Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Ada Dewi Amor di Oasis Siwa



Aku mengenal Fatia pada hari Sabtu lalu. Waktu itu kami berada dalam rombongan rihlah yang sama menuju Matruh lalu Siwa. Fatia yang duduk di kursi dekat pintu masuk bis, membuatku selalu punya kesempatan untuk bisa berpapasan dengannya. Untuk saat itu saja, aku sudah tertegun. Betapa cantiknya! Ia bersama dua adiknya tidak terlihat banyak bicara, tidak pula banyak bertingkah. Meskipun ada niqab menutupi senyumnya, namun aku begitu jeli menerjemahkan kecantikan di balik sorot mata yang ia lemparkan ke arahku.

Hanya sepatah dua patah yang ia tuturkan. Begitu hasil pengamatanku dari jauh. Dari balik batu karang di Pantai Cleopatra, pepohon di Perkebunan Kurma Siwa, atau justru dari tempat dudukku yang hanya terhalang beberapa baris dari tempatnya duduk dalam bis. Ingin sekali mengajaknya bicara, kalau bisa bercanda. Tapi sungguh itu pekerjaan yang sulit. Sulit sekali kutemukan topik untuk membuka percakapan yang telah ia mulai pertama kali lewat matanya. Setelah melemparkan tatapan itu, ia lebih banyak menunduk, dan bercengkrama dengan dua adik perempuannya.

Saat itu sudah siang. Matahari sedang bernapsu menghabiskan panasnya sebelum musim dingin menyelimuti utara Afrika. Agenda kami adalah mengunjungi perkebunan kurma di Pulau Fatnas. Di perkebunan kurma terluas di Mesir itulah kami menghabiskan penasaran soal bagaimana memetik kurma dari pohonnya. Mencari yang masih muda, memanjat pohonnya, juga memetik zaitun dan mencicipi pahitnya langsung di atas pohon. Selepas itu, ruang bis seperti tabung yang menghimpun segala ngantuk dan lelah. Anganku telah sepenuhnya melesat kepada si pemilik mata cantik itu. Aku teringat pada bulu mata yang meliuk bak ombak bergelombang. Dan bola matanya yang sesekali kuintip, begitu sayup dan teduh, dengan bulu mata yang menerawang tipis. Ketika kami membuat lelucon dan tertawa, ia hanya menggeser garis matanya sedikit ke samping. Ada senyum yang disembunyikan, seolah seluruh hidupnya diliputi satu misteri. Ya ampun! Ia bagai teka-teki yang menawan!

Semakin waktu, aku merasa cemburu pada niqab yang senantiasa menemani wajahnya. Betapa bahagianya kain itu mampu mengetahui apa yang dibisikkan dan senyum yang disembunyikan. Atau pada maskara yang mampu berada begitu dekat dengan mata indah penuh teka-teki itu. Atau pada boneka beruang kecil yang sepanjang jalan senantiasa di pangkuannya. Oh, betapa beruntungnya boneka itu. Mampu begitu dekat dengan dirinya, bahkan selalu dalam genggam tangannya.

Suatu waktu saat kami istirahat di sebuah kafe untuk makan siang, Fatia melepas niqabnya. Saat itulah aku paham mengapa ada senyum yang seharusnya disembunyikan. Ia terlalu cantik untuk dilihat mata lelaki lain! Sesekali ia menggeser bibir tipisnya ke samping, saat mulutnya sibuk mengunyah ikan bakar dan nasi putih di balik landasan pipinya. Saat mengunyah itulah, tatapannya memergokiku sedang menatapnya dari jauh. Samar-samar kulihat pipinya memerah, lagi-lagi menyiratkan teka-teki baru yang muncul tanpa kalimat. Lalu setelah momentum makan itu, momentum lainnya susul berdatangan memberiku beberapa kali kesempatan untuk melihat senyumnya secara utuh. Tidak hanya matanya yang berbicara, atau bulu mata yang menerawang, tapi juga mancung hidungnya, merah pipinya, juga garis bibir yang entah bagaimana cara menerjemahkan pesan di sebaliknya. Dengan atau tanpa izinnya, aku, laki-laki yang tak tahu diri ini, telah jatuh hati kepada Fatia.

***

Kubayangkan suatu hari Fatia benar-benar menjadi kekasihku. Aku ingin berjalan berdua bersamanya, mungkin di suatu malam Sabtu, dengan tangan bergandengan tangan dan kaki telanjang yang terbenam di pesisir Pantai Dahab atau Hurghada. Kami akan kelelahan dan berhenti untuk membeli dua cup es krim, lalu menikmati hujan bintang yang gempita. Atau berdua kembali mengunjungi Matruh dan Siwa, lalu mengenang bagaimana semua ini bermula. Sandboarding di Sahara Siwa dengan papan luncur yang sama, memetik kurma dari pohonnya lalu menyuapkan sebiji di ambang bibir tipisnya, atau melihatnya meringis manja ketika pahitnya zaitun mendarat di lidahnya. Dari semua kemungkinan itu, yang paling kuinginkan adalah duduk berdua di kafe tepi tebing Mukattam, ditemani beberapa nyala lilin, kami makan kue keju (mungkin dalam rangka perayaan ulang tahun atau bahkan hari bukan ulang tahun), serta diiringi lagu Tetgawezeny milik Hany Adel, atau Awwal Youm milik Mohamed Hamaki dan Donia Samir Ghanem.

Ketika aku nyenyak dalam khayalan itu semua, tiba-tiba aku didera rasa takut yang mengerikan. Bagaimana tidak? Perasaan ini sungguh-sungguh membuatku kacau tanpa henti. Sepanjang siang itu, aku merasa serba salah, salah tingkah, dengan pikiran yang sibuk oleh rencana-rencana penuh ekspektasi. Sebagaimana jatuh cinta pada umumnya, jantungku berdebar berdetak lebih banyak dan cepat dan aku begitu inginnya siang tak segera menjadi malam dan malam menjadi begitu lama sebelum menjadi pagi. Ada rindu yang sedang dibangun, sekaligus ada khawatir yang juga tersusun. Bagaimana jika selepas rihlah ini, ia tak pernah muncul lagi di dunia nyata? Bagaimana jika setelah rihlah ini, kami akan terpisahkan jarak yang jauh? Bagaimana jika sebenarnya ia telah menjadi kekasih lelaki lain? Bagaimana jika ...

Ah, memikirkan jika-jika itu hanya membuatku patah hati dan urung diri. Aku harus segera memastikan bahwa ia tak memiliki kekasih, dan sebelum benar-benar ia punya kekasih, aku harus segera bertindak. Tapi bagaimana caranya, jika untuk memulai percakapan saja aku masih mencari-cari topik pembukanya. Ingin sekali kubicarakan hal ini pada temanku yang juga satu rombongan rihlah denganku. Tapi sungguh mati, aku tak berani menanyakan soal Fatia kepada temanku. Alih-alih mendapatkan jawaban, yang ada adalah khawatir temanku juga akan turut jatuh hati padanya.

Namun suatu waktu akhirnya aku tahu akun instagramnya. Sekaligus dengan akun kedua adiknya. Ingin sekali kuberikan tanda suka di setiap fotonya, tapi sebagaimana seharusnya, aku lebih memilih untuk menyimpan segala rasa suka ini dalam diam terlebih dahulu. Tak satupun double tap dilakukan, tak juga satu komentarpun dikirimkan. Padahal di hampir setiap kesempatan, instagramku hanya berfungsi untuk melihat stories yang direkamnya hampir di setiap kegiatan. Ah sialan! Aku masih saja tak berani mengajaknya bicara meski hanya di instagram! Apa jadinya kalau aku menyukai foto-fotonya, mengomentari kegiatannya, mengirim pesan langsung kepadanya, lalu dia tahu bahwa aku sedang jatuh cinta kepadanya secara menggebu-gebu? Harus kuatur sedemikian rupa seolah-olah aku mendapatkan akunnya secara kebetulan saja. Kalaupun ia bertanya, aku harus memutar-mutar agar tak langsung diketahui bahwa aku tengah dimabuk cinta. Entah apa yang kukhawatirkan jika ia tahu aku sedang jatuh cinta padanya. Aku hanya ingin memastikan dulu bahwa ia juga tertarik kepadaku sebelum akhirnya ia tahu bahwa aku tergila-gila kepada si pemilik mata indah itu.

***

Memang benar kata temanku. Lelaki sebaiknya sedikit mengakrabkan diri dulu dengan gadis pujaannya sebelum melakukan pendekatan secara serius. Barangkali aku cukup katakan secara kebetulan mengikutinya di Instagram, atau karena menemukan postingan acak foto-foto rekomendasi terkait salah satu fotonya yang tak sengaja kena double tap di barisan paling lawas. Aku benar-benar merencakan permulaan ini dengan serius, dan akan melanjutkannya dengan berbagai hal remeh temeh. 

"Fayum ..."

Oh tabik! Dia mengirim pesan duluan di Instagram! Bagaimana bisa dia memulai percakapan sebelum aku memulainya? Oh Tuhan, betapa nikmatnya rizki yang Kau ciptakan dalam Instagram ini! Ia memulai percakapan!

"Iya lagi di Fayum. Pernah pegi sini ke?"
"Sudah tiga kali haha"
"Dah lama duduk di Mesir ke?"
"Baru 3 thn je haha"
"Owalah... sudah jelajah semua tempat sini kah? Sya jadi banyak tanya macam ni haha"
"x banyak baru sikit je. Sy takjub tampk awak sudah jelajah banyak destinations kat sini."
"Ah takpayah takjub mmg hobi sy pusing-pusing terus haha..."

Begitulah kami bermula. Tidak dengan siapa namamu di mana rumahmu. Tak lama sejak momen saling mengikuti di Instagram, ia cukup sering mengomentari kegiatan yang kubagikan di stories-ku. Tentang makanan yang dimakan, kafe terbaik di kota, musik favorit, atau soal orang-orang Indonesia yang aneh di matanya, juga orang-orang Malaysia yang aneh di mataku. Kami saling mengomentari satu sama lain, dan membagi tawa satu sama lain. 

Sampai tibalah suatu gelap menyelimuti malam di ambang musim dingin. Kami melanjutkan obrolan dari topik yang terputus.

"Cafeny dkt area Heliopolis, art space + cafe tp mahal sikit x min charge 35 le huhu ...." jawabnya menyambung pertanyaanku soal es krim yang menemani harinya suatu siang.
"Kok sendiri je nongkrong di sana? Biasanya one package dengan dua baby sister you?"
"Mereka stay je di rumah. Sebab malam ni sya nak pergi sendiri..."
"Macam me time kah?"
"Ah ya, sebab sy sedang sedih..."
"Sedih?"
"Ah ya, sebab my husband balik mesia tadi sore."
" ... "

***

Sejak saat itu, aku tak lagi penasaran dengan pemilik mata indah itu. Tak lagi peduli dengan senyum yang disembunyikan, atau kalimat yang hanya dibisikkan. Aku tidak merasa kehilangan hanya karena tatapan yang tak sepenuhnya kuselami dengan baik. Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana menjadi lelaki yang pulang ke Malaysia sore itu. Betapa ia punya separuh jiwa, yang senyumnya pernah ditujukan untuk pria lain. 

Sebagaimana yang pernah kualami sebelumnya.


Based on fake story.
----------------------------  
38000 - 40000 feet
Etihad Airways //  EY 471 Jakarta - Abu Dhabi // EY 653 Abu Dhabi - Cairo
27 Januari 2017




   

Komentar

  1. sedih mang, lagi2 hehe

    BalasHapus
  2. Wkwkkwkwkwk... Base on fake Story but still real 😂😂😂😅.

    Bagiqn yang paling atit pas "Sebab my Hisband balik Mesia tadi sore"😭

    BalasHapus

Posting Komentar