Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Telusuri Musim Semi di Rock Creek Trail


Seorang penerjemah Arab suatu waktu pernah menerjemahkan puisi "Sonnet" karya William Shakespeare yang berkisah tentang summer (musim panas), namun dengan gaya yang menjadi bahasan para linguist. Dalam terjemahannya, ia menerjemahkan kata summer menjadi kata robii', yang dalam bahasa Arab berarti musim semi. Pengalih-terjemahan ini semata-mata bertujuan untuk menghadirkan gaya terjemahan yang lebih bernilai puitis di mata dan telinga pembaca Arab. Hal ini juga didasarkan pada kondisi musim panas di negerinya Shakespeare punya udara dan suasana yang sepadan dengan musim semi di Arab.

Gagasan itu muncul tiba-tiba ketika saya menyusuri Rock Creek Trail di sepanjang Twinbrook ke Needwood Lake, Rockville. Menyusuri jalur kecil beraspal, saya banyak "bicara sendiri" soal betapa menyenangkannya musim semi di negeri ini, sekaligus mengingat-ingat hal-hal menyenangkan ketika mengalami musim semi di Arab.

Tulisan ini tidak akan bicara soal sastra Arab dan puisi Shakespeare. Intro di atas hanya sebatas prolog tentang apa yang pertama kali terpikirkan ketika saya, untuk pertama kalinya, masuk ke hutan Rock Creek yang ternyata punya banyak kejutan di dalamnya.

Jika kita ambil foto suasana hutan itu, lalu mempostingnya di media sosial, banyak orang yang akan salah kira bahwa foto-foto itu diambil di Amerika. "Amerika ada hutan juga, ya?", "Gak beda jauh sama di Indo!", dan komentar-komentar senada lainnya banyak bermuculan di japrian. Rock Creek sebagaimana hutan dan belantara di Indonesia, punya banyak pemandangan hijau yang serupa dengan Indonesia, utamanya di saat musim semi seperti sekarang ini. Bahkan menariknya, ada banyak sekali hewan yang berkeliaran bebas di hutan ini, meskipun notabene hutan ini masih berada di lingkaran kota besar Washington D.C., Sang Ibukota Negara.


Dalam rute 16,5 km yang saya tempuh hari Minggu kemarin, saya bertemu tiga ekor rusa, satu ekor unggas yang tak tahu namanya (berkaki kurus tinggi, berparuh seperti bangau, warna putih berarsir merah/pink, lalu ia terbang ketika saya hampiri. Mungkin flamingo, mungkin juga bukan), serombongan bebek, rupa-rupa burung, dan puluhan tupai yang berloncatan di sana-sini. Bahkan di beberapa minggu terakhir, muncul berita di media lokal tentang adanya seekor beruang yang ditangkap aparat karena dikhawatirkan berpotensi menyakiti warga. Kehadiran beruang dan hewan-hewan ini menunjukkan betapa nyamannya hutan Rock Creek sebagai habitat mereka, dan betapa menariknya negara ini punya area yang hijau padahal hanya berjarak sekian kilometer dari keramaian pusat kota.

Saya membayangkan, mugkin Ibu Kota Nusantara di Kalimantan sana akan punya perwujudan seperti ini juga nantinya. Sebuah kota modern yang dikelilingi area hijau yang luas. Bahkan saya punya ekspektasi IKN akan jauh lebih bagus dari Washington dan Rock Creek. Sebab jika melihat eksistensi Rock Creek dan Washington sebagai kota, saya masih terkagum-kagum, betapa tertata dan terencananya kota ini. Punya space yang luas, lumayan tertib dan tertata, dan khususnya di musim semi ini, kota ini indah sekali. Ada banyak bunga bermekaran, berwarna-warni di banyak sudut.

Sejauh yang saya tahu saat ini, Rock Creek adalah hutan kota (bahkan disebut sebagai Taman Nasional) yang membentang lintas negara bagian, dari Maryland sampai Washington D.C. Hutan ini merupakan paru-paru kota yang membuat ibu kota negara ini tetap terasa segar, minim polusi, kaya oksigen, dan punya ruang kolektif yang bisa dimanfaatkan publik untuk ngadem secara gratis.


Nampaknya, Rock Creek akan menjadi area healing saya di Amerika ini. Jika saya sedang ingin berlari, jalan kaki, bersepeda, atau mulai ikut-ikut tutorial yoga dan meditasi, Rock Creek akan menjadi opsi yang, sebagaimana orang-orang telah lakukan, akan saya kunjungi.

Semoga suatu hari Purwakarta dan area seputar Jakarta bisa punya Rock Creek versinya sendiri.

Senin, 15 Mei 2023.

Komentar