Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Find Your Why, Menemukan Alasan Agar Hidup Lebih Bernilai - Review Buku



Judul: Find Your Why, Panduan Praktis untuk Menemukan Tujuan Anda dan Tim Anda
Penulis: Simon Sinek, David Mead, Peter Docker
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Cet 1, 2019
Tebal: 326 halaman
ISBN: 9786020631370

Buku ini merupakan buku kedua dari Simon Sinek yang bicara soal konsep "Why" yang ia gaungkan sejak beberapa tahun belakangan. Jika kamu sudah pernah buku Start with Why, buku Find Your Why ini sebenarnya punya isi yang gak jauh beda. Bahkan saya tidak merasa ada perbedaan yang sangat signifikan selain fakta bahwa buku kedua ini adalah versi lebih mendalam dari buku pertama. Secara substansi, isinya sama. Sama-sama menekankan pentingnya mengedepankan tujuan atau "why" dalam setiap tindakan yang dilakukan, baik personal maupun organisasi/perusahaan.

Dalam hidup, kita membutuhkan alasan besar dan substansial untuk menjalani hidup. "Why" adalah esensi dan nilai, bahkan disebut sebagai ultimate goal, yang menjadikan seseorang kenapa bersemangat bangun pagi dan berangkat kerja. Seseorang dengan "Why" dalam dirinya akan berangkat kerja tidak semata-mata dalam rangka mencari uang, tapi karena ada ultimate goal yang membuatnya merasa lebih hidup dan bernilai. Perusahaan dengan "Why" yang jelas akan menjual produknya semata-mata bukan hanya dalam rangka mencari keuntungan, tapi punya tujuan agar namanya punya posisi berarti di mata penggunanya.

"Why" Adalah Tujuan Mendasar

Barangkali pernah mendengar pepatah "You were born for a reason", nah, "Why" yang dibicarakan Simon Sinek adalah reason atas segala hal yang kita jalani. Kenapa kita ada, kenapa kita melakukan ABCD, kenapa kita harus membeli sesuatu, kenapa kita harus pergi ke suatu tempat, kenapa kita harus mengambil keputusan XYZ, Simon Sinek melalui buku Find Your Why ini menegaskan satu gagasan tentang pentingnya memiliki "Why" dalam setiap hal.

Lingkaran Emas (The Golden Circle)

Konsep Lingkaran Emas ini sudah pernah dibahas banyak oleh Sinek di buku sebelumnya, Start with Why. Di buku ini, bab ini kembali dibahas namun dalam format yang lebih singkat.  

Sederhananya, Lingkaran Emas adalah tiga tahapan yang kita lakukan dalam melakukan sesuatu/mengambil keputusan. Di tahap pertama, atau lingkar paling luar, kita membahas tentang “WHAT we do” (apa yang kita lakukan/hasilkan). Lalu di lingkaran kedua, kita mencari “HOW we do it” (bagaimana cara melakukannya). Di lingkaran terakhir dan terdalam, kita mencari jawaban atas pertanyaan “WHY we do it” (mengapa kita melakukannya).

Sinek punya opini bahwa kesuksesan akan diraih dalam jangka yang panjang (bukan kesuksesan sesaat) jika segala sesuatu dimulai dari lingkaran terdalam "Why", lalu "How", lalu "What". Bukan dimulai terbalik dari "What", "How", terakhir "Why".

Menempatkan "Why" sejak awal dapat mengantarkan sebuah organisasi pada posisi stabil yang tidak lagi hal-hal remeh, tetapi tentang tujuan besar yang agung. Ia memberi contoh deskripsi perusahaan yang memiliki tujuan yang kuat seperti Apple. Menurutnya, slogan "Think Differently" yang dimiliki perusahaan ini telah melahirkan banyak orang yang setia menjadi konsumennya, meskipun di pasaran ada banyak produk lain yang menjual produk dengan fitur lebih beragam dan harga lebih murah. Publik tahu dengan jelas apa "Why" yang dimiliki perusahaan ini, sehingga hubungan antara Apple dengan konsumennya tidak hanya sebatas transaksi, tapi kesetiaan.

"Visi anda hanya dapat dilaksanakan apabila anda mengumumkannya. Apabila anda terus menyimpannya untuk diri sendiri, visi itu akan terus menjadi gagasan dalam imajinasi anda."

Menurut Sinek, konsumen akan cenderung memberikan uangnya kepada bisnis dengan identitas yang “maju” atau progresif dari pada membeli produk yang sedikit lebih murah dari perusahaan yang biasa saja dan tak memiliki nilai utama untuk dijunjung selain keuntungan.

"Sasarannya bukan sekadar melintasi garis finis, tetapi melihat berapa banyak orang yang terinspirasi untuk berlari bersama anda."

Langkah-Langkah Menemukan "Why"

Bedanya buku ini dengan buku Start with Why, buku ini menjelaskah langkah apa saja yang bisa dilakukan untuk memudahkan kita menemukan "Why". Antara lain:

1. Melihat Masa Lalu
Jika kita bingung dan belum tahu apa alasan sebenarnya kita melakoni pekerjaan saat ini, kita bisa memulainya dengan melihat ke belakang, melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu.
Di buku ini dikisahkan ada seseorang yang bekerja di bidang sosial. Pekerjaan ini ia lakoni dengan semangat karena ada riwayat ingin menyelamtkan adiknya dari ayahnya yang kejam. Tindakannya membawa kabur adiknya dari rumah demi menyelematkan dari kekejaman ayahnya merupakan satu alasan historis bagaimana ia bisa menemukan "why"-nya dalam menjalani profesi saat ini.
Melihat masa lalu bisa membantu kita menemukan alasan mengapa sesuatu harus dilakukan.

2. Pertimbangkan Perspektif dari Luar
Jika dengan melihat masa lalu belum membuahkan jawaban, maka langkah berikutnya adalah melihat sudut pandang lain dari eksternal diri kita. Entah dari lingkungan pertemanan, atau sosial yang lebih luas.
Seseorang bisa saja melakukan sesuatu karena dorongan empati yang besar akan kondisi lingkungannya.

Cara mengidentifikasi "Why" bisa dilakukan dengan cara membuat pola "Saya melakukan .... Untuk .... Supaya ...". Kolom pertama (setelah "Saya") diisi suatu tindakan, lalu kolom kedua (setelah "Untuk") diisi oleh sesuatu yang menunjukkan kontribusi, sementara kolom kedua (setelah "Supaya") diisi oleh sesuatu yang menunjukkan dampak/hasil. Contohnya, "Saya membawa kantong belanja sendiri untuk mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik supaya lingkungan terselamatkan dari polusi limbah plastik."

Beberapa kutipan menarik yang saya catat dari buku ini antara lain:
  • Visi anda hanya dapat dilaksanakan apabila anda mengumumkannya. Apabila anda terus menyimpannya untuk diri sendiri, visi itu akan terus menjadi gagasan dalam imajinasi anda.

  • Kita tidak harus menyukai anak-anak kita sepanjang waktu, tapi kita sungguh mencintai mereka sepanjang waktu. Kita tidak harus menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan kita setiap hari, tapi kita dapat merasa puas oleh pekerjaan kita setiap hari, kalau kegiatan pekerjaan itu membuat kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita.

  • Kesetiaan tidak dibangun di atas fitur dan keuntungan. Fitur dan keuntungan tidak menginspirasi. Kesetiaan dan hubungan jangka panjang didasarkan pada sesuatu yang lebih mendalam.

  • Seorang mitra pendengar (komunikan) bisa dikatakan mengalami kemajuan apabila pembicara mulai bercerita lebih sedikit tentang apa yang terjadi dan lebih banyak tentang apa yang mereka rasakan terhadap kejadian itu.

  • Semua perjuangan kita adalah langkah-langkah jangka pendek yang harus kita ambil dalam perjalanan menuju kesuksesan jangka panjang.

  • Nested Why: "Why" untuk subkelompok dalam "Why" organisasi yang lebih besar.

  • Penemuan "Why" untuk sebuah sub kelompok dalam sebuah organisasi atau Nested Why hasilnya dapat mendorong seluruh organisasi untuk menemukan "Why"-nya.

  • Tim bukanlah sekelompok orang yang bekerja bersama-sama. Tim adalah sekelompok orang yang saling percaya.

  • Agar sebuah gerakan bisa menghasilkan dampak, gerakan itu harus menjadi milik mereka yang bergabung di dalamnya, bukan hanya milik pemimpinnya.

  • Sumbangan terbesar seorang pemimpin adalah menjadikan orang lain pemimpin.

Komentar