Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Pahami Prinsip Dasar Kepemimpinan Dengan Mudah!



Let's Talk About Leadership!

Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah kursus online di platform EdX berjudul Exercising Leadership: Foundational Principles. Kursus ini dimentori oleh Ronald Heifetz, M.D., seorang pendiri dan dosen senior di Center for Public Leadership, King Hussein Bin Talal Senior Lecturer in Public Leadership, Kennedy School of Government, Harvard University. Apa saja yang dipelajari di kursus itu? Berikut catatan singkatnya.

Introduction: Get on the Balcony

Ronald Heifetz mengibaratkan kita sedang menikmati sebuah acara pesta di aula besar. Jika kita diibaratkan sebagai tuan rumah pesta tersebut, tentu kita harus memastikan semuanya terlaksana dengan baik. Sajian makanannya, musik pengiringnya, lantai dansanya, keamanannya, dan lain-lain. Ada kalanya kita sebagai tuan rumah harus berbaur dengan para tamu, ada kalanya juga harus masuk ke dapur untuk melihat langsung bagaimana semua orang bekerja dengan optimal. Ronal bilang, ada baiknya kita tidak berbaur dulu di lantai pesta, tapi naiklah ke lantai dua dan melihat lantai pesta itu dari balkon. Sudut pandang dari balkon ini akan memberi kesempatan kepada kita untuk melihat keseluruhan acara secara lebih komprehensif. Kita bisa melihat bagaimana pelayan datang dari arah dapur menyajikan makanan, kita melihat siapa tamu yang duduk dan siapa yang berdiri, siapa yang berdansa dan siapa yang hanya menonton, dan lain-lain.

Maksud dari analogi ini adalah bahwa prinsip pertama yang harus ada dalam jiwa seorang pemimpin adalah kemampuannya untuk melihat segala sesuatu secara lengkap dan komprehensif.

  1. Identify the Work to Be Done:

    Identify the Work to Be Done adalah proses untuk menentukan semua pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Ini adalah langkah pertama dalam manajemen pekerjaan/proyek dan merupakan kunci keberhasilan proyek apa pun. Ronald membuat analogi seorang petani yang punya tangan, alat, dan pekerjaan. Tiga hal ini adalah perangkat yang harus ada agar seseorang bisa disebut petani. Petani juga harus paham apa yang bisa dilakukan oleh tangannya, apa yang harus dilakukan oleh alatnya, dan pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh tangan atau alat atau keduanya.

    Sebagai pemimpin, kita harus bisa membedakan dua hal: Technical Challenge dan Adaptive Challenge.
    • Technical challenge adalah tantangan yang dapat diselesaikan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan teknis yang ada. Tantangan ini biasanya bersifat mekanis dan dapat dipecahkan dengan mengikuti prosedur atau algoritma yang sudah ada.
    • Adaptive challenge adalah tantangan yang tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan teknis yang ada. Tantangan ini biasanya bersifat kompleks dan tidak pasti, dan membutuhkan perubahan dalam cara berpikir, bertindak, atau berorganisasi.

  2. Lead With, Beyond, and Without Authority
    Otoritas dalam kepemimpinan diperlukan untuk memberi tiga hal: arahan (direction), perlindungan (protection), dan perintah (order). Ada dua jenis otoritas yang dapat kita temukan dalam kepemimpinan: Formal Authority, dan Informal Authority. Bentuk otoritas formal adalah otoritas yang dimiliki seseorang berdasarkan struktur organisasi formal, seperti kepala desa, camat, kepala daerah, CEO perusahaan, manajer, dan lain-lain. Sedangkan otoritas informal adalah otoritas yang dimiliki seseorang atas dasar kredibilitas, penghormatan, kesepakatan sosial, kekaguman, cinta, dan lain-lain. Jenis otoritas informal adalah otoritas yang berubah, dinamis, bahkan fluktuatif. Ada banyak otoritas formal yang didapatkan justru karena dimulai dari otoritas informal.

  3. Take Action 
    1. Think Politically: How to identify the key perspectives of stakeholders
      Berpikir politis adalah seni mengidentifikasi masalah dan pekerjaan dengan melibatkan perspektif yang berbeda-beda. Cara pandang yang berbeda-beda ini perlu dihadirkan dalam mengeksplorasi suatu permasalahan berdasarkan kepentingan yang berbeda-beda. Dalam sebuah perusahaan/organisasi pasti ada struktur organisasi, maka seluruh stakeholders dalam struktur itu perlu dihadirkan perspektifnya dalam memandang suatu masalah/tantangan. Dari mulai CEO, manajer keuangan, manajer SDM, karyawan, kostumer, konsultan, semuanya perlu duduk di sisi meja yang sama dan menyajikan cara pandang dan kepentingannya masing-masing terhadap suatu permasalahan. 

    2. Build Trust: How to build and renew trust relationships
      Trust adalah keyakinan yang dimiliki oleh orang lain terhadap kemampuan dan integritas kita. Bedanya dengan authority adalah hak untuk memberi perintah dan mengharapkan kepatuhan. Perbedaan utama antara trust dan authority adalah bahwa trust adalah sesuatu yang harus diperoleh, sedangkan authority adalah sesuatu yang diberikan. Trust dibangun dengan waktu, usaha, dan konsistensi. Authority diberikan oleh posisi atau jabatan.

      Pemimpin yang efektif memiliki trust dan authority dari pengikutnya. Trust memungkinkan pemimpin untuk memotivasi dan menginspirasi pengikutnya. Authority memungkinkan pemimpin untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan.

      Beberapa isu kepercayaan yang terkait dalam dinamika kepemimpinan adalah adanya: 
      • Maladaptive Dependence, yaitu kondisi di mana seseorang menyimpan terlalu sedikit kepercayaan bahkan tidak percaya sama sekali kepada orang lain, atau sebaliknya terlalu memercayai orang lain secara berlebihan.
      • Counter-dependence, sikap sinis dan tidak percaya terhadap seseorang, bahkan memberikan reaksi berlawanan atas figur otoritas yang ada.
      • Independence, adalah kemampuan berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain. Interdependence berarti saling bergantung satu sama lain. Dalam kepemimpinan, independensi dan interdependensi adalah dua konsep yang saling melengkapi. Pemimpin yang efektif harus mampu menjadi mandiri dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan. Namun, mereka juga harus mampu bekerja sama dan berkolaborasi dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

        Contoh independensi: Pemimpin harus mampu mengambil keputusan yang sulit, bahkan ketika tidak ada orang lain yang setuju dengan mereka.
        Contoh interdependensi: Pemimpin harus mampu bekerja sama dengan orang lain dari berbagai latar belakang dan dengan berbagai keterampilan dan pengalaman.

    3. Orchestrate Conflict: How to approach conflict
      Orchestrate Conflict maksudnya adalah seni menciptakan dinamika dan ide/gagasan inovatif dengan cara memunculkan keberagaman yang terjadi dalam suatu organisasi. Sebuah organisasi pasti tidak akan lepas dari yang namanya konflik. Sebagai pemimpin, kita harus tahu bagaimana cara membuat konflik yang ada menjadi sebuah kondisi yang dinamis seperti sebuah pertunjukan orkestra. Alat musiknya beragam, namun menciptakan sebuah harmoni.

      Reaksi umum terhadap sebuah konflik dalam organisasi antara lain:
      • Inaction as action: seseorang memilih diam, atau status quo terhadap suatu permasalahan yang terjadi.
      • Appeal to authority: seseorang menyerukan otoritas untuk menyelesaikan konflik. Misalnya karyawan yang berkonflik dengan manajernya dapat meminta bantuan dari HRD untuk menyelesaikan konflik tersebut, atau dua negara yang berkonflik tentang wilayah dapat meminta bantuan dari PBB untuk menyelesaikan konflik tersebut.
      • Fight or Flight: Seseorang bisa saja menghadapi masalah itu atau justru meninggalkannya.

  4. Anchor Yourself: How to implement personal strategies for surviving and thriving amidst change
    Bagian ini adalah bagian paling personal. Seorang pemimpin harus punya orang kepercayaan untuk bisa curhat segala sesuatu, bisa menyimpan rahasia, bisa dipercaya sepenuhnya, namun harus orang di luar organisasi, sehingga orang tersebut tidak berpotensi menggunakan rahasia yang dibagikan untuk kepentingan tertentu.
    Selain itu, Ronald Heifetz dalam kursus ini juga menekankan pentingnya seorang pemimpin punya karakter yang bisa Holding Steady, yaitu kemampuan untuk bisa mengatur diri sendiri, kemampuan untuk tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus bicara, kapan harus bertindak, dan kapan harus merespon sesuatu. 
Itulah kiranya garis besar yang dipelajari dalam kursus tersebut. Untuk mengetahui materi dan penjelasan secara lebih lengkap, kamu dapat mengikuti kursusnya secara gratis di sini.

Komentar