Catatan awal Juni

Hai, Blog! Lama sekali rasanya tak bersua dengan blog ini. Akhir-akhir ini hampir selalu dalam kondisi ingin menulis tapi tak tahu apa yang harus ditulis. Padahal jika saja ada sedikit kemauan, ada banyak hal yang bisa diabadikan dalam kapsul-kapsul kalimat. Misalnya soal bibit anggrek yang membusuk di minggu kedua karena buruknya pengetahuan soal menanam anggrek, soal kolam ikan yang setelah dikuras dan dibersihkan malah menjadi genangan air dan sarang nyamuk, atau hal-hal lainnya. Minggu lalu, Bang Juhri dan keluarganya datang berkunjung ke rumah. Silaturahim, makan bersama, dan berbagi cerita dengan bapak saya. Intinya kenalan dan nyari yang ijo-ijo, katanya. Bang Juhri adalah salah satu kenalan waktu kerja di Makkah. Lebih tepatnya sesama petugas tapi jabatannya lebih tinggi. Alhamdulillah-nya komunikasi kami berjalan baik dan silaturahim tetap terjaga. Waktu ke mari, ia nanya, enakan hidup di kota atau di sini (kampung)? Saya bilang, enaknya hidup di kampung adalah bisa tetap hidu

Antisosial dan Kesolehan Sosial

Image Credit: Hitesh Sonar For The Swaddle/Getty

Kalian pernah ngetawain diri sendiri gak atas apa yang pernah dilakukan di masa lalu? Nah, sekarang ini aku lagi gitu tau. Nginget-nginget kebodohan-kebodohan dan ke-su'ul adab-an yang kalau diinget-inget pengennya nutup muka, buang napas kasar, atau kalau bisa menghapus ingatan itu sebersih-bersihnya. Misalnya aku nginget-nginget betapa keras kepalanya aku waktu belajar berorganisasi di KPMJB (komunitasnya orang Jawa Barat di Mesir). Keukeuh pengen ini, harus gitu, ceplas ceplos, sampai bilang sendiri, "aing naha dulu gitu-gitu amat ya?", "kok bisa-bisa ngelakuin itu padahal kan gak sopan?", "duh kuduna mah dulu teh bilang maaf atau terima kasih tapi kenapa enggak ya?".

Begitupun ketika pertama kali kerja di KBRI, cara-cara berinteraksi dengan atasan, keteledoran-keteledoran mengerjakan tugas, bagaimana nanganin mahasiswa yang ngeselin versiku sendiri, dan kelakuan-kelakuan memalukan lainnya, banyak yang baru disadari belakangan karena kita banyak belajar hal baru dari kesalahan-kesalahan itu. Kayanya, kita semua pernah punya pengalaman gitu. Pernah ngeselin pada masanya, pernah rese pada masanya, pernah merasa paling berjasa dan inginnya diucapin makasih, bahkan mungkin pernah tidak diinginkan oleh orang lain pada masanya. Entah karena tindakan/perkataan yang disadari atau tidak. Selanjutnya muncul pertanyaan baru, kok orang-orang di sekitarku waktu itu mau-maunya ya menoleransi kelakuanku itu?

Jadi gini. Saya mulai paham sedikit-sedikit kenapa kita perlu melakukan sebanyak mungkin kesalahan selagi kita masih muda. Kesalahan dalam arti bukan sengaja nyakitin hati orang lain, atau nikung khitbahan orang, atau apalah itu. Tapi maksudnya berani mengambil keputusan yang punya resiko salah, berani melakukan sesuatu yang sebelum dilakukan biasanya ada rasa "takut ah, nanti kalau gimana-gimana gimana?". Dengan banyak melakukan kesalahan di saat muda, kemungkinan kita untuk belajar dari kesalahan itu sangat mungkin, dibanding mereka yang tidak pernah sama sekali mengambil resiko di masa mudanya. 

Contoh, cara nanganin orang yang baperan ketika kerja. Bagi orang yang pernah mimpin organisasi, atau setidaknya ngurusin aneka jenis manusia dengan jumlah masa yang banyak dan karakter masanya beda-beda, menghadapi orang baru yang baperan ketika kerja bukanlah sesuatu yang besar, tidak akan menguras seluruh energi kehidupan,  karena mungkin saja pernah menghadapi karakter serupa ketika dulu ngurus organisasi. Bahkan mungkin sudah punya strategi sendiri bagaimana cara menghadapi orang baperan begini. Tapi jika yang berhadapannya adalah orang yang zero experience, belum tentu tindakan dan keputusannya akan sebijak orang yang berpengalaman ngurus orang tadi. 

Contoh juga dalam membuat perencaan sesuatu, misalnya rencana ngurus rihlah. Orang yang udah punya pengalaman ngurus rihlah dan dulu gagal, biasanya akan lebih fleksibel ketika ngurus rihlah lagi ketika rihlah keduanya ini dihadapkan pada resiko gagal juga. Lebih santuy, lebih bijak, bahkan kalau lagi emosi, cukup emosinya buat diri sendiri aja, tanpa perlu melampiaskannya ke orang lain. Kedewasaan dalam bersikap ini tidak muncul begitu saja di diri kita, tapi ada proses dulu di belakangnya. Percaya sama aku. 

Gak usah contoh yang ribet-ribet deh. Gini aja, aku bisa nerima kamu apa adanya adalah hasil dari proses berliku aku yang tidak diterima apa adanya oleh mantanku. Logika aku mempelajari kesalahan itu dan memperbaikinya untukmu, adalah proses panjang sebelum akhirnya muncul kalimat, "aku mencintaimu tanpa tapi." Eh atau justru ini contoh yang lebih ribet ya? Kisah cintaku emang selalu ribet. Sue.    

Kemampuan sosial dan interpersonal ini memang susah-susah gampang. Tidak bisa dipelajari dari buku atau ruang kelas (semata), tapi harus dengan pengalaman. Mungkin sering kali kita temukan orang-orang kutu buku yang pinter dan rajinnya bukan main, tapi kehidupan sosialnya tertutup parah. Tidak bisa basa-basi dengan orang baru dengan cara yang menyenangkan, tidak suka silaturahmi dalam format kumpul-kumpul atau nongkrong, cenderung memilah-milih orang untuk jadi teman duduk, atau mungkin saja terlalu asik dengan pikirannya sendiri sehingga tidak ingin ketemu orang lain karena pikirannya sudah keburu menjudge: dia bukan orang yang tepat untuk diajak hangout bersama. 

Atau ada juga orang-orang yang tidak suka berbaur dengan orang lain dan sembunyi di balik kata "introvert". Hey! Introvert dan males silaturahmi itu beda urusan! Mau intro, ekstro, atau apalah itu, kita perlu belajar gimana caranya hidup bersosial. Menurutku ini penting. Saya pribadi tidak terlalu suka keramaian. Jarang sekali kumpul-kumpul, dan lebih memilih untuk duduk dengan orang yang sedikit, bahkan cenderung itu-itu aja tapi intimate. Tapi ada kondisi yang membuat saya harus memaksakan diri untuk mau berbaur dengan lebih banyak orang. Karena dengan berbaur dengan siapa aja itulah, aku jadi ketemu beragam karakter, beragam paradigma, beragam perspektif, jadinya aku lebih bisa memaklumi jika ketemu orang baru dengan karakter yang berbeda lagi.

Jadi inget dulu waktu wawancara masuk HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) di Bandung, teman sekelasku namanya Uni, ia bilang "ente harus masuk organisasi, biar gak pendiem terus di kelas, biar bisa ngobrol!". Di masa itu, bahkan mungkin sampai sekarang, saya masuk kategori siswa yang kalau masuk kelas duduknya di belakang dan hanya bicara kalau ditanya. Lalu waktu jadi Maba di Mesir, mujurnya aku ketemu dan tinggal serumah dengan Mang Iwan, yang kesolehan sosialnya masyaallah banget. Silaturahmi terus sana-sini, butuh gak butuh pokoknya silaturahmi ke orang itu harus, dan mungkin di masa itulah aku banyak belajar gimana caranya berbasa-basi dengan orang. Basa-basi dan bercanda itu memang bukan hal yang esensial, tapi bisa jadi itulah satu-satunya alat yang mampu mengikat emosi kita dengan orang lain sehingga bisa terkoneksi. Setelah terkoneksi akan muncul kesaling-memahami-an, muncul toleransi, bahkan muncul keberpengaruhan.

Seorang ustadz yang keilmuannya luar biasa bisa saja tidak mudah diterima masyarakat, hanya karena ia tidak bisa melakukan pendekatan yang pas dengan bapak-bapak yang suka maen catur di pos ronda. Seorang istri yang cantik menawan dan rajin ngajak adzkar shobah di status whatsapp, bisa saja tidak digandrungi ibu-ibu tetangganya. Bukan karena istri ini tidak suka gosip sebagaimana ibu-ibu di tetangganya, tapi karena tidak punya kemampuan bagaimana cara berbaur supaya bisa "mengendalikan" dan "mengarahkan" jika memang yang biasa dilakukan ibu-ibu itu keliru. 

Jika kesalahan-kesalahan dalam proses pembelajaran itu tidak dilakukan ketika muda, atau dengan titik mulai yang lebih awal, maka kita akan melalui proses itu ketika dewasa. Dan percayalah, melalui proses itu ketika dewasa bukanlah hal yang menyenangkan. Misalnya jika saya tidak mengucapkan terima kasih kepada orang saat aktif berkegiatan di KPMJB dulu, mungkin orang pada masa itu akan ngedumel dan marah. Setelah orang itu sama-sama hidup barengan lagi saat ini, mungkin ia akan memaklumi kesalahan saya itu sebagai bagian dari proses belajar. Tapi jika hari ini saya tidak mengucapkan terima kasih atas jasa seseorang, dan seseorang itu tidak punya permakluman atas kesalahan saya, tentu saja dampaknya akan lain. Tidak menganggap lagi kesalahan saya sebagai bagian dari proses belajarnya anak-anak, bahkan urusan bisa lebih panjang.

Saya jadi inget cerpennya AA Navis, Robohnya Surau Kami. Dikisahkan ada tokoh Ajo Sidi yang dikenal bukan ahli masjid dan Kakek yang dari kecil sampai tua hidup di masjid. Kakek merasa yakin akan masuk surga karena senantiasa di masjid dan menyembah Allah, tapi justru mati bunuh diri setelah mendengar cerita Ajo Sidi tentang cerita Haji Soleh yang di akhirat kepedean masuk surga padahal masuk neraka gara-gara sering menyembah Allah, tapi lupa dengan kondisi kehidupan sosialnya, kondisi tetangganya, dsb. Sesuatu yang ironis bagi si Kakek yang ngaku ahli surga dan rajin ibadah tapi tidak suka bekerja membantu orang lain, sementara Ajo Sidi yang dikenal bukan ahli ibadah justru jadi orang pertama yang membelikan kain kafan saat kematian si Kakek. Ini cuma cerpen, dan mungkin gak nyambung juga dengan topik tulisanku, tapi pengen aja ngemensyen. wkwkwkwk....

Sampai sekarang juga aku masih dan akan terus belajar gimana caranya hidup bersosial. Makanya aku mulai instal Tinder ....

16 Desember 2020.    


Baca juga:

- Nasehat untuk Maba dari Kakak yang Udah Dua Kali Rosib

- Guru Bimbel, membantu najah atau mempercepat nikah?

- Jika Masisir menikah dengan non-masisir

- Seni menangani jamaah haji nyasar

- Kenapa Masisir suka pencitraan?

- Surat cinta untuk Adek yang gak lolos seleksi ke Mesir


Komentar