Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Esai Relevansi Budaya Partisipatif Dalam Rangka Membangun Kesadaran Berpolitik

Indonesia tengah menghadapi permasalahan yang serius dalam dunia politik, khususnya dalam hal krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemimpinnya. Hal ini mengakibatkan tingginya angka budaya politik apatis, suatu fenomena yang tidak seharusnya terjadi bagi negara demokratis sebesar Indonesia. Meskipun pada dasarnya bangsa kita secara de jure dan de facto telah dinyatakan sebagai bangsa yang merdeka, akan tetapi pemahaman masyarakat akan pentingnya budaya berpolitik masih terseok-seok dan masih terkesan tidak dekat dengan kehangatan masyarakat. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, melainkan banyak faktor yang menyebabkan budaya politik partisipatif mengalami stagnasi, yang membuat politik, khususnya pelaksanaan pemilu, menjadi hal yang dipandang tidak begitu monumental. Lantas, sejauh mana politik memiliki relevansi terhadap perkembangan peradaban menuju kehidupan masyarakat yang cerdas berpolitik?

Realita Sosial

Hampir setiap kali kita melihat pemberitaan di media massa atau pun sosial media, berita mengenai ragam berita politik adalah santapan harian yang tidak habis-habisnya diperbincangkan. Mendekati momentum pesta demokrasi yang hanya tinggal menghitung waktu saja, banyak bermunculan pemberitaan tentang lembaga survey, elektabilitas calon presiden, kampanye berkedok kegiatan sosial, janji-janji yang disuguhkan secara visual, dan tingginya kasus korupsi di negara khatulistiwa itu, membuat kita semakin miris sekaligus malu. Tak bisa dipungkiri, semua pemberitaan itu berpotensi menimbulkan krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemimpinnya. Dewasa ini, menutupi fakta adalah hal yang wajar dan biasa. Memanipulasi data, pemberitaan yang sarat akan pencitraan, adalah beberapa di antara faktor penyebab masyarakat tidak (lagi) berani menyimpan kepercayaannya terhadap kandidat pemimpinnya. Maka tak heran, di tengah krisis kepercayaan seperti ini, angka golput menjadi tinggi dan partisipasi masyarakat terbilang rendah.

Refleksi Politik

Politik dan kepemimpinan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Masyarakat merupakan organisasi makro yang membutuhkan pemimpin untuk mengelola kehidupannya. Kepemimpinan adalah keberpengaruhan. Artinya, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu mempengaruhi masyarakatnya. Perubahan paradigma masyarakat dari percaya menjadi tidak percaya, menandakan bahwa kepemimpinan dalam dunia politik mengalami kegagalan dan hambatan yang harus dituntaskan. Ketika masyarakat tengah menghadapi permasalahan krisis kepercayaan dalam kehidupan berpolitik, maka dibutuhkan kehadiran seorang pemimpin yang mampu mempengaruhi masyarakat, dan merubah paradigma berpolitik yang lebih cerdas. 

Politik Partisipatif

Politik adalah hal yang sangat akrab di telinga, meskipun tidak semua orang bisa menerjemahkannya dengan baik. Bagi sebagian orang, politik hanyalah suatu hal yang pengaruhnya terasa ketika harga kebutuhan pokok dan bahan bakar turun naik, kerusakan fasilitas umum, dan hal lain yang dekat dengan kehidupan rakyat. Jika paradigma berpolitik hanya sebatas demikian, maka politik hanyalah hal yang monoton. Maka, sudah menjadi tugas kita bersama untuk menyosialisasikan politik kepada banyak orang, bahwa dalam dunia politik, semua elemen masyarakat terlibat langsung dalam menentukan kebijakan publik, untuk kemaslahatan bersama. Salah satu cara yang bisa diretas untuk membangkitkan gairah berpolitik adalah membudayakan partisipasi aktif dalam pelaksanaan pemilihan umum. Jika pemilihan umum dapat berjalan sukses tanpa adanya angka golput, maka hal ini merupakan tanda bahwa dinamika masyarakat dalam berpolitik menunjukkan hal yang positif, dan kepercayaan tengah terbangun kembali untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. 

Bangsa yang maju dan berperadaban, tidak terlepas dari kepedulian masyarakat terhadap kehidupan berpolitik. Di mana di situlah peradaban masyarakat terus mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam politik partisipatif, antara masyarakat dan pemerintah sudah sepatutnya membangun rasa saling percaya, agar terjadi hubungan yang harmonis dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Masyarakat membuktikan kepercayaannya itu dengan aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan pemilu, sedangkan pemerintah membuktikan kepercayaannya dengan menjadi penyalur aspirasi masyarakatnya dengan baik. Dengan demikian, budaya berpolitik di negara ini dapat terus hidup, dan tidak termarjinalkan oleh keadaan di tengah gerus roda peradaban. Wa allahu a’lamu bi ash-showab. [] 

Komentar