Seni Menyampaikan Substansi dalam Tulisan

Tesis: Meletakkan Ide ke dalam Kalimat Bagian terpenting dari sebuah argumen adalah substansinya, inti dari argumen, gagasan utama yang hendak dikomunikasikan, atau poin utama yang hendak dibuktikan. Hal ini seringkali disebut juga dengan sebutan Tesis: sebuah pernyataan argumentatif yang disajikan dalam satu kalimat deklaratif. Langkah pertama dalam membuat tulisan persuasif adalah dengan menuliskan satu kalimat utama yang menjadi ruh utama dalam argumen yang dibuat. Sebagai contoh, kalimat tesis yang bisa dibuat adalah: Pendidikan Lingkungan Hidup adalah Pelajaran Ideal untuk Mengenalkan Alam ke Siswa Didik Setelah punya pernyataan yang jelas dan substansial, tulisan argumen pun siap dibangun untuk memperkuat gagasan tersebut. Mode-Mode Penyampaian Sejak zaman Aristoteles, para retorikawan telah mengidentifikasi tiga mode utama penyampaian yang dapat kita gunakan untuk meyakinkan audiens. Aristoteles menyebutnya dengan istilah "bukti seni," karena mode-mode ini membutuhkan

Gadis Kretek: Novel vs Series, Lebih Seru Mana?



Gadis Kretek menjadi naik daun sejak ceritanya disajikan dalam bentuk serial Netflix, meski versi novelnya sudah terbit sejak 2012 lalu. Serial ini terbilang cukup sukses dinikmati dan dibicarakan publik, sehingga tak heran jika muncul pertanyaan soal lebih bagus mana cerita ini dalam sajiannya, versi novel atau versi film?

Gadis Kretek adalah novel fiksi historis karya Ratih Kumala yang menceritakan sejarah rokok kretek di Indonesia, dibumbui kisah cinta yang rumit dan tragedi sejarah yang kelam antartokohnya. Bumbu asmara yang rumit ini dimulai ketika pemilik kretek Djagad Raja terkapar di ranjang kematian sambil mengigaukan nama seorang perempuan bernama Jeng Yah. Ketiga putranya beradu waktu dengan malaikat maut, menyusuri masa lalu sang ayah demi menemukan Jeng Yah. Siapa dia dan mengapa Soeraja, sang pemilik kretek Djagad Raja, meracaukan namanya?

Intro yang sama juga dipakai dan ditampilkan Gadis Kretek dalam versi seriesnya. Bagian pertama ini menjadi cerita pembuka di bab pertama novel dan di episode pertama series, yang membuat pembaca dan penonton penasaran soal misteri yang hendak diceritakan. Kamila Andini dan Ifa Isfansyah dibesut sebagai chef di balik dapur produksi series Netflix ini. Cerita yang seru dan menarik, dipadu dengan jajaran aktor yang berperan dengan baik berhasil menciptakan sebuah karya yang mengesankan. Tentu publik tidak akan ragu ketika sebuah film dibintangi oleh Dian Sastro, Ario Bayu, Putri Marino, dan aktor papan atas lainnya.

Nah, pertanyaannya adalah apa bedanya Gadis Kretek versi novel dan versi series? Mari kita ulas.

Alur Cerita

Gadis Kretek versi novel punya rentang waktu kisah yang lebih panjang dibanding versi series. Versi series fokus pada kisah Jeng Yah ketika dewasa dan bertemu dengan Soeraja, sementara dalam versi novelnya, ceritanya dimulai sejak masa muda sang ayah, Idroes Moeria. Idroes diceritakan sejak ia bekerja sebagai pegawai di perusahaan klobot milik Pak Trisno. Perjuangan cinta Idroes juga tak kalah menarik untuk dilewatkan, mulai dari usahanya belajar baca tulis demi mendapatkan Roemaisa yang berbeda kasta, juga proses belajar merintis bisnisnya hingga sempat ditangkap Jepang dan diasingkan. Di versi novel, dikisahkan pula kondisi ketika Roemaisa sudah menikah tapi menjalani hidupnya seorang diri tanpa kepastian apakah Idroes masih hidup atau tidak ketika Idroes ditawan Jepang.

Meski kisah asmara Dasiyah dan Soeraja sudah disorot sejak episode pertama seriesnya, dalam novelnya justru kisah asmara Dasiyah atau Jeng Yah dan Soeraja baru dimulai di halaman 156, di mana dikisahkan Dasiyah berkenalan dengan Soeraja sebagai kuli panggul di pasar. Artinya, dari awal sampai setengah novel berjalan, cerita Jeng Yah belum sama sekali dimulai. Tidak seperti di series yang dari awal sudah ditunjukkan sebagai tokoh utama.

Salah satu konflik dalam kisah percintaan mereka dalam series adalah Idroes yang tidak merestui cinta Jeng Yah dan Soeraja. Kontras dengan cerita di novel yang sepenuh hati mendapatkan restu dan menerima kehadiran Soeraja di keluarga mereka dengan lapang dada. 

Asmara yang membumbui cerita ini tidak hanya soal Jeng Yah dan Soeraja, tapi versi novel juga menyajikan kisah persaingan Idroes dengan Soedjagad yang bersaing mendapatkan hati Roemaisa. Soedjagad dan Idroes punya karakter dan kisah yang kuat dalam versi novel, karena keduanya tidak hanya bersaing dalam urusan bisnis, tapi juga asmara. Hal ini yang tidak banyak disoroti dalam series, kecuali hanya sekilas saja.

Di versi novel, tokoh Lebas dan Tegar (kakak beradik) dikisahkan pergi ke Kudus sebagai langkah pertama mencari tahu misteri masa lalu ayahnya (Hal. 159). Sementara dalam series, Lebas justru pergi sendirian dari Jakarta ke Kota M, bukan Kudus, dan tempat tujuannya adalah Museum Kretek; satu tempat baru yang tidak disebut dalam novel.

Sejak bagian ini pula, versi series memperkenalkan tokoh bernama Arum sebagai teman perjalanan Lebas dalam memecahkan misteri. Sementara dalam novelnya, Lebas mencari Jeng Yah dengan kedua kakaknya, Karim dan Tegas. Nama Arum justru hanya muncul satu kali di bagian akhir cerita (Hal. 256), dan tidak dikisahkan sebagai seorang perempuan berprofesi dokter. 

Isu Kesetaraan Gender

Dasiyah sejak lahir sudah menjadi kebanggaan sang ayah. Masa kecilnya digambarkan sebagai anak gadis yang ceria, pintar, akrab dengan para pelinting, bahkan ketika menginjak remaja, Dasiyah sangat pandai melinting dan menggunakan air liurnya sebagai jimat yang membuat kreteknya begitu nikmat. Kolega bisnis ayahnya rela membeli mahal demi merasakan nikmatnya kretek buatan Dasiyah. Gambaran ini merupakan kontras yang tidak didapatkan ketika kita melihat Gadis Kretek versi series. 

Dasiyah dalam novel tak pernah mengalami rintangan dalam berkarya, bahkan tidak pula disinggung soal mitos bahwa perempuan tidak boleh meracik saus kretek. Lihat misalnya pada penggalan berikut: "Jeng Yah melengos mendengar ucapan Soeraja yang berapi-api. Dia acuh dan langsung menuangkan cairan saus campuran ke dalam alat semprot." (Hal. 215). Dasiyah bisa sangat terang-terangan meracik dan membuat saus di depan orang lain. Sementara dalam series, jangankan meracik, memasuki ruang racik saja tidak boleh. Dasiyah dalam cerita series harus sembunyi-sembunyi jika ingin meracik saus kretek agar tidak ketahuan ayahnya, atau orang-orang di sekitarnya. Sejak episode pertama, isu gender ini sudah muncul di menit-menit awal. Secara tegas penulis naskah dan sutradara memberi penekanan soal isu ini. Dari narasi Dasiyah yang bercita-cita ingin menjadi peracik saus kretek, juga gambaran bagaimana lingkungan meremehkannya.

“Perempuan tahu apa soal kretek.” Ucap tokoh penjual tembakau ketika meragukan pendapat Dasiyah soal kualitas tembakau yang hendak dibeli bapaknya di pasar.

Bagian ini menjadi hal baru yang hanya ada di dalam Gadis Kretek versi series, bahkan terbilang sukses mengangkat isu kesetaraan gender yang lazim terjadi di zaman itu.

Jika kamu pernah menyaksikan lakon monolog tentang Kartini yang isinya sering bicara soal isu kesetaraan, series Gadis Kretek ini terasa punya semangat dan warna yang sama.

Karakter Lebas

Karakter Lebas yang diperankan oleh Arya Saloka dalam series digambarkan sebagai anak bungsu keluarga Soeraja yang berandalan, tidak banyak kontribusi terhadap perusahaan keluarga. Di episode pertama sempat disinggung sekilas bahwa pekerjaannya sebagai kepala marketing perusahaan ayahnya. Sementara dalam novel, Lebas digambarkan lebih berandal, lebih urakan, berbulan-bulan tidak pulang ke rumah, dan bekerja sebagai produser film-film horor murahan yang tak kunjung disetujui kakak-kakaknya tiap kali meminta perusahaannya sebagai sponsor.

Partai Merah

Isu G30S/PKI menjadi satu bagian historis yang membuat cerita Gadis Kretek menjadi menarik. Dalam novel, Ratih Kumala sebagai penulis sangat terang-terangan menyebut “PKI” dalam banyak narasi. Sementara dalam series, narasinya agak malu-malu. Lema “Partai Merah” digunakan sebagai simbol partai yang dilarang pemerintah. 

Dalam versi series, Soeraja dijebak oleh Soedjagad dengan fitnah bergabung ke partai tersebut. Fitnah tersebutlah yang menjadi petaka bagi keluarga Idroes dan perusahaan kreteknya. Sementara dalam novel, Soeraja justru secara sadar bergabung dengan partai tersebut, dengan dalih mencari sokongan dana untuk merintis usahanya. 

Penonton series dapat menyaksikan betapa sulitnya kehidupan Jeng Yah setelah keluarganya dituduh terlibat dengan Partai Merah. Ayahnya meninggal dan ia harus menghadapi penahanan tanpa tahu berapa lama. Di sisi lain, Soeraja berusaha mencari perlindungan di bawah naungan keluarga Soedjagad, saingan Idroes. Soedjagad yang secara sengaja menjebak Idroes dan keluarganya membuat Soeraja terjebak dalam dilema yang sulit. Meskipun masih mencintai Dasiyah dan enggan meninggalkan keluarga Idroes Moeria yang memberinya tempat, Soedjagad justru yang menjadi pemberi peluang untuk Soeraja bertahan hidup dan mewujudkan mimpinya.

Serial Gadis Kretek menggambarkan kehidupan keluarga korban G30S yang penuh kesedihan. Dalam bertahun-tahun, mereka terus menderita dampak tragedi tersebut. Rukayah terus menangis setiap kali nama Dasiyah disebut, ia terjebak dalam trauma saat kakaknya dan ayahnya ditangkap dan ditahan oleh aparat.

Dalam versi novel, tragedi tersebut diuraikan dengan lebih rinci, tapi dengan korban yang berbeda. Idroes Moeria dan Dasiyah selamat dari penangkapan aparat, namun sebagai gantinya, Soeraja harus hidup sebagai buron. Pada akhirnya, Soeraja terpaksa memilih untuk menjalani hidup bersama Purwanti, putri Soedjagat, karena ia tidak lagi dapat kembali kepada Dasiyah.

Perbedaan Epilog

Di bagian akhir cerita, pembaca novel diberi tahu bahwa sebenarnya ada dua Jeng Yah, sesuatu yang tidak disebut dalam versi series. Jeng Yah  pertama adalah Dasiyah, sementara Jeng Yah kedua adalah Rukayah, adiknya Dasiyah. Keduanya dipanggil Jeng Yah pada periode yang berbeda. 

Sosok Arum dalam series sejak awal tahunya bahwa ia anak Jeng Yah Rukayah, dan baru dibongkar di akhir bahwa sebenarnya Jeng Yah Dasiyah adalah ibu kandungnya. Sementara dalam novel, justru Arum sudah tahu sejak kecil bahwa Dasiyah adalah ibu kandungnya, dan ia dirawat oleh Rukayah sampai besar.

Sebagai catatan akhir, saya menemukan dalam Gadis Kretek versi novel adalah adanya beberapa salah ketik, seperti penulisan kata "sedag" (“sedang”, halaman 210), “beberpa” (“beberapa”, halaman 212),  dan kekurangan tanda baca pada, “semua telah dicicipnya (harusnya ada tanda baca titik setelah kalaimat tersebut) Dicobanya resep yang ada, dimasukannya sendiri, ..."

Selain itu, versi novel ternyata secara gamblang punya sisipan dan gambaran agama Islam sebagai agama yang dianut para tokohnya. Sementara dalam series, penonton tidak sama sekali diberi tahu sebenarnya para tokoh ini menganut sebuah agama atau tidak.

Kesimpulannya, Gadis Kretek baik novel maupun series punya keunikannya masing-masing. Keduanya sangat bisa dinikmati tanpa perlu ada rasa "saling mengkhianati" satu sama lain. Perbedaan ceritanya tidak membuat pembaca novel kecewa, atau tidak membuat penonton series menjadi tidak minat pada cerita novelnya. Justru perbedaan dalam cerita, tokoh, penokohan, dan alurnya menjadi elemen-elemen yang saling melengkapi dua medium ini.

Komentar