Khutbah Jumat - Dialog Surat Al-Fatihah

Salah satu rukun yang wajib ada dalam tiap rakaat salat adalah bacaan surat Al-Fatihah. Surat ini tidak hanya sebagai bagian dari salat, bahkan disebut sebagai inti dari salat. Setidaknya dalam sehari semalam, seorang muslim bisa dipastikan akan membaca surat ini sebanyak 17 kali dalam salat fardu. Apalagi jika ditambah dengan salat sunah, atau momentum lain di luar salat, tentu intensitasnya akan makin banyak lagi. Namun pertanyaanya, sudah seintens apa pemahaman kita atas bacaan yang setiap hari dirapalkan tersebut? Apakah surat Al-Fatihah ini sudah benar-benar menjadi bagian dari cara kita berkomunikasi dengan Allah dalam setiap salat, atau jangan-jangan surat ini dibaca hanya sebatas pelengkap salat dan formalitas ibadah belaka? Sudah seyogyanya seorang muslim menghayati dan meresapi rahasia agung yang terkandung di dalamnya; sebab ia tengah bermunajat kepada Rabbnya. Dengan demikian, hatinya akan lebih khusyuk, lebih tahu atas apa yang ia ucapkan, dan lebih mungkin untuk bisa memb

Oleh-Oleh dari Perkampungan West Virginia

Pemandangan area ladang di Harpers Ferry National Historical Park

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke satu perkampungan di wilayah West Virginia. Kampung yang betulan kampung, di mana sinyal hape hanya SOS. Sekalinya nyambung hanya nyantol satu bar. Di sana banyak area pertanian yang sangat luas. Bahkan rumah warga terpisah berjauhan oleh ladang-ladang yang luasnya bukan main. Sangat jarang terlihat ada rumah yang berderet berdekatan, nampak hidupnya bukan seperti orang Indonesia yang senang bertetangga.

Saya tidak tahu apakah di sana ada kendaraan umum seperti bis atau taksi, sebab sepanjang perjalanan, saya tak melihat satu pun ada kendaraan umum. Bahkan sampai sekarang masih bertanya-tanya, bagaimana jadinya untuk mobilitas di daerah itu jika tidak punya kendaraan pribadi. Satu hal yang membuat saya takjub adalah kondisi jalanannya yang lebar beraspal mulus. Meskipun ini jauh dari perkotaan, bahkan banyak jalan-jalan totoang di tengah hutan dan perkebunan panjang, tapi kualitas jalannya bagus banget. Saya membayangkan jika Cikeris atau Wanayasa di Kecamatan Bojong sana punya kondisi yang serupa dengan ini, pasti akan menyenangkan.

Pertama kalinya melihat buah peach di pohonnya 

Di kampung itu, saya menginap di sebuah rumah yang nampaknya sudah cukup tua. Sebuah keluarga menyambut saya dan beberapa teman untuk bermalam waktu itu. Bisa dibilang, keluarga ini adalah satu dari sekian banyak keluarga di area itu dengan gaya hidup yang sama: punya tanah yang luas, bercocok tanam sendiri, makan makanan yang mereka tanam sendiri. Bahkan tuan rumah yang saya temui ini, mereka punya gandum sendiri untuk kemudian dibuat roti dan ia hidangkan. Mereka juga menyajikan mangkuk salad dengan aneka sayuran yang saya sendiri melihat langsung kapan dan di mana mereka memanennya. Di belakang rumah mereka ada beberapa bedengan/guludan yang berbaris rapi untuk beberapa jenis sayuran, seperti tomat, sawi, bayam, bawang daun, baby spinach, dan lain-lain. Mereka menggabungkan aneka sayuran itu ke dalam mangkuk besar, lalu mereka tambahkan potongan keju dadu dan minyak zaitun. "Keju ini kita dapatkan dari tetangga. Ia punya sapi sendiri dan membuat keju sendiri." Kata si kakek-kakek tuan rumah sambil asyik masyuk meracik salad.

Buat orang-orang yang senang dengan gaya hidup santuy ala-ala slow living, perkampungan ini pasti bikin betah. Jauh dari perkotaan, jauh dari industri dan perkantoran, hampir semua sumber makanan ditanam sendiri, bahkan saya kepikiran kampung ini seperti yang digambarkan di permainan Harvest Moon. 

Salah satu rumah yang katanya sudah dibangun sejak tahun 1835

Sejujurnya ketika pertama masuk rumah ini dan ketemu perkampungan ini, saya penasaran sama orang-orang Amerika yang di kampung begini, "kampungan" gak ya? Bahkan sedikit ada stereotip, "mungkin mereka emang iya kampungan." Ternyata saya salah besar. Sewaktu kita ngobrol sore-sore di kursi-kursi teras belakang, dan mereka bertanya-tanya soal Indonesia, si kakek-kakek yang bernama John bilang, "kamu harus lihat lukisan di ruang tengah! Lukisan itu saya dapatkan dari Jakarta!". Lalu saya diajak masuk ke lantai dua rumah itu dan melihat sebuah lukisan kira-kira berukuran 2x1 meter dipajang simetris di tengah dinding. Lukisan itu berwarna dominan cokelat, menggambarkan puluhan potrai penari bali, lengkap dengan sepasang gapura, janur, dan beberapa barong. Dari permukaannya, lukisan itu nampak sudah tua dan pudar. Namun kesan tua dan pudar itu yang membuatnya terlihat sangat klasik dan bernilai.

"Sewaktu saya ke Jakarta, saya keliling galeri untuk mencari lukisan bagus, tapi tidak nemu. Lalu teman saya menyarankan lukisan ini yang ia bawa dari Bali. Saya pun langsung suka di pandangan pertama." Kata John menjelaskan. 

"Itu terjadi kapan?" Tanya saya penasaran.

"Loong time ago. Back in 82 or 83." Jawab dia. Waw, saya takjub juga di tahun itu dia pernah ke Jakarta.

Lalu dari percakapan itu topik kami jadi melebar. Sampai akhirnya saya tahu bahwa ia pernah bekerja di perusahaan ekspor impor sewaktu muda dulu, dan pekerjaan itu pernah membuatnya bisa keliling semua negara Asia Tenggara, banyak negara Asia, hampir semua Eropa Barat, dan beberapa Timur Tengah. Dari cerita pengalaman itu, akhirnya saya jadi paham kenapa di rumah ini ada banyak sekali koleksi lukisan dan benda-benda pajangan. Karena ternyata semua benda itu ia bawa dari kota yang berbeda-beda, sebagai kapsul memori untuk mengenang masa mudanya.

Interior ruang tamu di rumah yang saya tempati

Sewaktu makan malam, si nenek yang saya lupa namanya berceloteh soal John yang sedang membaca buku tentang mata uang Euro. Saya lupa judul bukunya, tapi intinya buku itu soal mata uang euro yang diprediksi akan dipakai secara global di masa depan. Si nenek berceloteh karena katanya, buku terbitan tahun 80-an itu terbukti salah, sebab sekarang transaksi di banyak negara lebih sering pakai US Dollar dibanding Euro. Jadi menurut si nenek, untuk apa baca buku yang jelas-jelas teorinya salah dan tak terbukti? Obrolan celotehan ini bikin saya takjub juga, di sebuah rumah di tengah perkampungan begini, geliat orang untuk baca buku sangat menyala-nyala, loh! Bahkan saya melihat ada beberapa rak di bagian rumah itu yang terisi deretan buku, membuat saya yakin bahwa buku-buku itu bukan hanya pajangan belaka.

Saya jadi pesimis sendiri mengingat-ngingat jika saya jadi orang asing yang tiba-tiba main ke perkampungan Cikeris atau Wanayasa jauh di Bojong sana, akankah saya bertemu dengan kakek-kakek atau nenek-nenek yang ketika makan malam berceloteh dan berdebat karena si kakek baca buku soal Euro atau Rupiah terbitah 1980-an? Atau dalam versi yang Cikeris banget atau Wanayasa banget, geliat literasi orang kampung itu akankah terterjemahkan dalam bentuk yang seperti apa?

Sepulang dari West Virginia, saya merasa membawa banyak oleh-oleh di kepala saya. Orang-orang yang tinggal di kampung itu ternyata bukan sembarangan orang kampung biasa sebagaimana yang sudah saya judge sebelumnya. 

Tomat oleh-oleh dari Shepherdstown

Saya ingat zaman kuliah dulu ada mata kuliah Tarikh wal Hadhoroh, yang dalam bab pertamanya dijelaskan apa makna dari Hadhoroh. Secara bahasa bisa diartikan "peradaban", namun secara makna bisa diartikan sebagai kondisi di mana orang-orang menjalani hidup dengan kesadaran penuh dalam melakukan sesuatu, berlandaskan pemahaman yang cukup, pegangan nilai tertentu, dan mungkin bisa saya tambahkan, literasi yang cukup. Hal ini saya ingat begitu saja ketika pulang dari rumah dan perkampungan itu. Entah di kampung entah di kota, orang-orang tidak mesti kehilangan alasan untuk tetap punya akses pada banyak informasi dan pengalaman.

Sepulang dari sana, saya juga dapat oleh-oleh berupa buah tomat yang besar-besar, bahkan saya tak pernah melihat ukuran tomat sebesar itu. Jika tomat ini saya buat sambel, mungkin bisa saya buat untuk dua sampai tiga kali sambel-eun.

Terima kasih, West Virginia!

29 Agustus 2023   

Komentar