Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Lelaki Mustahil dan Cinta Orang-Orang Kuat


Pernah gak denger selintingan kalau perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti cowok-cowok pada minder buat deketin? Gak hanya denger, bahkan mungkin ada juga yang menjadikan itu semacam pandangan hidup bagi perempuan. Gak mau sekolah tinggi-tinggi dulu ah kalau belum dapet jodoh. Nah, gimana kalau kalimat itu kita lengkapi: perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti cowok-cowok bodoh pada minder buat deketin? 

Aduh diksinya gak enak banget ya, tapi ada opsi lain gak?

Hal di atas nampak berkaitan dengan pikiran saya akhir-akhir ini soal lirik lagu Faia Younan yang judulnya Hob Al-Aqiwiya, alias cinta orang-orang setrongg. Liriknya ditulis oleh Mahdi Mansour, seorang sastrawan Lebanon yang puisi-puisinya banyak bicara soal isu sosial, kritik, dan salah satunya tentang budaya patriarki masyarakat Arab yang turut hadir dalam cara pandang jatuh cinta seorang laki-laki terhadap perempuan. Lagu ini bicara soal kebanggaan seorang perempuan yang kadang kala sering diremehkan ketika dijatuhi cinta oleh laki-laki. Mari kita bikin terjemahkan liriknya dengan kemampuan terjemahan yang "harap dimaklum".  

لماذا تحاولُ في الحب قتلي
لماذا تخاف شموخ النساء
وتعرفُ أنّ قلبي عزيزٌ
ولم أتعوّد على الانحناء
Mengapa kau membunuhku atas nama cinta
Mengapa kau takut akan kehormatan seorang perempuan
Kau tahu betul betapa kuatnya hatiku
dan tak terbiasa untuk bertekuk lutut

أنا ما لجأتُ لعينيكَ خوفا
أنا بنتُ خيرِ الترابِ وشمسِ السماء
فإن كنتَ تحسبُ عشقيَ ضُعفا
وتجهلُ معنى الوفاء
فإني لعزّةِ نفسيَ أوفى
ولا حبَّ عندي بلا كبرياء
Aku tidak datang kepadamu dalam kondisi takut
Aku adalah putri dari kebaikan tanah dan matahari
Jika kau mengira cintaku sebagai suatu kelemahan
dan kau keliru memaknai kesetiaan
Maka aku akan setia pada kehormatanku sendiri
sebab tak ada cinta tanpa kebanggaan

أراكَ غريقاً بلا ضفّتين
تخشى البقاءَ وتخشى الرحيلا
معاً لن نكونَ سوى جانحين
فكنْ مرّةً رجلاً مستحيلا
Aku melihatmu tenggelam di antara dua tepian
Takut untuk menetap, namun enggan untuk pergi
Bersamamu kita tak mungkin bisa jadi dua sayap
Maka jadilah seorang lelaki yang terkecuali

أحبكَ لكنَّ قلبي عزيزٌ
ولم أتعوّد على الانحناء
تعلّمْ معي أنْ تكونَ قوياً
فقد خُلِقَ الحبُّ للأقوياء
Aku mencintaimu tapi hatiku punya harganya sendiri
Sementara aku tak terbiasa bertekuk lutut
Belajarlah bersamaku supaya jadi lelaki kuat
Sebab cinta diciptakan hanya untuk orang-orang kuat

Saya jadi ingat seorang lelaki yang tempo hari datang meminta saran untuk memilih satu dari tiga perempuan yang akan ia nikahi. Lalu saya tanya kelebihan dan kekurang dari ketiga calonnya itu. Singkat cerita, ia memilih perempuan ketiga dengan alasan: level pendidikan formalnya berada di bawah ia, sehingga level pendidikan si cowok tidak tersaingi. Mungkin sarkasnya, ceweknya gak pinter-pinter amat dibanding kebodohan yang ia punya, jadi kalau debat rumah tangga bakalan tetep menang. Gitu gak sih?

Saya gak menyalahkan keputusan itu, karena saya percaya bahwa level pendidikan dan kecerdasan itu tidak selalu berbanding lurus. Siapa tahu kan ada orang cuma lulusan SD tapi bisa buka jasa bikin Disertasi? Ya meskipun kemungkinan itu nampak kecil. Yang saya sayangkan adalah, kenapa ia melihat perempuan itu sebagai seseorang yang berada di bawahnya dan harus selalu di bawahnya dalam segala hal? Gak gitu men. Semaskulin apapun kita sebagai cowok, kita harus mengamini lagu Faia di atas bahwa hubungan dua insan yang membangun cinta itu harus dilandasi oleh dua sisi yang sama-sama sempurna, tidak berdasarkan yang satu lebih kuat dan satu lebih lemah.  

Dari tesis ini saya jadi berkesimpulan wajar kalau laki-laki memang minder buat deketin perempuan yang pinter, dalam hal ini yang sekolahnya tinggi, karena takut ketahuan bodohnya. Gengsi dan gak sesuai norma aja gitu kalau cowok yang notabene imamnya perempuan, keliatan bukan apa-apa dibanding pasangannya.

Lagu di atas sebenarnya memberi kesan begini, bahwa kalau kamu perempuan dan hati kamu seharga logam mulia, maka tak perlulah menurunkan harga diri untuk mendapatkan hati laki-laki yang cuma seharga alumunium tiang jemuran. Bahkan liriknya berani bilang, kalau aku emas dan yang datang bukan emas, lebih baik aku jomblo aja.

Beberapa waktu lalu Fikr dan Biah tanya apa lagu bahasa Arab yang bagus buat didengerin. Mungkin jawaban saya adalah lagu-lagu Faia Younan. Di samping melodi dan aransemennya, lirik-liriknya cukup bertenaga untuk dihayati dan tentunya sambil belajar bahasa Arab Fusha. Cobain deh dengerin. 


 
Sabtu, 30 Mei 2020.
Hari pertama Mesir mewajibkan pake masker dan pertambahan korban korona per hari sudah di atas 1000 orang.
  


Komentar

Posting Komentar