Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Selamat Datang di Kairo

Tidak pernah naik pesawat selain pesawat-pesawatan di Plaza Purwakarta. Sekalinya naik pesawat beneran, langsung ke luar negeri. Pesawat Egypt Air dengan nomor penerbangan MSR960 adalah pesawat beneran pertama yang aku naiki. Ia berhasil mendarat mulus di Terminal 3 Cairo International Airport, setelah kurang lebih menghabiskan waktu tiga belas jam perjalanan dari Jakarta. Setelah tiga jam pertama, burung besi itu transit di Bangkok, Thailand, selama kurang lebih satu jam. Sembilan jam berikutnya, perjalanan yang menyusuri langit malam ini benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk menyaksikan tumpukan awan yang katanya seperti samudra di atas awan. Hanya beberapa bintang saja yang terlihat mengudara, selebihnya hanyalah warna hitam pekat sehingga tak ada lukisan yang begitu berarti di balik jendela pesawat. Kecuali ketika pesawat akan mendarat, sebuah suguhan menakjubkan ketika melihat Kota Bangkok yang berpulas di balik cahaya-cahaya kota, juga Kota Cairo yang berpulas di balik cahaya-cahaya penuh cerita.

Subuh hari, Bandara Cairo menyambut kedatanganku dengan udara musim dingin yang menembus kulit. Sejak sebelum keberangkatan, sebenarnya sudah diberitahu bahwa Cairo sedang musim dingin yang suhunya mencapai empat derajat celcius. Namun karena belum tahu empat derajat itu sedingin apa, definisi jaket tebal di Indonesia dan di Mesir ternyata beda. Jaketku kurang tebal. Tak lama setelah keluar dari pesawat, aku pun berjalan menyusuri lorong demi lorong, ruangan demi ruangan menuju Immigration Gate. Di sana kami mengisi sebuah form kedatangan, dan menyiapkan dokumen visa dan paspor.

Selesai urusan dokumen dan proses mencari bagasi, aku keluar dari pintu kedatangan. Di luar gerbang, ada banyak sekali orang yang hendak menjemput. Di antara mereka ada yang membawa papan nama, karton bertulisan besar, foto, dan lain sebagainya. Tidak ada hal lain yang kucari saat itu selain wajah tiga orang teman yang janji akan menjemput. Tapi sialnya, tiga wajah yang telah kuhafal dengan baik itu tidak ada. Pikirku, mungkin mereka sedang ke toilet dalam waktu bersamaan, atau sedang ke kantin untuk membeli minuman, atau mungkin menunggu di suatu tempat yang belum kulihat. Sampai keluar bandara, wajah yang kumaksud tidak ada. Atau setidaknya ada seseorang yang memanggil namaku, ternyata juga tidak ada. Aku mulai khawatir, bagaimana jika mereka bertiga memang tak pernah ada di Mesir, dan semua kabar tentang kehidupan mereka di Mesir ternyata hanya fiksi belaka. Istigfar.

Akhirnya tanpa pikir panjang, aku masuk bis rombongan Mumtaza padahal bukan bagian dari mereka. Bodo amat, yang penting gak terlantar sendirian di bandara. Perlahan bis melaju meninggalkan bandara, menyusuri jalanan kota yang membelas sebuah hamparan bumi berwarna coklat. Atmosfer Mesir mulai terasa ketika kulihat pemandangan sekitar hanyalah tanah dan bangunan yang berwarna sama, media luar ruang berbahasa Arab, orang-orang memakai jubah, dan pohon kaktus yang tumbuh di beberapa sudut jalan. Sepanjang jalan, penglihatanku didatangi oleh banyak tanda tanya. Sebuah rasa penasaran yang luar biasa hendak meloncat-loncat dalam otak dan benak ketika melihat Mesir di depan mata. Kali ini, tidak perlu lagi mencari suasana Mesir hanya di gambar-gambar hasil pencarian Google, atau foto yang diunggah oleh teman, tapi kali ini Mesir dapat kusaksikan secara langsung.

Tuhan menggiringku pada sebuah doa yang telal lama kusematkan. Semakin menjauh dari bandara, bis yang kutumpangi mulai berjalan tersendat-sendat. Pertemuan arah, persimpangan jalan, padatnya kendaraan, dan tidak adanya rambu-rambu lalu lintas menjadi penyebab jalanan menjadi macet. Kesan pertama yang pertama baru kutahu tentang Mesir adalah jalanan tanpa rambu-rambu. Bagaimana bisa sebuah kota akan tertib jika jalanan menjadi tempat yang bebas tanpa aturan. Tidak ada polantas, tidak ada lampu merah, tidak ada jembatan penyeberangan, tidak terlihat adanya halte, tidak seperti Jakarta. Kali ini aku jadi bersyukur, ternyata ada yang lebih kacau lalu lintasnya dari Bandung atau Jakarta.

Kesan kedua yang baru kutahu tentang Mesir adalah banyak sampah yang berserakan di mana-mana. Ditambah lagi dengan coretan-coretan di dinding, dan pamflet dan spanduk yang tidak tertib, membuat Cairo tidak nyaman dipandang karena vandalismenya. Dahiku mulai mengkerut, apa benar ini Cairo? Apa benar ini Mesir?

Di dalam bis, teman pertamaku namanya Ade Dzikri. Ia berasal dari Banten dan sempat bertegur sapa sewaktu antri Check in di bandara Jakarta. Kami duduk bersebelahan di dalam bis, dan berbincang hal-hal ringan seputar perkenalan. Sepanjang kami ngobrol, ada kakak senior yang memandu bis memberi pengumuman, mengabsen kehadiran, dan pengumuman pembagian rumah dan nama senior di masing-masing rumah. Tentu saja aku deg-degan sendiri karena di bis itu, aku menjadi satu-satunya penumpang ilegal. 

"Ul, udah kesebut belum?" tanya Ade penasaran. 
"Udah, kok!"jawabku pura-pura dengan wajah sok mantap.
"Masa sih? Perasaan belum kedengeran nama ente?" tanya dia makin heran.
"Udah kok tadi" jawabku makin sok mantap. Lalu aku pun lanjut menanyakan hal lain agar kebohongan itu tak terkuak.

Bis yang kami tumpangi perlahan mulai berkurang kecepatannya. Secara pasti, bis mulai menepi. Kami pun turun satu per satu, kemudian mulai mencari koper yang disimpan di bagian bawah bis. Sebuah gedung menjulang tinggi di mana-mana. Warnanya sama, bentuknya pun juga sama, Ternyata, bangunan di Cairo memang begitu semua. Setiap orang tinggal di flat yang bersusun ke atas. Seperti rumah susun yang ada di Jakarta. Dan inilah kesan ketiga yang baru kutahu. Bentuk perumahan seperti ini memang terlihat lebih teratur, dan tata kota lebih terencana. Sehingga jelas mana perumahan, mana perkantoran, mana jalan raya, mana tempat parkir, dan mana taman kota. Tapi melihat bangunan yang bentuk dan warnanya sama, aku jadi berpikir, bagaimana jika nanti tersesat di sebuah tempat yang segalanya serba sama? Bakalan tahu jalan pulang gak ya?

Terdapat sebuah papan kayu di atas pintu bangunan yang kami berhenti di depannya itu. Papan itu bertuliskan ‘Griya Jawa Tengah’. Mungkin semacam kantor atau rumah atau sekretariat mahasiswa Jawa Tengah yang tinggal di Mesir. Pikiranku masih cemas tentang tiga orang temanku yang janji akan menjemput di bandara. Emil, Ika, dan Syifa. Wajah mereka masih belum juga kutemui. Tapi dari balik pintu, sebuah wajah yang sangat kukenali menampakkan diri meski hanya sekilas. Ya, wajah Ika. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku senang luar biasa. Seolah baru menemukan air setelah berjalan berhari-hari di padang pasir. Aku seperti menemukan saudaraku. Ternyata Ika beneran ada di Mesir! Kirain cuma status palu aja di Facebook.

“Ik…..” belum tuntas kupanggil, wajah itu kembali menghilang. Ia masuk ke dalam gedung ‘Griya Jawa Tengah’ itu tanpa sedikit pun tahu bahwa aku sedang berharap-harap cemas di depan sebuah bis sambil membawa koper besar yang masih belum tahu akan dibawa ke mana. Aku pun kembali lunglai namun setidaknya tak selunglai sebelumnya. Kali ini ada rasa optimisme karena wajah yang sekilas muncul di balik pintu itu. Ketika kulihat bagian koperku kotor, kutepuk-tepuk dengan badan agak membungkuk. Dan siapa sangka ketika kubangun kembali tegak, sebuah wajah lain berdiri tak jauh dari tempatku berdiri.

“Emill….!!!!!”


Memori kami berlarian mengejar banyak kenangan. Kembali mencoba mengenal satu sama lain setelah lebih dari setahun ini hanya saling berkomunikasi lewat media sosial. Sebuah pertemuan yang dramatis, melebihi adegan-adegan paling dramatis yang ada di sinema korea. Serius! Kami berpelukan bahagia, karena bisa bertemu lagi dengan teman satu kobong selama kurang lebih empat tahun lamanya.

Tak lama setelah itu, wajah yang tadi hanya muncul sekilas itu kembali hadir secara utuh. Ia pun tersenyum segera seolah senyuman itu ia suguhkan sehingga lelah perjalananku akan hilang seketika. Ia pun menyerahkan sebuah plastik berisi minuman dan beberapa makanan ringan. Sejak di bandara, udara dingin membuatku cepat haus, sedangkan minimarket di bandara hanya menjual minuman dengan uang pound. Aku yang masih mengantongi uang dollar tentu kesulitan untuk mendapatkan minum, karena tempat penukaran uang masih tutup. Akhirnya aku hanya bisa berkali-kali menelan ludah agar haus tak datang untuk sementara. Dan pertemuan ini tak hanya menyegarkan lelahnya perjalanan Jakarta-Cairo, tapi juga menyegarkan tenggorokan karena minuman yang Ika siapkan.

Kami pun berbasa-basi mengenai perjalanan yang baru kulalui, mengenai pengalaman naik pesawat, bertemu pramugari yang cantik, makanan pesawat yang tidak asik, hiburan penerbangan yang tidak asik, dan beberapa kesan yang kudapatkan tentang Mesir. Kali ini aku percaya bahwa cerita temanku tentang kehidupannya di Mesir ternyata bukan fiktif belaka, tapi nyata. Perjalanan baru dimulai!

26 Desember 2013

Komentar