Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Catatan Perjalanan Pentas PAI 2011


 .:: 28-29 Mei 2011::.

Jawaban dari segala kegalauan 

Lomba Khutbah Jum’at Tingkat Provinsi  ǀ PENTAS PAI (Pekan Seni dan Kreativitas Siswa Pendidikan Agama Islam) V ǀ Pondok Pesantren Darulfalah, Bandung Barat ǀ Mewakili Kabupaten Purwakarta.

Sebuah surat kaleng membawaku pada kondisi yang sangat tidak aku inginkan. Aku diancam akan dikeluarkan dari pesantren, dan sejujurnya tidak ada hari tergalau dalam hidupku selain hari ini. Tiba-tiba aku jadi ganteng, sangat ganteng, meskipun semua orang tahu bahwa seminggu yang lalu aku berdiri di bawah terik matahari kota purwakarta lebih kurang 3 jam. Aku diintruksi guru fiqh dan guru al-qur’an untuk mewakili sekolah dalam lomba khutbah jum’at tingkat kabupaten. Aku menang, dan mendapat tiket kehormatan untuk melaju ke tingkat provinsi. Keadaan menjadi semakin ganteng, meski dalam lingkungan yang masih galau.

Selain aku, ada pula empat orang temanku yang mewakili Purwakarta dalam lomba nasyid. Emiel Nasrulloh, Rifal Nur Alam, Khaidir Maulana, dan Yusup Aswien Perdana. Kita berlima berangkat dengan mobil kijang kapsul milik yayasan menuju Cihampelas, Cililin, Bandung. Tepatnya di sebuah pesantren yang cukup jauh dari keramaian kota. 

Pukul 09.00 WIB, kita tiba di lokasi dan langsung registrasi. Panitia memberi sebuah pin, snack, peta lokasi, jadwal kegiatan, dan tiket makan. Kita kira perlombaan ini hanya satu hari, ternyata dua hari. Aku dan teman-temanku tidur di kamar lantai tiga. Tepatnya ruangan kelas sekolah yang disulap menjadi sebuah kamar. Ada banyak orang di sana, mungkin sekitar 20 orang. Awalnya, membayangkan lomba tingkat provinsi adalah sebuah hotel berfasilitas lengkap. Tapi,,,,

Tak lama setelah solat dzuhur, pawai kontingen dimulai, acara pembukaan dimulai di sebuah aula yang cukup luas. Selesai acara pembukaan, dlanjutkan dengan pengambilan nomor undian lomba. Nomor 06.

Lomba Khutbah Jum’at dilaksanakan setelah solat asar, di sebuah ruangan kelas. Satu per satu peserta tampil, hingga akhirnya giliran aku. Langit semakin sore, alam pun tengah mempersiapkan diri untuk menyambut waktu magrib. Kelas sedikit gelap, karena ternyata tidak ada alat penerangan di ruangan itu, selain mengandalkan cahaya alam dari jendela. Dalam keadaan seperti itu, aku tampil. Banyak kekhawatiran yang aku rasakan ketika tampil. Pertama, belum hafal betul teks khutbahnya. Kedua, peserta sebelum aku sangat memukau juri, meski pada akhirnya ia mengecewakan dengan cara berkhutbah di luar mimbar. Ketiga, dilarang bawa teks ke atas mimbar. Keempat, guru pembimbing aku menyaksikan aku di kursi paling belakang. Kelima, cahaya yang sedikit gelap membuat juri tidak dapat melihat kegantengan aku dengan jelas, sepertinya. (hoex).

Selesai.

Keluar ruangan langsung solat magrib. Biar segar, aku langsung keluar pesantren melihat-lihat kondisi sekitar. Ada warnet! Langsung ke warnet bertarif Rp. 2000 per jam. Satu jam habis, kembali ke kamar, makan, langsung ke aula tempat pembukaan dengan keempat teman aku. Kita narsis, foto-foto dengan piala yang terpajang rapi di atas panggung. Tentunya sambil berdoa agar piala itu bisa dibawa pulang besok.

Minggu pagi yang indah. Diawalai dengan ngantri mandi di kamar mandi yang hanya 2 buah (sedangkan yang ngantri puluhan), jalan-jalan menelusuri jalanan Cililin, sarapan, dan menyaksikan kontingen Purwakarta tingkat SMP yang masuk grand final Lomba Cerdas Cermat melawan kontingen Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten  lupa lagi. 

Pukul 10.00 WIB. Acara penutupan dan pengumuman pemenang. 

Tim Nasyid SMA : Juara Harapan 3

Tim LCC SMP : Juara 2

MTQ SMP : Juara Harapan 3

Khutbah Jum’at : Juara 1 (Horee….)

Aku merasa semakin ganteng dengan tiket kehormatan menuju Nasional 


.:: 3 Juli 2011 ::.

Seragam Baru, Semangat Baru

Technical Meeting  kontingen Jawa Barat ǀ Latihan Bersama dan Evaluasi  ǀ Pelepasan kontingen oleh Kepala Kanwil Kemenag Jabar  ǀ Aula Kantor Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat ǀ Bandung

 >> 6 kategori lomba di tingkat nasional : tingkat SD (MTQ, Pidato), tingkat SMP (LCC, Pidato), tingkat SMA (Khutbah Jum’at, Nasyid Accapella) 

>> MTQ SD diwakili Kab. Cianjur dan Kab. Bandung Barat. Pidato SD diwakili Kab. Bandung Barat.

>> LCC SMP diwakili Kab. Bandung (SMPN 1 Cicalengka). Pidato SMP diwakili Kab. Bandung Barat (SMPN 2 Gunung Halu)

>> Khutbah Jum’at SMA diwakili Kab. Purwakarta (SMA Al-Muhajirin). Nasyid diwakili Kab. Bandung Barat (SMAN 6 Kota Bandung)

>> Pembagian seragam kontingen


.:: 12-16 Juli 2011 ::.

Cerita baru saja dimulai : galau pergi, kegantengan datang

PENTAS PAI V Tingkat Nasional  ǀ Asrama Haji, Bekasi, Jawa Barat ǀ  

Tak banyak cerita tentang hari ini, selain rasa senang dan bangga bisa menyimpan nama kotaku di pundak. Ada banyak warna yang hadir menghiasi kota bekasi di lima hari yang takkan terlupakan dalam hidupku, juga dalam hidup mereka yang menyimpan nama kotanya di pundak 384 orang dari 32 Provinsi yang hadir. 

Di pondokku, santri baru tiba hari kemarin dan baru merasakan malam pertama di pesantren. Baru satu malam bercengkrama dengan wajah-wajah baru, hari ini (12/07) aku berangkat ke Bekasi dengan doa ribuan orang. Pukul 13.00 WIB mobil milik Kanwil Depag Jabar datang menjemput. 

Di tengah perjalanan, kita beristirahat sejenak di Rest Area Cikarang, menunggu rombongan yang lain. Ada Tim Cerdas Cermat dari SMPN 1 Cicalengka (Rafida, Ulpi, Rofi), Tim Nasyid Shoutudz-zikri (Akbar, Jayu, Yuri, Bagus), Pidato dari SMP Gunung Halu (Agus), Pidato SD Bandung Barat yang lupa nama sekolahnya (Yolanda), dan Tim MTQ SD. Pukul 14.00 WIB tiba di Asrama Haji, check in, menuju kamar dan istirahat. 

Gedung MINA A Lt. 3 kamar 302 – kamar 303. Semangat ’45, membawa tas besar, menaiki tangga. Gedung keren tanpa memiliki fasilitas lift. Satu kamar, 4 ranjang bertingkat. Satu kipas di langit-langit, satu buah AC, tak mampu mengusir panasnya udara Kota Bekasi. Selamat Istirahat  

Pukul 20.00 WIB. Technical Meeting di Aula Muzdalifah. Pengambilan undian tampil : Nomor 10.

.:: 13 Juli 2011 ::.

Pagi yang cerah diawali dengan Pawai Kafilah dan Upacara Pembukaan. Kontingen Jawa Barat memasuki lapangan di urutan kesebelas dengan gelar Juara Umum tahun lalu. Lapangan dengan udara yang cukup panas pun sangat ramai dengan reporter TV, fotografer (amatir & professional), panitia, dan senyuman bahagia. 

Acara dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Agama. Dua jam berlalu, dan lomba pun dimulai. Tepatnya setelah solat asar, aku tampil di sebuah aula kecil. Mungkin biasa digunakan untuk rapat-rapat kecil, atau diskusi. Di babak penyisihan ini, judul khtbah yang dibawa adalah "TOLERANSI BERAGAMA BERKACA PADA PIAGAM MADINAH".  Selesai, keluar ruangan, solat magrib, jalan-jalan ke XII Mega Bekasi. Ada film baru!!

.:: 14 Juli 2011 ::.

Pukul 10.00 WIB. Pengumuman Finalis semua cabang lomba.

Semua kontingen Jawa Barat masuk final, kecuali Tim Nasyid. Saat seperti inilah, kita menjadi sangat bingung, antara merayakan kebahagiaan dan kesedihan melihat bagaimana keputus-asaan yang begitu jelas terlihat pada wajah keempat teman nasyid yang lain. 

‘being frustrated over this game’ kata salah seorang.

Pukul 13.30 WIB ǀ Tim LCC Final melawan Provinsi Kalimantan Selatan, Gorontalo, Bengkulu ǀ Pidato SMP (Agus) final ǀ MTQ SD final ǀ Pidato SD (Yolanda) final ǀ 

Pukul 18.30 WIB ǀ Khutbah Jum’at final ǀ Urutan Ketiga ǀ

Tema kedua : Birru Al-Walidaini (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)

Terdiri dari 3 orang juri (Juri Penyimak Bacaan Al-Quran & Salawat, Juri Penyelaras Rukun, Syarat, Intonasi, Mimik Muka & Gesture, Juri Penyimak Kesesuaian Tema & Isi), 1 orang pengatur waktu (mulai = lampu hijau, 13 menit = lampu kuning, 15 menit = lampu merah), 1 orang peng-in put data nilai (setelah tampil, nilai langsung ada), dan 1 orang moderator acara.


.:: 15 Juli 2011 ::.

Pukul 10.00 WIB. Tim LCC masuk Grand Final melawan Provinsi Bengkulu, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Sumatra Barat

Pukul 20.00 WIB ǀ Acara Penutupan ǀ Pentas Seni ǀ Pengumuman Pemenang 

LCC SMP Juara 1 (Juara 2 JATIM, Juara 3 BENGKULU)

Pidato SMP Juara 2

Pidato SD Juara Harapan 1

MTQ SD Juara 1

Khutbah Jum’at Juara 3 (Juara 1 JATIM, Juara 2 SUMBAR)

Debat antarSMA Juara 1 (tidak termasuk PENTAS PAI, tapi diadakan KEMENAG secara terpisah)

Dengan Prestasi ini, Jawa Barat menjadi Juara Umum Bertahan dan berhak mendapatkan tropi Wakil Presiden.

.:: 16 Juli 2011 ::.

Akhirnya, hanya kepada Allah tempat mengembalikan segala sesuatu. Semoga, pengalaman yang berharga ini dicatat-Nya sebagai satu amal ibadah, wasilah kebaikan yang bermanfaat bagiku, bagi semua yang hadir dalam acara ini, bagi negeriku, dan agamaku.

Ucapan terima kasih tak henti-hentinya aku ucapkan kepada semua pihak yang telah turut mensponsori kegiatan yang baik ini, terutama untuk pihak sekolah SMA Al-Muhajirin, Pemkab Kabupaten Purwakarta, Kanwil Depag Jabar, Orang Tua & Keluarga, Pak Marfu, Ust. Oman, Ayah Taufiq Arief (alm), Pak Ahmad, Rekan Kontingen, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik moril maupun materil.

Komentar