Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Mahalnya Sebuah Proses

Hari ini, Gebyar PBA (Pendidikan Bahasa Arab) 2013 rampung dilaksanakan seharian penuh. Ada banyak sekali cerita di Auditorium tempat acara itu dihelar. Tentu saja tentang keringat yang menetes menjadi malaikat-malaikat kecil lalu terbang menghiasi cerahnya langit Kota Bandung. Kami akui bahwa acara ini benar-benar melelahkan. Menguras banyak energi, memeras keringat, menyita waktu, menguras pikiran, bahkan tak jarang kami kesal hanya untuk hal-hal sepele. Hujan yang berpacu dengan adzan magrib mengingatkanku tentang banyak sekali hal yang sudah terjadi. Kiranya tulisan ini mampu merangkumnya, supaya kelak menjadi saksi bahwa tulisan ini pun akan berbicara tentang banyak hal, tentang kami. 


Sewaktu masih suka duduk-duduk di Ekskur Sastra Balasmedia, berekspresi di Sanggar Sastra Purwakarta, dan Semuteater, ada satu prinsip yang mengatakan bahwa proses kreatif adalah proses berdarah-darah, dan itu benar-benar dialami. Seperti halnya penulis dan tuisannya. Di balik setiap kata yang ia tuliskan, ada beragam cerita yang tidak orang lain ketahui. Pembaca hanya menikmati saja tanpa perlu tahu kenapa misalnya si penulis harus memilih kata yang ini bukan yang itu. Ada pula pelukis yang menjual lukisanya seharga hektaran kebun di kampungku. Kenapa bisa mahal, ya karena ia melakukan proses kreatif yang tidak biasa. ia berdarah-darah. Saya selalu percaya bahwa proses itu memang adalah hal yang mahal. Dalam ruangan proses, seseorang akan mengalami banyak sekali hal baru yang membuatnya menjadi pribadi yang baru. Ia akan berkontemplasi, berfilsafat, belajar bagaimana menghadapi tantangan dan peluang, dan yang membuatnya mahal adalah tak banyak yang sanggup menjalani proses. Mengalami kekalahan, belum tentu ia sanggup untuk berdiri lagi. Maka pantaslah proses itu lebih dicintai Tuhan ketimbang hasilnya. Dosen maharoh Kalam (Speaking Skill) kami, Pak Dani Syarifudin, M.Ag., mengatakan, "jangan jadi pemuja hasil, tapi ingat proses!".  

Ketika malam Infinite Brotherhood Show (satu malam di mana kelas akhir di SMI Al-Muhajirin berekspresi, berkreasi seni, dan menampilkan aneka pertunjukan), untuk menyajikan satu panggung berkualitas saja sulitnya luar biasa. Kita merasa dituntut untuk melejitkan kreativitas di tengah-tengah minimnya keinginan orang lain. Tantangannya bukan hanya tentang sulit mencari ide baru, menyatukan berbedanya gagasan, tetapi menjadikannya nyata yang sulit. Keinginan itu memang mahal juga rupanya. Ada orang yang pintar tapi pemalas, tapi ada juga orang yang secara IQ biasa saja, tapi keinginan untuk belajarnya luar biasa. Dan ternyata yang kedua yang lebih banyak dijempoli orang, di manapun pikirku. Kiranya itu juga terjadi di kelasku saat ini. Ada yang mahir sekali berbahasa Arab, tapi nyantai sekali, bahkan cenderung menyepelekan. Tapi ada juga yang biasa saja kemampuan berbahasanya, namun diiringi dengan keinginan untuk bisa adalah hal yang luar biasa. Terkadang kita disuguhi slogan diversiti adalah rahmat. Tapi menyatukannya menjadi sebuah harmoni, Unity in Diversity, bukanlah perkara yang mudah. Dalam fenomena hari ini, kelas kami memiliki keberagaman dalam banyak hal, tapi sedikit sekali yang berkeinginan untuk memajukan tempat belajarnya sendiri. Bakatnya beragam, minatnya beragam, ide dan gagasannya beragam, tapi sulit sekali mengumpulkan semua itu menuju satu keistimewaan. Sama seperti Indonesia, bahasanya banyak, pulaunya banyak, budayanya beragam, eksotisme alam luar biasa, karya seni berkelas, tetapi itu saja tidak cukup, toh hanya segelintir orang saja yang berpikiran untuk menyatukan itu dan membuatnya tidak hanya sekadar wacana belaka.

Kembali pada cerita hari ini. Seorang kawan memberitahukan bahwa kelas kami menjadi Juara Umum dalam helaran Gebyar PBA tahun ini. Bahagia sekali, karena mampu "menyingkirkan" banyak sekali kakak tingkat. Sebenarnya bukan hanya karena alasan menjadi unggul di antara kelas lain, kami merasa bahagia. Ada proses "berdarah-darah" yang telah kami lakukan sebelumnya. Sama seperti halnya ketika Khutbatul Ikhtitam Infinite Brotherhood semasa SMA. Ada banyak sekali keinginan namun sulit sekali mencari jawaban untuk memuaskan keinginan itu. Untuk mata lomba, segalanya bisa berjalan lancar, karena bisa latihan masing-masing, ambisi masing-masing --mungkin--, tapi giliran Inaugurasi, mengumpulkan orang itu bukan perkara mudah, apalagi jika ada retakan-retakan dalam rumah sendiri. Gara-gara urusan tidak penting misalnya, menjadi tidak ingin melihat wajah temannya sendiri. Saya merasa ini sangat sinetron, sangat FTV. Suatu hari Dr. Dindin pernah bilang ke saya, "Sulit ya mengumpulkan orang itu? Itulah kesulitan terbesar sekalipun punya visi yang sama". 

Pada akhirnya, kami hanya bisa berkumpul tadi malam, hanya satu kali latihan. Kami sadari penampilan kami biasa saja, banyak sekali kesalahan, tetapi kami puas. Kepuasan batin yang tak mampu dibayar dengan apapun selain dengan melihat mata-mata yang berbinar, wajah yang ceria, terlebih ketika melihat teman-teman kami yang menjadi pengurus HIMA (Himpunan Mahasiswa), sekalipun wajahnya menonjolkan rasa lelah, tapi bahagia sekali melihatnya bisa tersenyum. 

Ada satu ucapan yang kami ingat, buat apa melakukan hal-hal seperti ini, cape-cape hanya untuk penampilan satu hari, setelah itu selesai. Ya saya pikir sama halnya dengan ucapan buat apa makan, nanti juga lapar lagi. Pada dasarnya, berproses itu menyenangkan sekalipun harus berdarah-darah. Mungkin hasil yang kita inginkan tidak berbentuk materi yang banyak, mendapatkan uang misalnya, tetapi di sanalah kita akan menemukan momentum kita masing-masing. UN hanya tiga atau empat hari, tapi ketika lulus melewatinya kita senang, mengingat proses untuk melewatinya berlangsung lebih lama dari pada pelaksanaannya. Terakhir saya ingin tulis, mungkin yang kita lakukan sepele, tapi siapa tahu yang sepele itu yang membuat kita menjadi "orang". Mungkin yang kita lakukan itu bukan yang kita senangi, tapi belum tentu yang kita senang melakukannya adalah hal yang baik untuk kita. 

Komentar