Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Pentingnya Memulai Sesuatu dengan "Mengapa" - Review Buku Start with Why by Simon Sinek



Saya pertama kali mendengar buku "Start with Why" Simon Sinek dari seorang bapak-bapak peserta pelatihan wicara publik. Saat itu, bapak itu menjelaskan sebuah strategi agar suatu produk bisa berhasil di pasaran, dan ia banyak menyebut nama "Sinek" dan bukunya sebagai sumber inspirasi dalam memasarkan produk dari perusahaan tempat ia bekerja.

Gagasan besar dalam buku ini pernah viral setelah sebuah tayangan Simon Sinek bicara di forum TedX soal konsep "Why". Dari judulnya saja, pembaca bisa menebak sendiri bahwa buku ini bicara soal pentingnya "mengapa" dalam setiap tindakan yang dilakukan. Secara umum, buku ini menjelaskan tentang pentingnya mengidentifikasi tujuan, baik dalam kehidupan personal, ataupun untuk organisasi/perusahaan. 

Jika bapak-bapak yang bekerja sebagai bagian pemasaran tadi begitu relate soal buku ini dan pekerjaannya, maka saya tidak akan heran. Karena buku ini nyatanya memang banyak bicara soal filosofi bisnis, alih-alih sebagai buku pengembangan diri atau kepemimpinan. Meskipun di judul bukunya tertulis "Cara Pemimpin Besar Menginspirasi Orang untuk Bertindak", pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin perusahaan dan korporat besar. Simon Sinek lebih sering menyebut nama Bill Gates, Steve Jobs, atau Herb Kelleher sebagai contoh-contoh dalam teorinya, dan sangat sedikit menyebut nama-nama tokoh politik atau pemimpin negara. 


Jika tidak dimulai dengan "mengapa" ...

Di bagian pertama, penulis menjabarkan premis bahwa kita sering membuat asumsi berdasarkan informasi yang terkadang tidak lengkap atau palsu. Asumsi ini akan mudah menggiring orang yang tidak punya kejelasan tujuan untuk melakukan sesuatu, yang bisa jadi tindakan itu sebenarnya tidak perlu. Sinek bilang, "Hanya ada dua cara untuk memengaruhi perilaku manusia. Memanipulasi atau menginspirasi. Dari bisnis sampai politik, manipulasi berlimpah di semua bentuk penjualan dan pemasaran. Manipulasi paling khas termasuk: menurunkan harga, mengadakan promosi, memanfaatkan rasa takut, tekanan teman-teman atau kelompok, atau pesan-pesan aspirasi dan inovasi yang menjanjikan untuk memengaruhi perilaku, apakah itu pembelian, dukungan, atau suara pemilih."

Sebagai contoh, banyak perusahaan yang menurunkan harga produk/jasa sehingga kita tergiur untuk membeli produk/jasa tersebut. Padahal bisa jadi, kita tidak punya alasan jelas kenapa harus beli produk/jasa tersebut. Sementara bagi orang yang punya "mengapa" yang jelas, ia tidak akan mudah mengambil tindakan membeli barang tersebut, meskipun dalam kondisi harga murah, iming-iming eksklusivitas, atau orang-orang di sekitarnya membeli barang/jasa serupa.

Bagi sisi penjual produk, penulis menekankan pentingnya memasarkan "mengapa" kepada konsumen, alih-alih menjual "apa" yang mereka jual. Konsumen yang tahu alasan mengapa harus membeli suatu produk, punya potensi lebih besar untuk membeli dibanding konsumen yang hanya tahu "apa" yang sedang ditawarkan. Strategi manipulasi dalam pemasaran (menurunkan harga, mengadakan promosi, memanfaatkan rasa takut, tekanan kelompok, atau pesan-pesan aspirasi dan inovasi yang menjanjikan) menurut Sinek hanya akan menjurus ke transaksi, namun tidak akan membangun kesetiaan.

"Ada perbedaan besar antara bisnis yang berulang dan kesetiaan. Bisnis yang berulang adalah ketika orang berulang kali melakukan bisnis dengan kita. Kesetiaan adalah ketika orang bersedia menolak tawaran produk atau harga yang lebih baik demi melanjutkan bisnis dengan kita. Kesetiaan tidak mudah didapatkan, tetapi bisnis yang lebih mudah didapatkan. Yang perlu dilakukan hanyalah lebih banyak manipulasi." (Hal. 41)

Lingkaran Emas

Lingkaran Emas bisa digambarkan dengan lingkaran tiga lapis. Lingkaran terdalam disebut lingkaran "Mengapa", lingkaran kedua disebut "Bagaimana", dan lingkaran paling luar disebut "Apa".

Menurut Sinek, suatu tindakan itu harus dimulai dari lingkaran terdalam berupa "Mengapa" kita melakukan suatu, lalu "Bagaimana" cara melakukannya, lalu "Apa" yang dihasilkan/dampak/akibatnya. Seringkali kita terbalik memulai sesuatu dari "Apa", lalu "Bagaimana", baru "Mengapa". Sinek memberi banyak contoh cerita soal pentingnya memulai sesuatu dari "Mengapa", dan gambaran kegagalan jika dimulai dari "Apa".

"Lingkaran emas adalah suatu sudut pandang alternatif terhadap asumsi yang ada tentang mengapa beberapa pemimpin organisasi bisa sangat berpengaruh. Ia menawarkan pemahaman yang jelas, misalnya, tentang mengapa berinovasi di begitu banyak industri dan tidak pernah kehilangan kemampuannya untuk melakukan inovasi itu. Lingkaran emas menunjukkan bagaimana para pemimpin ini bisa menginspirasi tindakan dan bukan memanipulasi orang yang bertindak." (Hal. 54)

Buku ini punya ide yang kuat dari awal sampai akhir. Ia konsisten membahas soal "Why" sehingga setiap babnya tidak ngaler ngidul tanpa arah. Namun sayangnya, saya merasa Sinek sering mengulang cerita yang sama atau senada. Alih-alih menjadikannya sebagai sebuah penegasan, justru malah terlihat sebagai pemborosan dan bagian yang tidak krusial untuk disebut kembali.

Penulis buku ini banyak memberikan contoh-contoh cerita, sebagai bukti di mana faktor ‘Mengapa’ berperan.

Kesimpulan

Buku ini barangkali cocok buat kamu yang senang menggeluti dunia pemasaran, namun tidak begitu pas jika disebut sebagai buku pengembangan diri (self-development) atau kepemimpinan (leadership). Memang betul ada poin-poin yang beririsan dan menyinggung soal itu, namun menurut saya tidak cukup representatif untuk disebut sebagai buku tentang kepemimpinan atau pengembangan diri. Tidak banyak tips atau trik yang bisa kita lakukan berdasarkan buku ini, karena buku ini lebih banyak bicara soal contoh-contoh dari pentingnya memulai sesuatu dari "why" sebagaimana dilakukan oleh bisnis-bisnis besar yang sudah mapan.

Beberapa kutipan menarik yang saya catat dari buku ini, antara lain:

  • "Orang tidak membeli apa yang kita lakukan, mereka membeli mengapa kita melakukannya. Kegagalan untuk mengomunikasikan mengapa hanya akan menciptakan stress atau keraguan. Sebaliknya, banyak yang tertarik untuk membeli, misalnya komputer Machintos atau motor Harley Davidson, tidak merasa perlu untuk bicara dengan siapa pun tentang merek yang perlu mereka pilih." (Hal. 85)

  • "Peran seorang pemimpin bukanlah memunculkan semua ide besar. Peran pemimpin adalah menciptakan suatu lingkungan di mana ide-ide besar bisa terjadi." (Hal. 148)

  • "Hanya karena seseorang menghasilkan sedikit uang, belum tentu berarti dia hanya menyediakan sedikit nilai. Hanya dengan mengukur jumlah barang yang terjual atau uang yang didapatkan tidak membuat kita bisa mendapat petunjuk tentang nilai. Nilai adalah suatu perasaan, bukan suatu kalkulasi. Nilai adalah persepsi. Orang bisa mengatakan bahwa suatu produk dengan banyak tambahan aksesori yang dijual dengan harga lebih murah maka memiliki nilai yang lebih besar. Tetapi menurut standar siapa?" (Hal 289)

Komentar