Khutbah Jumat - Dialog Surat Al-Fatihah

Salah satu rukun yang wajib ada dalam tiap rakaat salat adalah bacaan surat Al-Fatihah. Surat ini tidak hanya sebagai bagian dari salat, bahkan disebut sebagai inti dari salat. Setidaknya dalam sehari semalam, seorang muslim bisa dipastikan akan membaca surat ini sebanyak 17 kali dalam salat fardu. Apalagi jika ditambah dengan salat sunah, atau momentum lain di luar salat, tentu intensitasnya akan makin banyak lagi. Namun pertanyaanya, sudah seintens apa pemahaman kita atas bacaan yang setiap hari dirapalkan tersebut? Apakah surat Al-Fatihah ini sudah benar-benar menjadi bagian dari cara kita berkomunikasi dengan Allah dalam setiap salat, atau jangan-jangan surat ini dibaca hanya sebatas pelengkap salat dan formalitas ibadah belaka? Sudah seyogyanya seorang muslim menghayati dan meresapi rahasia agung yang terkandung di dalamnya; sebab ia tengah bermunajat kepada Rabbnya. Dengan demikian, hatinya akan lebih khusyuk, lebih tahu atas apa yang ia ucapkan, dan lebih mungkin untuk bisa memb

Lebih Dekat Dengan Tradisi Nadhoman

Tergerusnya kearifan lokal oleh pelbagai macam penetrasi budaya yang ekstern, telah menjadi satu perbincangan klise yang sampai saat ini masih tak kunjung menemukan titik terang. Hilangnya kebanggaan terhadap tradisi nenek moyang, merupakan satu titik tolak keterombang-ambingan jati diri suatu bangsa, imprealisme pemikiran, degradasi moral, dan bibit robohnya suatu peradaban. Tinjauan kultur dalam kaca mata religi, selama ini memang masih sangat jarang digeluti khalayak ramai, sehingga keterjebakan masyarakat dalam asumsi religi yang menurutnya harus selalu dogmatis, telah menjadi jurang pemisah keharmonisan antara budaya dan nilai transendental itu. Sehingga, religiusitas yang hendak dilahirkan suatu budaya, perlu melakukan usaha keras untuk menata pola pikir masyarakat yang demikian. Bukan usaha seseorang memahami kulturnya (Hermeneutic Culture), namun yang terjadi justru kultur yang berusaha memahami masyarakat.    

Padahal, secara eksplisit kita ketahui bahwa religi merupakan satu dari tujuh unsur suatu kebudayaan. Tidak dapat diabaikan begitu saja, apalagi dipisahkan. Karena pada dasarnya, kebudayaan lahir dari kebiasaan masyarakat yang percaya akan adikodrati, dan tanpa dapat dipungkiri, masyarakat juga butuh akan kebudayaan. Maka, sudah saatnya tradisi lokal yang mewakili segala ekspresi sejati dari masyarakatnya kembali diangkat ke permukaan, kembali diperbincangkan, dan kembali diimplementasikan dalam kehidupan yang lebih nyata.

Tradisi Nadhoman Sebagai Tradisi Lisan

Tradisi Lisan di Indonesia sangatlah banyak ragamnya. Pluralitas inilah yang membuat Indonesia begitu istimewa, memiliki nilai lebih, dan mampu bertahan dalam corak heterogenitas yang sangat arif dan timur. Sejatinya manusia, sebagai makhluk sosial yang senantiasa melakukan interaksi dengan lingkungannya, bersosialisasi dengan sesamanya, dan ekranisasi dalam kebudayaannya, mendorong terjadinya perubahan-perubahan unsur, baik penambahan, pengurangan atau pun pergeseran unsur budaya. Ditambah lagi dengan angin moderenisasi dan westerenisasi yang merebak, tak heran jika perubahan itu bergeser pada makna yang lain : kepunahan. Tradisi Nadhoman sebagai kultur khas Indonesia, khususnya bagi Masyarakat Sunda perlu dikelola dengan baik sebagai satu wasilah kebaikan, warisan berharga dari nenek moyang. Agar kepunahan juga tidak menimpa tradisi ini, maka sudah sepatutnya didekati dengan berbagai macam pendekatan, termasuk di dalamnya sebuah pendekatan etnografi. Keunikan tersendiri dari tradisi nadhoman, juga merupakan satu faktor tersendiri yang membuatnya menjadi layak untuk diteliti. Kekuatannya yang hadir dalam konteks pendidikan, sejarah kelahiran, nilai religi, dan prospeknya dalam masyarakat sunda, menjadikan keunikan tersebut terasa begitu sempurna. 

Penyebaran tradisi ini dilakukan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Meski jaman dahulu masyarakat belum mengenal betul budaya literasi (baca tulis), tetapi masyarakat dapat dengan mudah menghafalnya karena frekuensi penggunaannya yang bisa dibilang tinggi. Tentu, pendengaran adalah alat indra terbaik untuk meniru, sehingga tanpa tulisanpun, anak-anak bisa langsung mengingatnya, bahkan hafal betul. Oleh karenanya, tradisi nadhom digolongkan  sebagai bagian dari folklore lisan atau tradisi lisan, dalam dalam disiplin ilmu antropologi, maupun dalam catatan etnografi.

Merekatkan Hubungan dengan Tuhan

Berkaitan dengan tradisi nadhoman, religi adalah unsur paling menonjol dalam tradisi tersebut, secara kontekstual. Nadhoman yang juga secara religi hanya memiliki penutur umat muslim, adalah satu tradisi di mana mereka menyampaikan puji-pujiannya kepada Sang Kholik di luar ibadah yang dogmatis dan sangat ritualis. Nadhoman, biasa dilantunkan oleh masyarakat, dari anak-anak sampai dewasa, di masjid, suraw kecil (tajug), setiap menjelang ibadah solat lima waktu. Berisikan pujian-pujian kepada Allah swt., solawat untuk nabi, silsilah keluarga nabi, dan berbagai macam pesan-pesan keagamaan. 

Dalam nadhoman, pesan-pesan dan nilai-nilai moral disampaikan dalam bentuk liris dan langgam, sehingga dapat dengan mudah dilantunkan sekalipun oleh anak-anak. Dengan begitu, pendidikan sejak dini pun secara implisit dapat dilakukan tanpa anak-anak harus merasa ada paksaan. Inilah yang dimaksud dengan pewarisan budaya secara efektif. Pendekatan yang dilakukan melalui hal-hal yang mudah dicerna, dibina kebiasaan yang pada akhirnya turut membangun karakter suatu etnis. 

Dalam sastra sunda, tradisi nadhoman juga mewarnai kancah peradaban sastra sunda pasca robohnya kerajaan padjajaran, yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Migrasi kepercayaan dari agama hindu ke agama islam, telah menjadi alasan yang melatarbelakangi kelahiran tradisi ini, yang kemudian dilantunkan masyarakat setiap solat berjamaah hendak dimulai. Etti RS, seorang budayawan sunda kontemporer, pernah menyinggung masalah tradisi nadhoman dalam Workshop Bahasa dan Sastra Sunda 2012. Ia mengatakan secara runtut bagaimana perkembangan sastra sunda sejak jaman kolonial, kerajaan sunda, kerajaan padjajaran, sampai pada masa islam masuk ke tanah air. Tentunya, nadhoman merupakan bagian dari sistem sejarah yang menonjol, bahkan masih hidup sampai sekarang. 

Pada awalnya, masyarakat sunda yang baru mencicipi manisnya islam, hanya mengenal solawat untuk nabi dan sahabatnya. Seiring dengan perkembangan budaya yang telah ada sebelumnya, solawat yang merupakan penetration pasifique, berhasil melakukan enkulturasi sehingga lahirlah tradisi nadhoman, yang tidak hanya berkutat pada solawat pada nabi, tapi juga puji-pujian, silsilah keluarga nabi, pesan-pesan keagamaan, dan menjadi media penyampai nilai-nilai moral. 

Biasanya, nadhoman di kampung-kampung masih sangat kuat dan hidup. Baik anak-anak maupun orang dewasa, jauh sebelum waktu solat sudah setia di shaf masjid paling depan, dan melantunkan nadhoman melalui pelantang. Beberapa nadhoman yang familiar di masyarakat antara lain :

Eling-eling umat

Muslimin muslimat

Hayu urang solat berjamaah………. (waktu solat yang akan dilaksanakan)

Estu kawajiban urang keur di dunya

Pikeun pibekeleun urang di akherat

Anu ngalanggengkeun solat berjamaahna

Kenging lima rupi kauntungannana

Hiji dileungitkeun kapakirannana

Dua dileungitkeun siksaan kuburna

Tilu dibere buku ti katuhuna

Opat bakal ngaliwat kana cukangna

Taya kilat nyamber babaning cepetna

Lima teu dihisab asup ka surgana

Dari sampel nadhoman di atas, dapat kita analisis, bagaimana struktur batin yang begitu kuat dalam menyampaikan pesan, serta diksi yang begitu memasyarakat sehingga orang yang baru mendengarnya pun tak perlu merasa sedang digurui. Dalam banyak hal, nadhoman memang selalu bersifat anonym, tanpa diketahui siapa pembuatnya. Berbeda dengan tradisi-tradisi yang dulu sempat dijadikan sarana berdakwah oleh para wali. Itu jelas alirannya, bahwa dakwah islam yang terselubung dalam sebuah budaya memiliki awal yang diketahui. Misalnya, kesenian wayang golek tiba-tiba menjadi sebuah pertunjukan yang tidak hanya berisi pesan moral, tapi juga pesan agama, sejak adanya wali songo. Tapi dalam tradisi nadhoman, hanya diketahui kehadirannya sejak runtuhnya kerajaan padjajaran.

Terlepas seperti apapun sejarah yang dmilikinya, nadhoman tetaplah sebuah budaya, di tanah sunda khusunya, yang perlu senantiasa dijaga kehadirannya. Selain notabene menjaga budaya nenek moyang, tapi sejatinya menjaga tradisi merupakan perwujudan nyata menjaga jati diri, langkah pasti mencintai tanah air. Bukan kah mencintai tanah air itu sebagian dari iman?

Nadhoman Sebagai Pendidikan

Secara akademis, budaya, apapun bentuknya, tidak dipelajari secara khusus di bangku sekolah. Budaya yang diketahui oleh siswa hanya sebatas sesuatu yang menjadi khas suatu daerah, mengenal nama pakaian adat, tarian, bahasa, alat musik, makanan, pakaian, rumah, dan upacara-upacara yang hanya dimiliki suatu daerah tertentu. Itu pun hanya gambaran umum dalam lingkup wawasan nusantara. Adapun mata pelajaran SBK (Seni Budaya dan Keterampilan) dan Pelajaran Bahasa Ibu, yang dipelajari bukan kulturnya, hanya teori-teori, tata bahasa, selebihnya mengarah pada nilai untuk raport, atau pelengkap syarat semata untuk memenuhi rancangan kurikulum. Maka tak heran jika anak-anak dank aula muda dewasa ini, yang katanya berperan sebagai agent of change masih buta terhadap budaya di tanahnya sendiri. 

Karena pendidikan tak harus selalu hadir di bangku sekolah, nadhoman nyatanya cukup mempunyai alasan untuk itu. Anak-anak yang biasa melantunkan nadhoman di masjid-mesjid, secara perlahan karakternya terbentuk sebagai insan yang agamis. Istilahnya, sebandel apapun seorang anak, di jantungnya tertanam kuat nila-nilai keagamaan. Karena sesuatu yang senantiasa dibiasakan masuk bukan melalui logika, tapi melalui alam bawah sadar yang selanjutnya melahirkan gerakan (motion), tindakan (action), kebiasaan (habit), dan akhirnya menjadi karakter (character). 

Begitupun yang terjadi pada orang dewasa yang sehari-harinya hidup dalam lingkungan nadhoman. Kepercayaan terhadap adikodrati itu tertanam dalam jantungnya. Sehingga, tanpa mengalami duduk di bangku pendidikan formal pun, mereka tetap memiliki logika yang cerdas dalam memahami hidup, zuhud, dan mampu hidup dalam keadaan yang sederhana.

.:: wa allahu a’lamu bi ash-showabu ::.    

Daftar Pustaka

1.      Camus, Albert, dkk. 2002. Menulis Itu Indah. Yogyakarta : Jendela

2.      Wiarna, Ensa & Unay Sunardi. 2011. Bambu Dalam Budaya Sunda. Bandung   : Disparbud Jabar

3.      Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Antropologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

4.      Nata, Abuddin. 2003. Pendidikan Spiritual dalam Tradisi Keislaman. Bandung : Angkasa

5.      Sujanto, Agus & Halem Lubis. 2008. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Angkasa

6.      Badrika, I Wayan. 2006. Sejarah : Perkembangan Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia. Jakarta : Erlangga

7.      Alavi, S.M. Zianuddin. 2003. Pemikiran Pendidikan Islam pada Abad Klasik dan Pertengahan. Bandung : Angkasa

Komentar