Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Putri Ariani dan Menciptakan Inklusivitas di Sekitar Kita


Suatu hari di panti pijat tunanetra, seorang bapak-bapak tukang pijat bertanya ke saya, "Kang, motornya pake NMAX, ya?" tanyanya. "Iya," jawab saya, "kok bisa tau, Kang?" tanya saya penasaran. Saya sempat curiga bahwa butanya dia cuma gimmick. "Saya bisa hafal dari suara gerungan-nya!" jawabnya sambil terkekeh. Lalu bapak ini berkelakar lebih panjang soal suara motor Supra, Vario, dan moge. Singkat cerita, saya pun dipijit oleh bapak itu, sementara saya masih terkagum-kagum sama kemampuan bapak ini bisa hafal jenis-jenis motor dari suaranya.

Sambil mijit, ia bilang, "sebenarnya saya dari dulu pengen banget beli NMAX, tapi sampe sekarang gak jadi terus!"
"Loh, kenapa gak dijadiin aja, Pak?" tanya saya sekenanya.
"Bukan gak mau, tapi saya bingung bawanya!" Seketika hening, lalu kami ngakak bareng. Ini jokes gelap banget.

Beberapa saat kemudian, ketika ia memijat bagian betis, ia bertanya, "Si Akang kerjanya sering berdiri, ya? Atau sering jalan kaki?"
"Iya, Pak, sering berdiri, sering jalan juga."
"Oh, pantesan, bagian sininya kenceng banget!" katanya sambil menekan bagian betis tertentu.
"Bisa keliatan gitu, ya, Pak?" respon saya spontan.
"Hmm ... saya gak ngeliat, sih!" Aduh, gelap lagi nih.

Obrolan dengan tukang pijat tunanetra itu terjadi kira-kira dua tahun lalu, dan nampaknya berkat interaksi dengan tukang pijat itulah saya baru punya gambaran bagaimana cara tunanetra melihat dunia. Di pertemuan berikutnya, tukang pijat itu sudah tidak lagi ngomongin suara motor, tapi lebih sering ngomongin Jokowi dan pemerintah, yang katanya sering ia dengar beritanya di radio atau "nonton" video Youtube. 

Singkat waktu beberapa hari lalu, bertemulah saya dengan Putri Ariani, anak 17 tahun yang bahasa Inggrisnya bagus, tingkah lakunya sopan, suka makan gorengan, suka makanan pedas, dan senang bercerita. Saya dan orang tuanya sudah bertukar kabar sejak hari pertama video audisi Putri viral di AGT. Saya kira, peran saya hanya sebatas membantu bapaknya mengisi form aplikasi visa, ternyata ditakdirkan juga bertemu langsung.

Saya harus jujur bahwa saya bukan pengagum berat Putri, bahkan lagu-lagunya yang saya tahu hanya yu brik may heurt yu brik may heurt. Tapi saya juga harus jujur bahwa sosok Putri adalah inspirasi yang nyata bagi banyak orang. Inspirasi bagi anak muda, inspirasi bagi teman-teman disabilitas, juga inspirasi bagi orang tua yang dikaruniai anak-anak penyandang disabilitas. Sebab tidak sedikit orang tua yang merasa putus asa, bahkan merasa gagal sejak awal, ketika dikarunia anak-anak dengan keterbatasan.

Selain pada suaranya yang bagus dan permainan pianonya yang lihai, saya kagum akan kemampuan Putri yang bisa mengetik pesan di hape layar sentuh dengan tepat tanpa typo. Sebelumnya saya mengira kalau dia membalas pesan atau membalas komentar warganet di media sosial, ia akan menggunakan fitur rekam suara. Tapi ternyata, ia mengetik sebagaimana kita mengetik. Mungkin bisa kita coba skill mengetik kita di layar ponsel sambil merem, kayanya kecil kemungkinan akan tepat. Tapi hebatnya Putri bisa melakukan itu.

Tentu ada banyak kelebihan lain yang ia miliki yang barangkali tidak saya tangkap semuanya dalam pertemuan saya selama dua hari kemarin. Tapi poinnya, pertemuan saya dengan Putri semakin menyadarkan saya bahwa inklusivitas itu diperlukan dan mesti diciptakan. Dalam dunia yang seringkali didominasi oleh pandangan visual, popularitas Putri merupakan momentum, setidaknya bagi saya pribadi, untuk kembali melihat bagaimana kita dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan teman-teman tuna netra merasakan keindahan dan kompleksitas dunia dengan cara yang sama dengan kita yang memiliki penglihatan. Tidak hanya bagi tuna netra, tapi juga penyandang disabilitas lain yang barangkali selama ini tidak semua orang menganggap kehadirannya sangat penting, sebab banyak orang yang tidak secara langsung berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Pun pada bagaimana kita bisa melihat mereka sebagai manusia yang memiliki bakat, kreativitas, dan kecerdasan, bukan hanya melihat mereka melalui lensa keterbatasan belaka.

Sebagai intermezo, pernahkan kita mencoba bagaimana cara menjelaskan warna merah kuning biru kepada orang yang buta? Bagaimana pula cara menjelaskan bunyi gitar dan piano kepada orang yang tuli?


Saya kagum pada beberapa bioskop di Amerika yang meski menayangkan film berbahasa Inggris, ternyata ada juga studio yang khusus menampilkan film ber-subtitle bahasa Inggris. Mungkin sama anehnya ketika kita menonton film berbahasa Indonesia tapi ada tampilan bahasa Indonesianya di setiap percakapan. Hal ini, salah satunya, adalah alat bantu supaya teman-teman tuli bisa turut menonton film dan mengikuti setiap alurnya meski tanpa bisa mendengar iringan musik atau dialog para aktor. Begitu pun jika menonton film di banyak platform film seperti Netflix atau Prime, ada banyak film yang punya opsi Audio Deskripsi, di mana setiap adegan dideskripsikan melalui narasi yang detil. Tentu fitur ini banyak membantu bagi Putri Ariani dan teman-teman tuna netra lain ketika menonton sebuah film.

Kalau mau dibicarakan lebih serius, adagium "We are able, capable, and equal" yang belakangan ini selalu diucapkan Putri adalah isu besar yang perlu melibatkan banyak pihak. Untuk mewujudkan spirit itu dalam kehidupan bermasyarakat saat ini, barangkali perlu pendekatan holistik yang mencakup pendidikan inklusif, teknologi, kesadaran masyarakat, dan peluang sosial, di mana tuna netra dan penyandang disabilitas apapun dapat dilihat sebagai individu yang berbakat dan berkontribusi pada masyarakat dengan cara yang bermakna. Dengan menciptakan lingkungan yang inklusif, kita bukan hanya merangkul mereka sebagai manusia yang setara, tetapi juga merenungkan kekayaan keragaman manusia dan memperkaya masyarakat secara keseluruhan.

3 Oktober 2023

Komentar