Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Review Buku Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar


Jika kamu adalah orang yang mudah panik dan overthingking, buku ini bisa jadi solusinya!

Buku "Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar: Cara mudah mencegah masalah kecil mengganggu hidup kita" merupakan versi terjemahan dari buku "Don't Sweat the Small Stuff: Simple Ways to Keep the Little Things from Taking Over Your Life" karya Richard Carlson. Buku ini sangat terkenal dalam genre pengembangan diri dan manajemen stres, dan banyak direkomendasikan banyak orang meski terhitung sebagai buku cetakan lama.

Buku ini menawarkan pandangan tentang cara mengelola stres dan menciptakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini, Richard Carlson mengajak pembaca untuk tidak mempermasalahkan hal-hal kecil yang seringkali dapat mengganggu ketenangan pikiran dan menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Hal ini cukup tegas sejak dari bagian pengantar, Carlson mengatakan, “karena menganggap semua hal sebagai masalah besar, akhirnya kita menghabiskan hidup kita dari satu drama ke drama yang lain. Tak lama kemudian, kita jadi terbiasa menganggap semua masalah sebagai masalah besar. Kita jadi tahu bahwa cara kita menghadapi masalah erat sekali hubungannya dengan seberapa cepat dan efisien kita memecahkan persoalan tersebut. Untungnya ada cara lain yang berhubungan dengan hidup. Cara lain untuk menjalani hidup ini termasuk mengubah kebiasaan lama yang bersifat ‘reaktif’ menjadi kebiasaan baru yaitu mencari perspektif lain. Kebiasaan baru ini membuat kita mampu meraih hidup yang lebih kaya dan memuaskan.” (Halaman xvi)

Salah satu kekuatan buku ini adalah pendekatannya yang sederhana namun mendalam terhadap kehidupan sehari-hari. Carlson menunjukkan kepada pembaca bahwa kebanyakan dari kita cenderung terjebak dalam stres dan kekhawatiran sehari-hari yang sebenarnya tidak begitu penting dalam jangka panjang. Dia memberikan berbagai saran praktis dan teknik untuk mengatasi stres, meredakan kecemasan, dan membangun hubungan yang lebih baik dengan orang di sekitar kita.

Buku ini juga memberikan pandangan tentang bagaimana mengubah pola pikir dan mengubah cara kita merespons situasi-situasi sulit dalam hidup. Dengan contoh-contoh kehidupan nyata dan cerita inspiratif, Carlson mengilustrasikan betapa pentingnya menghargai momen-momen kecil dalam hidup dan tidak membiarkan hal-hal kecil mengambil alih perasaan dan pikiran kita.

Tulisan dalam buku ini disajikan dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Dalam bahasa yang sederhana, Carlson menyampaikan konsep-konsep yang kompleks dengan cara yang mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai latar belakang.

Satu hal yang menganggu dari buku ini adalah judulnya yang menurut saya terlalu panjang. Jika pun mengadopsi dari judul versi aslinya, buku versi bahasa Indonesia ini punya judul yang tidak mudah diingat pembaca secara literal, sebab terlalu melibatkan banyak kata di dalamnya.

Ketika kita membaca kalimat pengantar di bagian awal, ada kutipan kalimat dari Dr. Wayne Dyer yang ditujukan kepada penulis buku ini. “Richard, ada dua aturan untuk hidup dalam keselarasan. #1) Don’t sweat the small stuff (jangan memusingkan hal-ha kecil) dan #2) It’s all small studf (semua masalah dalam hidup ini cuma masalah kecil).” (Halaman xvii). Kutipan inilah yang barangkali menjadi ide besar mengapa judul buku ini dipilih oleh penulisnya, lalu dibuat versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Sebagai buku tips dan pengembangan diri, buku ini memang punya satu kesamaan tema, yaitu mengajak pembaca agar tidak memusingkan hal-hal remeh. Tapi dalam turunan judulnya, buku ini punya banyak sekali judul, bahkan terlalu banyak judul yang sulit untuk mudah diingat pembaca. Sebab dari satu judul ke judul lain, konteks setiap judul ternyata bukan dalam rangka menguatkan premis sebelumnya, namun justru bicara soal topik baru dengan contoh yang baru.

Kekurangan lain, jika ingin menyebutnya sebagai kekurangan, dari buku ini adalah ada banyak sekali narasi yang minim referensi. Membaca buku ini terasa seperti sedang duduk di hadapan seorang bapak-bapak yang ngomong banyak soal kehidupan dan pengalaman hidupnya, punya sedikit “dalil”, dan dari caranya “berbicara”, muncul kesan bahwa bapak-bapak ini sedang menggurui dan argumennya sangat mungkin dibantah. Hal ini bisa terjadi entah karena memang demikian, atau karena faktor pengalihbahasaan.

Beberapa kutipan menarik pada buku ini antara lain:

  • Waktu Anda mati nanti, selalu masih akan ada urusannya selesai. Dan tahukah Anda? Orang lain lah yang akan menyelesaikannya! (Hal. 13)
  • Walaupun semua tingkah laku baik hati pasti sangat menyenangkan, akan menyenangkan bila kita melakukan perhatian tetapi tidak menceritakannya kepada siapa-siapa. (Hal. 17)
  • Manusia bukan lagi human being. Kita harus menyebut human doing. (Hal. 39)
  • Jangan lupa, “hidup bukanlah keadaan gawat darurat”. Walaupun banyak orang yang memercayai kebalikannya, kenyataannya adalah: hidup bukanlah keadaan darurat. (Hal. 49)
  • Bila sikap seseorang kita anggap aneh, bukannya bereaksi dalam cara yang bisa kita lakukan, misalnya, “aku tak mengerti mengapa mereka bersikap seperti itu”, kita justru akan berkata seperti ini kepada diri sendiri, “iya, aku mengerti, mungkin memang ini caranya memandang sesuatu dalam hidupnya. Menarik sekali.” Agar strategi ini membantu kita, kita harus benar benar tulus. (Hal. 100)

Setiap buku terjemahan sering kali punya PR besar dalam penerjemahannya. Salah satu yang menurut saya mengganjal ada pada kata “soap opera” yang diterjemahkan begitu literal menjadi  “opera sabun” (halaman 140). Jika dilihat dari konteks, kita tidak akrab dengan istilah opera sabun, bahkan mungkin banyak yang tidak tahu apa itu opera sabun. Alternatifnya, penerjemah bisa saja memilih kata “sinetron” atau “FTV” sebagai padanan kata yang lebih sesuai dengan khazanah pembaca buku bahasa Indonesia.

Terlepas dari kekurangan dan catatannya, buku ini tetap layak untuk dibaca dan diaplikasikan gagasan-gagasannya dalam kehidupn sehari-hari. Sebab sebagaimana disebutkan secara eksplisit di judul buku ini, kita sering kali membesar-besarkan masalah kecil yang seharusnya bisa kita atasi dengan mudah.

10 Oktober 2023

——-

Judul buku: Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar

Penulis: Richard Carlson

Jumlah halaman: 256

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tanggal terbit: 20 Mei 2019

ISBN: 9786020630267


Komentar