Adopsi Ilmu Salat, Ayo Menulis Puisi!
Bagi sebagian orang, menulis puisi masih digolongkan bagi hanya segelintir orang saja. Padahal, puisi adalah bahasa terbaik bagi ‘orang’ untuk mengungkapkan nikmat kehidupannya dalam segala hal. Puisi memang bukanlah sebuah hukum yang masuk dalam daftar wajib berkehidupan sosial, agama, atau budaya. Penyair kontemporer Godi Suwarna mengatakan, inti dari segala keindahan adalah puisi. Menulis puisi itu sederhana, namun tetap berkarisma. Bukankah pelaksaan solat pun bisa dikatakan sederhana namun tetap berkarisma?
Pemula dalam menulis puisi, banyak ditemui kata-kata yang mendayu, sok romantis, bahkan terkesan lebay. Kebiasaan buruk semacam ini yang terkadang membuat unsur docer (memberi nikmat), movere (menggerakan), dan delectare (mengajarkan) dalam puisi menjadi pudar, sehingga orang yang menikmatinya pun harus rela berkali-kali mengernyitkan kening, demi meraih apa yang dimaksud sang penyair dalam karyanya itu. Maka, dalam fenomena semacam ini, sudah saatnya kita belajar menulis puisi (lagi) kepada ahlinya, solat. Dalam solat, bahasa yang digunakan bukanlah lema yang idiomatic, sehingga orang awam sekalipun tahu maksud dan tujuannya. Begitupun dalam puisi, tak perlu menggunakan kata-kata yang hanya ada dalam hutan belukar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karena indahnya puisi, tidak selamanya berada dalam posisi itu.
Belajar Mengakui
Melaksanakan solat adalah mengakui kehadiran Allah. Dan menulis puisi adalah mengakui kehadiran kehidupan. Artinya, solat bukan semata-mata menaati perintah dan aturan, tapi berarti mengakui kehadiran Allah sebagai tempat bergantung kita. Dan menulis puisi tidak semata-mata mendefinisikan segala hal dalam susunan kata-kata yang indah, tapi berarti mengakui kehadiran kehidupan. Ketika kita menulis puisi tentang hujan, berarti kita tengah mengakui kehadiran hujan. Ketika puisi bercerita tentang galau, berarti puisi sedang mengakui kehadiran galau. Jadi, jangan katakan anda mengakui si A sebagai teman, sahabat, atau kekasih anda, jika belum menulis puisi untuknya. Wa allahu a’lamu.


Komentar
Posting Komentar