Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Membudayakan Jalan Kaki


Jalan kaki bagi orang kampung seperti kami adalah hal yang lumrah, sejauh apapun itu. Bapak seorang Pembina Pramuka yang juga pendaki gunung akut tentu saja mengajarkan anak-anaknya untuk biasa berjalan kaki. Sebuah alasan klise lain bagi anak-anaknya yang ingin dibelikan motor tapi tidak punya cukup modal, sebenarnya. Beberapa fragmen yang saya dengar dari kisah masa mudanya, ia hampir setiap minggu mendaki Gunung Burangrang, naik dari Purwakarta lalu turun di Bandung. Sementara jarak rumah kami ke kaki gunung saja kisaran 6-7 kilometer. Terus seperti itu, sampai gunung sudah dianggapnya sebagai kantor mingguan yang harus dikunjungi. Semacam Pak Atdikbud yang setiap Rabu harus saya kirimi laporan mingguan, atau ia ingin bertemu, atau apalah.
 
Sebelum ke Mesir, guru saya pernah bilang bahwa di Cairo sana harus sering-sering berjalan kaki. Orang Mesir biasa jalan kaki untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Tentu saja, persepsi jauh dan dekat bagi orang Indonesia dan orang Mesir akan berbeda. Silakan coba tanya arah ke seseorang yang ada di Jakarta dan di Cairo. 
“Lurus ke sana, lalu belok kanan sedikit!”
Ketika mendengar saran tersebut, bagaimana cara kita menerjemahkan kata ‘sedikit’? 5 meter? 50 meter? 1 kilometer? Interpretasi sedikit akan sangat bergantung pada level mana tingkat kemalasan berjalan kita. Kira-kira begitu.

Dalam penelitian menggunakan data smartphone untuk melacak aktivitas fisik yang dilakukan lebih 700k orang di 111 negara, penduduk China keluar sebagai warga paling aktif berjalan kaki. Begitu kata Kompas. Sedangkan warga paling tidak aktif berjalan adalah Indonesia. Sebuah prestasi baru yang menunjukkan bahwa orang Indonesia cukup kaya untuk memiliki kendaraan pribadi sejak pintu rumah sampai tempat manapun.

Universitas Stanford dalam publikasi risetnya di Journal Nature Juli 2017 menyebutkan warga Indonesia rata-rata hanya berjalan sebanyak 3.513 langkah, atau sekitar 2,5 kilometer setiap harinya. Jika diasumsikan, jarak tersebut adalah jarak Bawabat Satu sampai Pasar Asyir, atau Saqor-KPMJB via Mutsallas. Lebih buruk lagi, untuk jarak tersebut tidak semua orang mau berjalan kaki. Dari Gami ke Bawabat yang jaraknya hanya 630 meter saja harus naik utubis.

Sebaliknya, warga China rata-rata berjalan 6.189 langkah atau sekitar 4,8 kilometer setiap hari, diikuti penduduk Jepang, Spanyol, dan Inggris. Yang diteliti dalam penelitian tersebut hanyalah jumlah langkah dan rasio keseimbangan aktivitas, bukan cepat-lambatnya berjalan. Khawatirnya,  dalam hal itu pun kita menempati urutan terakhir juga. Lihat saja Masisir di waktu pulang Markaz Lughoh, mereka biasanya berjalan beriringan dengan mahasiswa asing lainnya menuju tempat pemberhentian bis.  Tanpa perlu kenal, tanpa perlu tahu, saya merasa bersemangat ketika melihat orang-orang Turki berjalan begitu cepat. Terlihat punya semangat dan optimisme yang tinggi sekaligus memperlihatkan karakter mereka yang barangkali gesit dan cekatan. Begitupun dengan orang Afganistan, atau orang-orang India

Saya percaya bahwa berjalan kaki punya efek lain selain untuk tujuan menyehatkan. Jika ragu, silakan cari saja keyword seputar itu dalam Google Scholar. Dalam Journal of Experimental Psychology disebutkan bahwa berjalan kaki bekerja efektif untuk meningkatkan kreativitas. Dilaporkan di The New York Times, para peneliti dari Stanford menyebutkan bahwa mereka yang berjalan kaki di udara segar sebelum menyelesaikan tugas rutinnya dinilai 60% mengalami peningkatan kreativitas, dibanding mereka yang melakukan tugas yang sama tapi hanya berdiam diri di dalam ruangan.

Saya sempat punya waktu kongkow bersama beberapa teman. Mang Jamil biasa berjalan ke Bawabat dari Tabba yang jaraknya 3,5 kilometer.

Contoh lainnya, setiap kali Bapak pulang dari gunung, ada kalanya ia bawa Paku Gunung, sejenis tumbuhan  Plantae yang tumbuh di pedalaman gunung, cocok ditumis untuk menu makan malam. Ia juga bawa beberapa jenis bunga yang tidak ada di kampung, sebagai hadiah mingguan untuk Ibu dan kakak perempuan yang hobi berkebun. Seandainya Bapak tidak berjalan kaki sesering itu, belum tentu ia akan tahu jenis-jenis bunga baru, rute-rute baru, bahkan spot-spot tertentu di mana ia bisa menemukan kuntilanak dan sundel bolong menghadangnya.


Ketika ngobrol dengan mantan Presiden PPMI lalu soal Asrama Indonesia, saya sempat menggerutu tidak sepakat. Bukan soal harga dan fasilitasnya, tapi alasan berjalan kakinya.
“Bayangin itu asrama jauh dari jalan, ke DL juga jauh.Bayangin jalan sejauh itu! Kasian anak baru!”
Omaygat! Alasan ini tidak mau mendukung Masisir untuk bergerak lebih aktif? Masih terpenjara dengan stigma mayoritas penduduk Indonesia yang menjadi urutan pertama sebagai yang malas berjalan kaki? Cobalah sesekali main-main ke kampus lain, atau bahasa lainnya studi banding. Ke UI Depok yang halamannya seluas kebun binatang, UPI Bandung yang tanjakannya mengingatkan kita akan perjuangan

Settingan semua kampus besar nampaknya memang begitu, teman-teman. Semua kampus setidaknya punya alasan ilmiah mengapa mahasiswa dan para stafnya harus membudayakan berjalan kaki. Di AUC saja, baik yang di Tahrir ataupun New Cairo, selain area parkir di halaman paling luar, tidak diperbolehkan ada kendaraan di dalam kampus sekalipun hanya sepeda. Semua orang harus berjalan kaki dan harus terbiasa dengan budaya itu. So? Masih malas untuk berjalan kaki?

26 Juli 2017.

Komentar

  1. Wkwkwkkw, sejak sering ikutan Kupretist saya jadi terbiasa jalan kaki minimal 3 Km, semisal dari Bab Futuh sampai Ibnu Tulun via Suq Silah, atau dari Amr bin Ash ke lokasi Fustat lama dll. Any way, walaupun di Mesir trotoarnya tidak mendukung, tapi banyak jalan bikin sehat, jadi tambah nafsu makan, tidur nerkuwalitas karena capek dan sepwrti yang antum bilang jadi tahu lokasi rahasia. Bahkan kita juga pernah keliling Qarafa dari mulai Maulin sampai Imam Syafii, sesuatu rasanya. Untungnya ga ketemu kuntilanak dam sundel bolong. Mamtap tulisamnya ��

    BalasHapus

Posting Komentar