Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Maba adalah Fana, Mantan tetap Abadi

Quote hari ini:
"Maba memang menggoda, tapi mantan tetap lebih menawan"
Kata Farid, move on itu bukan soal melupakan mantan, tapi tetap mampu mengingatnya namun dalam waktu bersamaan kita menerimanya sebagai bukan siapa-siapa lagi. Rasa-rasanya keinginan melupakan mantan adalah keinginan yang cukup jahat untuk dilakukan seorang kekasih yang normal. Orang yang pernah begitu besar jasanya dalam hidup, masa iya dilupain gitu aja. Bahkan, mungkin, kita pernah sangat sadar dan penuh keyakinan mengatakan "Aku sayang kamu" kepada mantan kita secara haqqul yaqiin. Maka, seperti kata Umru'ul Qois di bait pertama sajaknya, kifaa nabkii min dzikraa habiibin wa manzily, jangan lupakan mantan, cukuplah dengan berhenti sejenak untuk menangis dan mengenang ketiadaan mantan. Ingatlah, kawanku, hati kita pernah menjadi rumahnya. Tempat ternyaman baginya mencurahkan segala keluh kesah, soal tashdiq visa yang tak kunjung turun, atau ablah sakan yang tak berbaik hati memberinya agazah. 

Meskipun telah tiba cinta dedek maba yang baru, mantan tetaplah harus punya posisi di masa lalu. Nama kaidahnya Naskh Mansukh. Cukup statusnya saja yang dihapus, silaturahminya jangan. Cukup perasaannya saja yang dilepas, kenangannya tetap mengabadi. Hal-hal seperti ini perlu senantiasa diingatkan, sebab cerita terbaru yang masuk telinga saya adalah soal Masisir lama yang mulai ditinggalkan "Aa"-nya sebab berbulan-bulan setia mengantar pulang malam, berjuang menerjemahkan muqorror bersama, tapi berakhir hanya karena terpesona oleh dedek maba. Haccciimm...   

Kalau ketemu Masisir yang udah dua tahun ke atas, obrolannya suka rada sok mantap kalau pas ngomongin Maba. Biasanya diawali dengan kalimat, "Maba sekarang aneh-aneh, ya!", tanpa mereka sadari bahwa mereka juga pernah jadi Maba yang aneh-aneh pada masanya. Padahal kalo dipikir-pikir, yang unik itu bukan hanya anak-anak Maba-nya, tapi juga senior-senior yang modusin Maba. Modus senior dari tahun ke tahun sebenarnya sudah mainstream: jadi tour guide ziarah masjid dan makam, ke hadiqoh, ke Nile, ke mat'am, ke Downtown, ke mall, ke kafe, nganter beli kartu perdana, nganter beli lemari atau kasur atau selimut, ngebimbel buat tahdid mustawa, ngenalin sekre kekeluargaan, atau ngajak ngaji ke beberapa talaqi. Tapi yang terakhir itu hampir mustahil jadi bahan modus, sebab yang suka ngajak talaqi biasanya sesama cowok atau sesama cewek. 

Tapi jangan salah! Jaman sekarang mah, yang ada malah Maba-nya yang ngemodus duluan. Seriusan! Ada yang tiba-tiba sok kenal di telepon lalu minta saya jajanin dia bakso (padahal belum pernah ketemu, belum kenalan, belum follow-follow-an, bahkan dia baru ngenalin diri setelah saya tanya. Aku Salma, katanya.), ada juga yang minta dibawain bakso dari Asyir kalo lewat ke Sabi'. Btw kenapa perkenalan saya dengan Maba selalu berkaitan dengan bakso? 

Ada juga, katanya, akhwat yang pengen ngaji ke Syekh Yusri biar bisa liat Aa Taqi Malik pake mobil barunya. Saya baru sadar bahwa motivasi kaum Milenials untuk studi ke Mesir itu satu di antaranya adalah karena pengaruh Fahri dan Abdulloh. Nah, kalau Generasi Z motivasinya adalah Taqi Malik. 

Suatu hari di minggu lalu, secara tak sengaja saya melihat story teman baru saya di Instagram. Ia seorang mahasiswa baru yang baru empat hari di Kairo, pada waktu itu. Story-nya sedang berada di dalam taksi melintasi Nasr Road, tepat melintasi kampus Azhar. Duduk di sebelahnya seorang Masisir yang lebih senior darinya, kebetulan saya kenal. "Tuh yang di kanan ini DL! Nanti antum belajar bahasa di sini! Nanti naik bisnya dari sini biasanya. Yang di sebelah sini ...." senior itu menceritakan cerita-cerita yang pernah dialaminya, seseru mungkin, sampai stories itu nampak seperti benang jahit di atas kain. Di rumah saya juga ada mahasiswa baru yang hampir siang malam ditemani oleh mahasiswa yang mulai ingin disebut senior sebab label "maba" sudah diserahkan kepada angkatan terbaru. Tiap waktu adalah kesempatan untuk cerita pengalaman. Tempat beli ini di sini, beli itu di situ, taman ini di sini, kafe itu di situ, ujian di Azhar seperti ini, musim panas itu seperti itu, sampai diajak juga naik bis 80/ untuk pertama kalinya dan langsung kecopetan hape. Mabrouk ammouu ....

Fase dan fenomena yang sama dengan mahasiswa semester satu atau dua yang datang ke SMA-nya atau pesantrennya untuk sosialisasi kampus. Atau Masisir yang pertama kali pulang liburan ke Indonesia lalu "ditugasi" sosialisasi atau memotivasi santri tentang kuliah di Mesir. We have ever sok mantap! Ada perasaan bangga sekaligus merasa paling tahu segala hal. Hal yang wajar, menurut saya, seseorang mengalami fase semacam itu. Mungkin memang begitu cara seseorang mengungkapkan keantusiasannya. Ya meskipun beberapa di antaranya bikin kita merasa geli, sebab cara berjalannya di depan Maba saja seperti orang kebanyakan minum solar.

Saya adalah "mahasiswa baru" yang tidak pernah mengalami ditemani kakak kelas semacam itu. Meskipun pada waktu itu ada teman sealmamater, ada senior dua atau tiga tahun di atas saya yang serumah, rasanya tidak pernah serba ditunjukkan ini dan itu. Awalnya memang agak menyebalkan, sebab Emil Nashrulloh, satu-satunya "senior" yang saya andalkan saat itu, hanya sekali menunjukkan saya tempat tahfidz quran, dan sekali ngajak rihlah ke Sinai. Selebihnya, hidup adalah pencarian. Tapi pada akhirnya, membiarkan orang lain bebas memilih untuk menemukan hidupnya sendiri adalah cara yang baik, dibandingkan dengan harus berdasarkan arahan pengalaman orang lain.

Jika kita jadi senior yang sok tahu di depan Maba, percayalah bahwa ke-sok-tahu-an kita akan ada batasnya, yang bisa jadi suatu hari nanti, Si Maba ini akan punya pengalaman lebih banyak dan menyadari bahwa seniornya yang dulu sok tahu itu tidak ada apa-apanya, atau keliru dalam beberapa hal. Sebab yang namanya berbagi pengalaman, tak lepas dari yang namanya interpretasi. 

Dalam dunia sastra, misalnya, beberapa penerjemah Arab melakukan penerjemahan pada puisi "Shall I compare thee to a summer’s day?" milik Shakespeare, di waktu yang berbeda-beda namun dalam proses yang berkaitan. Penerjemah yang satu belajar dari penerjemah sebelumnya. Hasilnya adalah terjemahan puisi tersebut mengalami perbedaan diksi. Notasi "summer" dalam budayanya orang barat adalah musim yang menyenangkan, sementara "summer" bagi orang Arab adalah musim yang tidak sering dinisbatkan sebagai waktu yang menyenangkan. Ada yang tetap menerjemahkan kata tersebut menjadi "shoif" (musim panas), sebab aliran struktural meyakini terjemahan haruslah tetap pada teks aslinya. Ada yang memperhalusnya menjadi "lailat ash-shoif" (malam musim panas), sebagai ekspresi akulturasi dan elaborasi dengan budaya lokal. Ada juga yang mengubahnya menjadi "rabii'" (musim semi).  

Saya punya teman orang Sumatera, yang didoktrin senior-senior di rumahnya supaya tidak kuliah jurusan Bahasa Arab karena susah lulus, katanya. Sampai habis ujian termin dua di tingkat pertama, teman saya ini berbohong kepada seniornya bahwa ia tidak kuliah jurusan Lughoh. Dengan semangat yang terjaga, teman saya ini sudah wisuda beberapa bulan lalu. Lulus dari jurusan Bahasa Arab tepat empat tahun. Ketika dilihat faktanya, senior pendoktrinnya itu adalah mereka yang semangat belajarnya tidak seterjaga teman saya dalam menjalani studi. Ih, kalo saya jadi si senior itu, bakalan malu da. 

Itu hanya satu dari sekian banyak contoh di mana kita menemukan ketidaksesuaian atas apa yang diajarkan senior dengan kenyataan yang ada. Maka, bagi kita yang merasa sudah senior, sama-sama kita tularkan kebaikan yang mampu membuat generasi di bawah kita jauh lebih baik dari generasi kita sendiri. Silakan berbagi pengalaman, tapi jangan sampai modusmu itu membuatmu lupa pada cinta Masisir lama. Ingat! Kalau mau seleksi pasangan hidup, bukan gitu caranya! Punya gebetan kok tiap angkatan ... (pengen nyebut nama tapi aku tahan~)  

Dan bagi junior, mari kita belajar supaya tidak jadi generasi yang su'ul adab. Masa iya gue minta nuker duit seratusan biar jadi fakkah (retjeh), malah ngejawabnya: gak ada fakkah, Mang, adanya fuckyou! Itu namanya volontonk, Ferguso!  

Sebagai epilog, saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan sulit yang gak tau gimana jawabnya. Jika ada Maba yang bertanya, "Mang, PKS itu apa?", kamu akan ngasih jawaban apa?

24 Desember 2018.

Komentar