Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Coronavirus dan Rasisme Anti-Asia di Mesir



Sejauh ini, saya selalu hidup  di lingkungan yang alhamdulillah-nya gak pernah kena diskriminasi karena ras. Seberbeda apapun lingkungannya, sejauh ini selalu berjalan aman dan damai. Entah lingkungan yang berbeda agama, berbeda aliran, berbeda warna kulit, berbeda jenis kelamin, berbeda bahasa, sejauh ini selalu aman-aman saja. Tapi karena coronavirus, akhirnya saya ngalamin juga gimana rasanya dirasis-in sama orang Arab hanya karena kita berwajah Asia.

Sebagaimana orang Indonesia gak bisa bedain orang Arab berasal dari negara mana, atau gak bisa bedain orang Afrika dari negara mana, orang Mesir juga sangat banyak yang tidak bisa membedakan mana orang Indonesia, mana orang China. Pokoknya asal wajahnya Asia, tidak brewokan, tidak buluan, hidung pesek, postur kecil, hampir selalu diasumsikan sebagai orang China. Kondisi sosial ini menggambarkan betapa China ada negara yang sangat terkenal, tak peduli semaju apapun negara Asia lain, nampaknya China punya reputasi yang lebih mudah diingat orang Arab dibanding negara Asia lainnya. Sayangnya, ketika Coronavirus pertama kali datang dari China dan berekspansi ke bagian dunia lainya, kita yang bukan orang China jadi kebagian ikut getahnya. Bukan virusnya, tapi rasismenya.

Misalnya hari Selasa minggu lalu ketika saya jalan melintasi sebuah sekolah dasar dan menengah, tiba-tiba kerumunan anak-anak berlari kocar kacir sambil teriak "corona! corona!" sambil menatap saya sinis. Tak hanya muridnya, gurunya atau entah orang tuanya juga turut menghindar sambil menutup mulut dan hidung. Apa saya sebau itu ya waktu itu? Bahkan di hari yang sama ketika jalan kaki di Downtown, beberapa orang yang berlawanan arah tiba-tiba mengambil arah yang cukup berjarak agar tidak berpapasan langsung dengan saya. Tentu saja sambil menutup hidung atau menahan napas. Saya punya rasa marah dan kesal ketika mendapat sambutan sosial semacam itu, tapi tak tahu harus berbuat apa selain hanya bisa diam dan menggerutu sendiri.

Selain apa yang saya alami, ada banyak kejadian serupa yang dialami teman-teman Asia yang tinggal di Mesir. Ada yang dimarahi bapak-bapak karena batuk di dalam bis, padahal ketika orang Mesirnya sendiri yang batuk bahkan nyingsreuk dan meludah di tempat umum, tidak ada satu pun yang memarahinya. Ada yang dikeluarkan dari tremko (sejenis angkot) hanya karena disangka orang China. Padahal mah orang Jawa Timur, dari mana Chinanya? Ada yang tidak dilayani tukang daging karena mungkin dikiranya orang Asia bakal ngeracuni daging-dagingnya dengan Corona, ada yang  ditolak supir Uber/taxi, termasuk yang sempat viral di media sosial video seorang pria China yang dikeluarkan dari Uber lalu dijadikan tontonan diskriminasi di tengah jalan Ring Road. Separah itu.

Banyaknya kejadian ini memang cukup sulit untuk dimaklumi oleh banyaknya orang Asia di Mesir. Meskipun setelahnya ada banyak tokoh publik dan influencer Mesir yang meminta maaf atas nama penduduk negara kepada semua warga Asia, hal itu tidak cukup mudah untuk dilupakan begitu saja oleh sebagian orang. Perkara rasis ini hanya ulah oknum, sehingga tidak bisa pula kita dengan mudahnya melakukan menggeneralisasi. 

Saya mulai meredakan kekesalan saya soal rasisme orang Mesir ini ketika berbagi cerita dengan seorang teman China yang tinggal dan bekerja di Cairo. Dua minggu lalu ia tertabrak mobil ketika sedang bersepeda di jalan raya, dan hampir tak ada yang mau menolongnya hanya karena ia orang China. Di tempat kerja, teman-teman kantornya tidak ada yang mau menerima makanan atau minuman yang berasal darinya, padahal secara medis, jelas-jelas ia negatif dari Coronavirus, atau virus jenis lainnya. 

Seandainya saya tidak mengalami gimana tidak enaknya dikucilkan karena ras, mungkin saya dan kita semua tidak akan pernah belajar secara nyata bagaimana tidak baiknya rasisme di kehidupan nyata. Sebagaimana sulitnya menilai jatuh cinta pada tampilan pertama, rasis juga menggiring orang pada persepsi tertentu hanya berdasarkan tampilan pertama. 

Seperti pernah disinggung di tulisan sebelumnya, Coronavirus sudah bukan lagi urusan China meskipun virus itu pertama kali muncul dari negara tersebut. Ketika musibah ini sudah menjadi pandemi global, hal ini sepatutnya menjadi urusan bersama yang harus dipikirkan dan diatasi bersama. Kita bisa saja rasis terhadap ras atau suku tertentu, tapi perlu kita ingat bahwa virus tidak melakukan itu ketika menarget mangsanya. Tak peduli kita China atau bukan, ahli ibadah atau ahli maksiat, pencipta kedamaian atau pencipta kerusuhan, di mata virus kita semua sama saja.

Sekarang ini, sejauh yang saya rasakan, perihal rasisme ini tidak muncul lagi di publik. Masih ada sesekali tapi gak separah minggu lalu. Di jalanan, di kereta metro, di bis, saya tidak lagi menemukan orang Mesir yang nampak jijik ketika melihat saya secara langsung. Mungkin karena video viral kemarin sangat viral sehingga banyak orang Mesir yang tersadarkan. Kecuali orang-orang Mesir dengan lapisan pendidikan tertentu, seperti pengemis, penduduk slum area, atau kalangan ammu-ammu yang gak kenal medsos, beberapa masih suka melihat orang Asia dengan sinisnya.

Ada banyak hal yang terkena dampak dari Coronavirus. Tidak hanya soal rasis-rasisan, tapi juga sektor ekonomi yang nampaknya menjadi ancaman serius bagi banyak negara, termasuk Mesir. Ketika sektor ekonomi lokal tidak begitu bergairah, daya beli rendah, dan terlalu bergantung pada kunjungan wisatawan asing, Corona tidak hanya menjadi wabah berbahaya bagi manusia, tapi juga wabah bagi ekonomi bangsa. Mungkin lain kali kita bahas soal ini.

Hari ini adalah hari pertama dari dua minggu yang diliburkan oleh Pemerintah Mesir. Sekolah, kampus, dan berbagai instansi publik diliburkan guna mengantisipasi penyebaran virus Corona yang bikin bete umat manusia. Supermarket Mahlawy mulai tutup hari ini sampai dua minggu ke depan, dan mungkin akan disusul oleh supermarket lainnya. 

Tiga hari lalu Mesir dilanda hujan badai terbesar yang pernah ada, beberapa wilayah dikabarkan banjir, gardu listrik meledak dan terjadi pemadaman bergilir di seantero Cairo, volume air Sungai Nile meningkat disertai warna keruh mengakibatkan PDAM Mesir mengalami masalah serius di pasokan air bersih untuk seratusan juta penduduknya. Ketika paragraf ini ditulis, air rumah saya masih mati sejak tadi pagi, dan entah kapan akan kembali normal. 

Semoga rentetan musibah ini segera berlalu, dan tidak bertambah dengan musibah lainnya. Sebab mengalami kesendirian saja sudah cukup jadi musibah yang teramat berat untuk dipikul. Hiks. 

16 Maret 2020.




Komentar