Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Musik: Dari Hobi sampai Perubahan Sosial

Image taken from here

Di tahun 90-an, Bapak saya pernah mengalami pemindah-tugasan sebagai Kepala Sekolah. Ia dimutasi dari madrasah yang dekat rumah ke madrasah di desa tetangga yang lokasinya lumayan berjarak. Dalam kondisi kampung yang masih gagap teknologi, minim listrik dan tidak ada sosial media, tak banyak hal yang bisa dilakukan para pemuda di kampung sana. Beberapa hijrah ke kota sebagai kuli, sebagian lain berangkat ke sawah dan menemukan hidupnya di sana.

Madrasah di kampung itu sepi peminat. Untuk disebut sebagai pusat belajar, Madrasah itu lebih cocok dilabeli sebagai pelengkap kebutuhan Pemerintah supaya ada bangunan sekolah di sana. Lalu Bapak mengawali langkahnya di sana dengan mengajak para pemudanya untuk membuat grup rebana, qasidah, lalu berkembang menjadi orkes kecil-kecilan. Langkah tersebut membuahkan hasil. Setidaknya menurut para tetangga dan murid-murid Bapak waktu itu, angka putus sekolah menurun dan anak-anak serta remaja mulai tertarik untuk sekolah di madrasah itu.

Kisah itu saya dengar dari kakak saya, di suatu malam ketika kami duduk berdua di teras rumah. Obrolan itu membuat saya kagum atas apa yang pernah Bapak lakukan di masa produktifnya.

Kisah tersebut barangkali hanya satu dari sekian banyak kisah bagaimana seseorang mampu mengubah lingkungannya bermodalkan hobi, bakat, atau keterampilan yang dimiliki. Omar Khairat, seorang komposer kenamaan Mesir, dalam sebuah wawancara di salah satu media Timur Tengah mengatakan bahwa musik adalah bahasa yang menurutnya paling efektif untuk menyampaikan pesan-pesan perubahan. Barangkali bahasa verbal mampu mempertegas maksud-maksud, tapi ia akan selalu memiliki batas geografis. Bahasa Arab hanya untuk mereka yang paham bahasa Arab, begitupun bahasa Inggris dan lainnya. Sementara bahasa kebudayaan, dalam hal ini musik, adalah bahasa universal yang bisa didengar oleh siapapun dan di manapun.

Di masa awal saya tinggal di Kairo, saya pernah begitu mengagumi lagu-lagu Hamzah Namira, bahkan sampai sekarang. Entah karena liriknya, entah karena aransemennya, entah karena spirit yang melatarbelakangi setiap karyanya. Bahkan sempat terpikir suatu hari nanti saya harus membuat tulisan serius tentang spirit humanisme yang dibawa Namira di setiap lagu-lagunya. Sean Foley, seorang peneliti berkebangsaan Amerika, pernah mengamini Hamza Namira sebagai “fannan at-thawra” [“Artist of Revolution”]. Semangat yang dibawa Namira dalam lagu-lagunya dinilai sebagai salah satu faktor penting yang mampu menyatukan masyarakat Mesir saat Revolusi 2011 lalu. Dalam tulisannya di jurnal Middle East Institute, Washington DC, Sean mengangumi Namira sebagai sosok yang mampu mengubah arah begitu banyak masyarakat Mesir dari keputusasaan menuju optimisme yang begitu besar. Sebelum revolusi terjadi, menurutnya, sedikit sekali orang Mesir yang mampu bicara masa depan hidupnya sebagai orang Mesir dengan percaya diri. Tapi sejak revolusi, disertai kehadiran lagu-lagu Namira seperti “Ehlam Maaya” [“Dream with Me”] dan “El-Midan” [The Square”], harapan baru nampak terbit di setiap dada orang Mesir, dan lirik-lirik Namira pun berkumandang dari mulut ke mulut.

Dream with me
Tomorrow’s coming
And if it doesn’t come
We will bring it ourselves
All our steps will lead us to our dream
No matter how many times we fail
We can always get up
We can break through the darkness
We can turn our night into a thousand days.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat geliat semangat di raut teman-teman Masisir yang tertarik untuk belajar bermain Angklung di Lingkung Seni Gentra Pasundan (LSGP). Mereka datang dari berbagai daerah, berbagai usia, berbagai jenis kelamin (?), sehingga ketika semuanya berkumpul dan memainkan sebuah alunan musik, semua nampak sama. Tidak ada istilah kamu Jawa Barat/bukan Jawa Barat, junior/senior, anak DL/anak Lc, semuanya berbaur dengan mudah tanpa pernah sedikitpun mempermasalahkan sekat di antara mereka.

Semangat ini yang menurut saya penting untuk disuarakan dalam banyak hal. Semangat bagaimana bahasa kebudayaan adalah bahasa universal yang mampu membawa perubahan positif bagi komunitas. Sejak beberapa tahun ke belakang, Mesir telah mulai menyuarakan itu melalui berbagai festival kebudayaan dengan pesan serupa. Ada Mahrogan Thobul ad-Dawly, sebuah festival alat musik tradisional dari berbagai negara, yang visi besarnya untuk menyuarakan perdamaian melalui keberagaman alat musik dan tradisi lokal. Ada pula Sama’a Festival, di mana setiap perwakilan agama duduk bareng di satu panggung, mendendangkan lagu-lagu religiusnya masing-masing, dan dikomposeri menjadi satu kesatuan irama. Tujuannya tetap sama, untuk menyampaikan pesan perdamaian melalui musik lintas religi.  

Membangun kebersamaan di suatu komunitas bisa dimulai dengan apa saja, tentu saja musik hanya salah satunya. Hanya saja, musik bagi saya punya peran lebih, dalam sudut pandang yang begitu subjektif. Ketika ia dimainkan, orang hanya cukup mendengarkan dan meresapi pesan yang dibawanya. Musik mampu menjadi jembatan bagi banyak orang untuk mengekspresikan kebahagiaan, kesedihan, harapan, semangat, mimpi, dan berbagai keterwakilan lainnya.

Kebudayaan adalah tema yang sangat luas. Kesenian, peralatan, bahasa, sistem kemasyarakatan, sistem pengetahuan, dan religi, merupakan poin-poin besar dalam payung kebudayaan yang bisa dijadikan titik balik, dari arah mana kita akan memulai perubahan di lingkungan kita. Ketika Bapak saya pernah mengubah kondisi sebuah madrasah karena grup rebananya, saya jadi berpikir ulang selama ini masih salah menerjemahkan, musik hanya sebagai alat untuk kesenangan semata. Padahal lebih jauh dari itu, ia mampu menjadi musabab yang begitu berarti untuk menghadirkan kebaikan-kebaikan baru.

Entah dengan musik atau bukan, mari berinisiasi.

25 Oktober 2017  

Komentar