Betapa ribetnya orang Amerika soal makanan

Salah satu yang baru saya sadari tentang orang-orang Amerika adalah bahwa mereka, ternyata, punya tubuh yang ringkih sekali. Ringkih dalam artian sangat rentan terhadap hal-hal yang bagi orang Indonesia biasa saja. Dalam perkara makanan, banyak orang Amerika yang alergi terhadap kacang, susu, gluten, telur, wijen, gandum, juga alergi polen bunga dan hal lainnya. Padahal di Indonesia, kita pada umumnya cuma alergi pada satu hal: daging babi dan alkohol. Itu pun kayanya bukan alergi karena kandungannya, tapi lebih karena alasan agama. Selain babi, alkohol, dan segala turunannya, sikat!  Orang Indonesia gak akrab dengan istilah alergi. Kayanya hanya orang kaya yang punya istilah alergi di tubuhnya. Sesuai teori, makin nanjak kekayaan seseorang, imunitas tubuhnya makin turun. Mana ada orang kampung makan sate madura tanpa bumbu kacang karena alasan alergi? Yang ada malahan beli sate madura, satenya dikit tapi bumbu kacangnya minta banyak. Bagi orang biasa-biasa kaya kita (atau lebih tepatn

Memaknai Milad KPMJB Mesir (Buletin Manggala)


Kehadiran sebuah acara dalam konteks kreasi, seni, dan literasi mutlak diperlukan. Acara yang secara fungsi bertugas memublikasikan segala bentuk pemikiran, kreativitas, dan dialektika proses kreatif bisa jadi merupakan parameter tinggi-rendahnya derajat peradaban sebuah masyarakat yang hidup dan berkembang di dalamnya.

Mengamati betul bagaimana proses kehidupan kreatif warga Jawa Barat di Mesir, menyadarkan betul bahwa spirit muda yang kreatif dan inovatif merupakan modal tak ternilai yang tak dimiliki oleh banyak orang. Jika spirit yang besar itu tidak ditempatkan pada porsi dan wadah yang tepat, maka ikhtiar alternatif-kreatif itu akan sia-sia.

Maka sangat wajar ketika Milad KPMJB yang dihelat setiap bulan November itu menjadi titik klimaks bagi aktivitas kreativitas warga KPMJB. Kemeriahan yang diracik harmonis bersama kerja otak dan hati membuat rangkaian acara Milad, bukan hanya sekadar momentum tahunan yang melintas begitu saja. Percaya atau tidak, Milad merupakan acara yang paling dinanti-nanti.

Sebagai contoh, banyak warga yang pulang ke Indonesia untuk liburan musim panas, dan selalu mengambil jadwal penerbangan kembali ke Mesir, minimal dua minggu sebelum pelaksanaan Milad KPMJB. Begitupun dengan mahasiswa tingkat akhir yang notabene sudah selesai wisuda sejak bulan Agustus atau September. Tak sedikit dari mereka yang rela membeli tiket bulan November akhir demi menikmati gemerlapnya acara Milad KPMJB.

Milad adalah proses yang harus diisi. Sebuah momentum multiinteraksi yang menghanyutkan para pelakunya ke dalam wadah-wadah kebersamaan, keceriaan, dan persaudaraan. Tentunya dengan adanya interaksi yang intens dan antusias, jargon besar KPMJB yang 'Paguyuban' dan 'Masyarakat' mampu memainkan lakonnya dengan baik. Guyub yang bermakna terikat secara emosi, bukan atas dasar kesukuan, ras, dan atau bahasa tertentu, merupakan spirit tersendiri yang seyogyanya ada dalam pelaksanaan acara Milad setiap tahunnya.

Bagaimana pun, Milad adalah tindakan, aksi, suatu realitas yang harus dikerjakan. Merujuk pendapatnya Parsons, tentunya Milad KPMJB adalah aksi sebagai bentuk tanggapan atau respon mekanis terhadap suatu stimulus. Lebih lanjutnya, yang utama dari pelaksanaan Milad ini bukanlah tindakan individual, melainkan norma-norma dan nilai sosial yang menurunkan dan mengatur perilaku.

Lalu apa yang harus dilakukan ketika milad? Pertanyaan yang sederhana dengan jawaban yang sederhana. Tak ada bedanya antara Milad KPMJB dengan Milad kita sebagai individu. Jika perlu dirayakan maka rayakan, jika perlu berdoa maka berdoa, jika perlu refleksi maka refleksi. Bukankah yang jauh lebih penting dari pada sepiring kue atau nasi tumpeng adalah esensi dari pertambahan usia itu? Banyak hal yang perlu dan butuh dikupas dengan baik mengenai milad dan spirit yang terkandung di dalamnya. Jangan sampai, pelaksanaan milad organisasi hanya menjadi momentum untuk membuang-buang anggaran belanja, pesta pora, tanpa ada nilai manfaat baru di dalamnya.

Jika boleh beranalogi, milad organisasi adalah 'yaum al hajj'-nya KPMJB dalam satu periode tertentu. Jika miladnya mabrur, maka hal itu merupakan cermin dari aktivitas bermasyarakat yang terjadi selama setahun di dalamnya. Tapi jika miladnya mengalami penurunan kualitas dari milad sebelumnya, semacam berkurangnya antusias, menyusutnya kreativitas, atau kehilangan unsur kearifan lokal dalam penyajiannya, artinya ada yang bergeser dan perlu dibenahi.

Milad hanyalah milad, bertambah usia sekaligus berkurang usia. Takkan pernah berarti deretan angka yang berbaris dalam kalender sejarah KPMJB jika tak dibarengi dengan manfaat yang diberikan. Semakin bertambah usia KPMJB, semakin bertambah pula kah manfaat yang mampu diberikan warganya?

Wa Allahu A'lamu bi ash-Shawab.

-Versi cetak dapat dibaca di Buletin Mangggala KPMJB Mesir-

Komentar