Khutbah Jumat - Dialog Surat Al-Fatihah

Salah satu rukun yang wajib ada dalam tiap rakaat salat adalah bacaan surat Al-Fatihah. Surat ini tidak hanya sebagai bagian dari salat, bahkan disebut sebagai inti dari salat. Setidaknya dalam sehari semalam, seorang muslim bisa dipastikan akan membaca surat ini sebanyak 17 kali dalam salat fardu. Apalagi jika ditambah dengan salat sunah, atau momentum lain di luar salat, tentu intensitasnya akan makin banyak lagi. Namun pertanyaanya, sudah seintens apa pemahaman kita atas bacaan yang setiap hari dirapalkan tersebut? Apakah surat Al-Fatihah ini sudah benar-benar menjadi bagian dari cara kita berkomunikasi dengan Allah dalam setiap salat, atau jangan-jangan surat ini dibaca hanya sebatas pelengkap salat dan formalitas ibadah belaka? Sudah seyogyanya seorang muslim menghayati dan meresapi rahasia agung yang terkandung di dalamnya; sebab ia tengah bermunajat kepada Rabbnya. Dengan demikian, hatinya akan lebih khusyuk, lebih tahu atas apa yang ia ucapkan, dan lebih mungkin untuk bisa memb

Hikayat Daun Kararas



Kami menyebutnya daun kararas. Saya tak tahu persis bagaimana cara mengalihbahasan istilah itu ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin daun pisang yang kering, tapi mungkin ada istilah lain yang belum saya tahu. Daun kararas adalah daun pisang kering yang layu di pohon, berwarna coklat, bertekstur kasar, kering, dan biasanya dijadikan penyulut bara ketika membuat api unggun, atau sekadar memasak makanan di atas tungku. Daun kararas kembali muncul dalam ingatanku ketika Kang Iwan sedang asyik menikmati sebuah film televisi "Pacarku Made in Cianjur". Dengan girang ia menunjuk salah satu latar adegan yang kebetulan, atau mungkin bagian dari konsep cerita, ada pohon pisang dan daun kararasnya.

Dulu sekali, waktu saya masih SD, kami sering bermain di susukan, aliran sungai kecil yang jernih airnya. Menangkap ikan beunteur, ikan bogo, jeler, atau hanya menghanyutkan perahu-perahuan yang kadang terbuat dari kertas, kadang terbuat dari daun kararas. Siapa sangka bahwa daun kararas di susukan itulah yang pada akhirnya mengantarkan saya menuju Cairo.

Waktu itu hari sabtu. Mataharinya cerah, panasnya ramah, anginnya cukup segar untuk memanjakan diri di pematang sawang dan ladang ubi jalar yang baru dipanen satu minggu sebelumnya. Bagi anak yang terlahir dan besar di pedesaan, tidak ada istilah hari istimewa untuk bermain. Karena keistimewaan itu rasanya membaur begitu saja dengan hamparan alam dengan ruang tanpa sekat. Ketika air susukan mengalir begitu tenang tanpa keruh karena longsoran tanah di hulu sungai, Yayan, Eman, dan Kudil mulai mencari daun kararas dan membentuknya menjadi sebuah perahu yang dihiasi batang lidi sebagai penyangga rangkanya. Maka berlayarlah perahu daun kararas itu menuju hilir yang tak pernah kami tahu. Diam-diam sejak saat itu, pada perahu-perahu itulah saya titipkan doa bahwa saya ingin berlayar menyusuri sungai-sungai yang jauh lebih besar dari susukan, di belahan dunia lain. Semisal Sungai Nil yang namanya tercantum di salah satu halaman buku IPS. 

Sampai saya duduk di bangku MTs, saya belum benar-benar tidak mampu membedakan antara Sungai Nil dan Sungai Amazon. Mana yang terpanjang dan mana yang terbesar. Tapi katanya, Sungai Nil itu tempat dihanyutkannya nabi Musa, dulu waktu zamannya Firaun. Sementara Sungai Amazon adalah tempat bersemayamnya ular piton raksasa sebagaimana dikisahkan dalam salah satu film. Gambarannya hanya itu saja tentang dua sungai yang jauh lebih besar dari susukan itu. Saya penasaran. Semoga saja kelak bisa membedakan dua sungai ini dengan baik, berdasarkan pengalaman mengunjunginya.
**
Kembali ke daun kararas. Minggu lalu, Saya dan Kang Iwan berkunjung ke daerah Dokki. Sebuah kawasan cukup elit yang ada di Provinsi Giza, sangat berdekatan dengan Cairo. Kata Mang Iwan, begitu saya memanggilnya, di Dokki ada pohon pisang yang sudah tumbuh sejak lama. Di Mesir, komoditi pisang memang cukup banyak, khususnya ketika musim dingin. Pedagang buah-buahan yang tersebar di setiap tempat cukup menjadi bukti kuat bahwa Mesir tidak miskin pisang. Tapi hal itu tidak pernah membuat saya berpikir bagaimana bentuk pohon pisang yang tumbuh di Mesir. Apakah ada daun kararasnya atau tidak. Yang jelas, pisang di Mesir hanyalah pisang. Mereka menyebutnya Mauz. Tidak ada jenis cau (pisang) nangkacau ambon, cau kulutuk, cau muli, cau galek, cau susu, cau bangka, cau ajlok, atau jenis cau lain sebagaimana diversitasnya jenis cau di kampung halaman saya.
Di pinggir jalan dekat sebuah taman kecil, Mang Iwan menunjukkan pohon pisang itu. Dan ternyata memang tidak ada kararasnya. Bentuk daunnya tidak selebar daun pisang yang ada di halaman rumah saya di kampung. Warnanya hijau tua yang tidak sesegar warna daun pisang yang ada di halaman rumah bapak saya. Mustahil rasanya daun pisang versi Dokki ini dipotong dan dijadikan alas untuk makan nasi liwet.

Dulu waktu masih SD ketika masih zamannya membuat saung-saungan dari bambu dan karung terpal, saya dan teman-teman sering menggunakan daun kararas sebagai media pengganti kertas ketika membuat api ungun. Teksturnya yang kering dan kasar membuatnya lebih renyah disantap api, sehingga mempercepat pembakaran kayu dan arang. Dalam api unggun itulah, kami selipkan singkong, atau ubi jalar hasil ngagasab (mencari sisa-sisa panen di ladang) di ladang ubi yang baru selesai dipanen pemiliknya. 

Daun kararas juga biasanya menjadi bahan pembungkus wajit ketan buatan Uyut, Bi Alam, Ceu Odang, atau ibu-ibu pengrajin kue-kuehan yang ada di kampung saya. Rasa wajitnya yang manis berkolaborasi dengan sensasi aroma daun kararas menjadi kombinasi rasa yang unik dan khas. Itulah sebabnya mengapa saya lebih suka wajit yang dibungkus daun kararas dibanding wajit yang dibungkus kertas. Wajit yang dibungkus kertas itu, bagi saya, terkesan sok glamour dan materialistis. Sedangkan daun kararas, bagi saya, lebih karismatik dengan nilai kearifan lokal yang dimilikinya. Heuheu...

Saudaranya daun kararas adalah kalakay. Tapi kalakay memiliki makna yang lebih umum. Setiap daun yang sudah kering dan jatuh dari pohonnya disebut kalakay. Sementara kararas, maknanya sudah tentu khusus untuk daun pisang. Ada juga istilah baralak, sebutan khusus untuk daun kelapa yang sudah kering. Tapi jika saya lihat dari tugas pokok dan fungsinya, sepertinya kararas lebih banyak manfaatnya dibanding baralak. Meskipun baralak juga bisa jadi kayu bakar, tapi ia tidak bisa jadi pembungkus wajit. Apalagi kalakay. Sepertinya tidak ada kalakay yang bisa jadi bungkus wajit. Jadi menurut saya, kararas lebih istimewa dalam banyak hal.

Ketika kata kararas, kalakay, dan baralak muncul satu per satu di benak saya, muncul pertanyaan, apakah pelepah pohon kurma yang kering itu disebut kalakay atau baralak? Sayangnya di kampung saya tidak ada pohon kurma, jadi saya tak tahu menahu apakah ada istilah khusus untuk daun kurma yang kering. Mungkinkah istilah balukang (pelepah daun kelapa/aren yang kering), atau gebog (pelepah pohon pisang), atau regang (kayu atau bambu kecil yang sudah lepas daunnya karena kering), atau pancang (pohon bambu yang kering), atau pangpung (bagian dari batang/ranting pohong yang kering), atau ruyung (bagian dari batang pohon jambe/aren) bisa dipinjam oleh daun dan pelepah pohon kurma yang kering? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang.
**

Diam-diam saya suka rindu dengan kosa kata bahasa Sunda yang khas untuk hal-hal tertentu, sehingga ketika menemukannya di suatu tempat, ada hasrat yang mendorong saya untuk sesegera mungkin menggunakan istilah itu. Semisal daun kararas. Gejolak serupa juga terjadi ketika saya baru-baru ini mendengar lagi kata cumolat, merekedeweng, silaing, dekah, mangkukna, pitena, atah adol, alewoh, koleang, harupat, dan kosa kata lain yang sebelumnya terasa begitu sangat dekat, dan semakin ke sini semakin terasa asing di telinga. 
**
Selesai ujian semester ini, sepertinya Mang Iwan akan mengajak saya lagi ke Dokki untuk makan nasi liwet bersama di rumah Kang Isrona, salah satu guru Bahasa Indonesia di Pusat Kebudayaan Indonesia (Puskin) Kairo. Semoga saja saya melewati jalur yang sama seperti sebelumnya dan bisa melihat daun kararas di pohon pisang berdaun kecil itu. 

Kairo, 24/12/2014

Komentar

  1. masyaaLlah...
    sae kang

    nepangkeun salam ti abdi

    namA LengkaP
    RE Achmad Mudriq

    namI ALiT
    B3Y

    namE
    RMiKays

    IIS2020
    Iyeu "iteuk Sunda"2020

    BalasHapus

Posting Komentar