Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Enam Hari Pertama di Mekkah


Perjalanan haji dari Cairo adalah satu-satunya perjalanan dalam hidup saya yang jaraknya jauh, lumayan lama, dan tanpa pake pakaian dalam. Iw iw iw. Rasanya gimanaa gitu. Penuh dengan kekhawatiran, sebenarnya. Tapi mau gimana lagi, sudah harusnya begitu. Bisa aja sih pakai kain ihram di atas pesawat ketika melewati daerah miqat, tapi karena berbagai hal yang disepakati, kita diharuskan pakai kain ihram sejak dari Cairo. Udah ah, jangan dibayangin. Kita bayangin yang lain aja.

Gimana kalau kita bayangin kabah? Nah iya. Satu hal yang paling di-deg-deg-an-i sebelum berangkat ke tanah suci adalah takut gak bisa lihat kabah. Ada cerita turun temurun bahwa kalau mata kita banyak dosanya, ketika berkunjung ke Masjidil Haram gak bakalan bisa liat kabah. Saya inget dosa waktu kerja di Konsuler mungkin ada pertanyaan-pertanyaan sok penting padahal gak perlu hanya karena si ukhtinya cantik, atau inget diem-diem pernah nurut ajakan teman sekamar buat ngintip tetangga imaroh yang lagi jemur pakaian, dan dosa-dosa mata lainnya yang terjadi selama nonton serial Game of Thrones yang beberapa bagiannya diulang-ulang. Astagfirullah. Atau mungkin karena berbagai dosa lainnya yang dilakukan anggota tubuh lain, seperti telinga yang kebanyakan denger yang aneh-aneh jadi gak bisa denger suara adzan Al Haram yang khas. Sejujurnya, itulah kekhawatiran terbesar saya. Saya takut tidak bisa melihat tempat yang selama ini mengarahkan raga ketika bersujud.

Atau kekhawatiran lainnya adalah bagaimana jika keseringan keprank orang, Allah bakal ngeprank saya di tanah haram? Gimana kalau raga saya di haram tapi suasananya serasa di Bawabah 3? Astagfirullah. 

Lalu di momen pertama kali memasuki area masjid, saya ingat cerita Aduy yang katanya anak Temus tahun kemarin ada yang tersesat di Masjidil Haram. Yang lain sudah kumpul selesai umrah, yang satu ini hilang entah di mana karena gak tau jalan keluar. Gimana kalau saya mengalami hal serupa? Akhirnya saya ngintil terus sama orang yang memang sudah pernah ziarah sebelumnya. Harapannya agar tak jadi jamaah yang tersesat. Kan malu dunia akhirat kalau sampai saya tersesat di rumah Allah. Akhirnya saya ke mana-mana bareng Adib. Di pertengahan jalan antara pintu-pintu besar antara Safa dan Marwa, Adib bertanya. "Tuh Mang, kabah! Keliatan gak?"  Lalu saya mulai panik. Kok gak ada? Beneran gak ada? istigfar, istigfar, istigfar, ternyata saya salah nengok. Kurang geser nengoknya. Alhamdulillah ada kabah. Beneran panik saya. 

Lalu masuklah saya ke Masjidil Haram. Ada bawang bombay di sana. Bayangkan, sekian tahun kita mengarahkan raga ketika bersujud, baru kali ini bisa melihat langsung rupa kabah itu seperti apa. Bentuknya, ukurannya, detail ornamennya, kiswahnya, lengkap dengan orang-orang yang menangis di depan dinding-dindingnya, mengutarakan berbagai hal kepada Tuhan yang di tempat ini terasa begitu sangat sangat dekat. Seperti rindu yang menemukan pemiliknya, ada getaran-getaran yang sulit diterjemahkan oleh bahasa apapun. Dan getaran itulah yang membuat orang-orang di bawah kabah itu menangis, yang membuat banyak orang di dunia ini ingin berkunjung ke masjid ini, juga getaran yang sama yang membuatku merasa begitu fakkah di antara ribuan orang di masjid ini. 

Sebagai orang yang baru pertama kali mengelilingi bangunan kabah, saya serasa jadi maba yang pertama kali harus ijroat di syuun. Ada bingung-bingungnya, meskipun udah diberi arahan oleh senior, atau ada petunjuk tertulis dalam bentuk tulisan. Iya tawaf itu tujuh keliling, tapi tetep aja punya keraguan apakah iya kaya gini, atau apakah cara saya bertawaf sudah sesuai aturan atau enggak, sah atau enggak, dan sebagainya. Bahkan ketika jalan sai bukannya fokus berdoa atau mentafakuri hal lain, yang kepikiran justru soal akan betapa capenya jika nanti ngedorong jamaah pake kursi roda. Jalan gak bawa apa-apa aja lumayan butuh energi, apalagi dorong kursi roda. Ya Allah, betapa banyaknya hal tidak penting di kepalaku.

Pagi hari mendarat di Jeddah, ditransfer ke Kantor Urusan Haji Jeddah, istirahat, lalu sorenya ke Mekkah untuk Umrah. Pukul 9 malam setelah umrah selesai, untuk pertama kalinya saya jajan karena lapar. Beli beef burger tapi yang datangnya chicken burger seharga SAR 5 dan jus mangga SAR 5. Kembali ke hotel dan tidur. Sebagaimana nasib saya di Cairo yang sering main dengan para suami, di Mekkah pun saya sekamar hotel dengan suami orang, namanya Adib. Dan sebagaimana yang terjadi di Cairo jika main dengan para laki-laki beristri, di Mekkah pun saya mendapat 'ceramah' pernikahan dari Adib. Omaygat. 

Dan ternyata, sekamar dengan Adib bukan hal yang menyenangkan. Pasalnya, dia bawa koper yang di kopernya terdapat tumila-tumila Cairo. Mereka ikut naik pesawat tanpa harus beli tiket yang mahalnya bikin saya banyak hutang, nerobos petugas imigrasi tanpa perlu ditanya-tanya, dan sekarang mereka turun dari koper itu ke karpet hotel, naik ke atas kasur, selimut, bantal, dan permukaan kulit. Mau dibunuh, takut harus bayar dam (eh ngebunuh tumila harus bayar dam gak?) Tapi kalau gak dibunuh, ya ngeselin. Duh, kapan sih hidup saya bersih dari tumila? 

Terlepas dari urusan tumila, saya punya banyak waktu menyenangkan selama enam hari pertama di Mekkah. Belum banyak yang saya tahu soal kota ini, tapi setiap waktunya selalu menjadi hal baru yang menyenangkan, atau menyadarkan. Selain hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, saya jadi tahu betapa nikmatnya makan Albaik di tempatnya langsung, dan betapa tambah nikmatnya ngasih tahu orang-orang di Cairo bahwa Albaik itu nikmat. Saya juga baru tahu bahwa logat bicaranya orang Mesir terasa lebih nikmat didengar daripada logat bahasa Arabnya orang Banggali atau Pakistani. Juga saya baru ngeh bahwa setertutup apapun kota ini bagi orang kafir, ternyata banyak aset orang kafir di sini. Di seberang Masjidil Haram ada Mc Donald gede banget, ada KFC, ada banyak gerai Starbucks, ada banyak retail fast fashion, bahkan hotel-hotel paling depan pun didominasi hotel-hotel yang pada umumnya berada di spot terbaik di kota-kota besar. Pullman, Hilton, Intercontinental, Le Meridian, Concord, dan sebagainya. Apakah kabah di mata brand-brand itu hanya sekadar tempat wisata? 

Oh ya, siapapun boleh nitip doa, doa apapun, asalkan jangan doa "doain semoga aku sama kamu berjodoh". Hey! Plis! 

09 Juli 2019

Komentar

Posting Komentar