. Sayangnya, Perdu hanya ahli mengobati orang lain tapi tak mampu mengobati dirinya sendiri. Ia masih merasa patah hati oleh kekasihnya yang pergi dan hanya meninggalkan sebuah surat. Surat itu, untuk sekian lamanya, tidak pernah ia buka. Sampai akhirnya ia tergoda untuk membaca surat itu, dan ia pun memutuskan untuk mengangkat sauhnya. Perahu yang bertahun-tahun tidak pernah bergerak itu akhirnya bergerak menyusuri Sungai Seine ke arah selatan Perancis. 

Perjalanan tersebut merupakan upaya Perdu untuk berdamai dengan kehilangannya. Tak sendirian, ia melakukan perjalanan itu dengan beberapa tokoh yang ditemuinya, antara lain seorang chef Italia yang sedang jatuh cinta, dan seorang penulis yang sedang mengalami kebuntuan dalam berkarya. 

Buku ini memang bercerita soal asmara, namun bagi saya pribadi, buku ini menyadarkan satu aspek yang selama ini tidak pernah disadari bahwa buku adalah obat bagi banyak kebutuhan. Jika selama ini buku hanya digambarkan sebagai 'jendela dunia', di mana kita bisa melihat sisi lain dunia dari perspektif yang berbeda-beda, justru novel ini menyuguhkan cara pandang lain bahwa buku bisa mengatasi banyak masalah, dan sebagaimana obat, tidak setiap buku akan cocok untuk setiap orang.

Satu-satunya kelemahan dari novel ini adalah gaya terjemahannya (karena saya baca novel versi terjemahan bahasa Indonesia). Terjemahannya bagus, namun beberapa unsur emosi tidak bisa terterjemahkan dengan mulus. Saya kira bukan hanya novel ini saja yang demikian, namun persoalan memindahkan unsur emosi dari karya bahasa aslinya memang jamak ditemukan di banyak karya yang diterjemahkan.

Beberapa kutipan saya garisbawahi, untuk alasan yang entah kenapa, antara lain:

  1. Dulu ada cinta di ruangan ini
  2. Berjanjilah kau akan makan dan minum sebelum menangis lagi
  3. Apa yang anda baca lebih penting dalam jangka panjang daripada pria yang anda nikahi
  4. Pria bodoh adalah kehancuran bagi setiap wanita
  5. Aku ingin mengobati perasaan yang tidak diakui sebagai penyakit dan tak pernah didiagnosis dokter
  6. Masih memiliki wajtu sepanjang sisa hiduo untuk membuat beberapa kesalahan besar
  7. Kau jatuh cinta dan aku bisa menjelaskan kenapa kau suka rasanya
Itulah ulasan singkat mengenai novel "The Little Paris Bookshop". Selamat membaca :)

Komentar