Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Mari Kita Ngomongin Korona



Saya hampir tidak pernah tertarik untuk membahas korona dalam obrolan di manapun dan dengan siapapun. Dari mulai basa-basi supir grab, teman kerja, sampai keluarga sendiri, topik korona adalah topik yang hampir tidak pernah saya tanggapi. Alasannya karena gak menarik aja untuk dibicarakan sebagai obrolan basa-basi yang justru sejauh ini tidak membuat saya terhibur atau tercerahkan. Apalagi kalo ngobrolnya sama golongan teori konspirasi. Udah, iyain aja.

Teori konspirasi itu bikin kita sibuk ngomongin sebab. Sementara yang sekarang terjadi adalah rumah sakit penuh, banyak orang kehilangan pekerjaan, banyak pasar sepi pengunjung, instead ngomongin hal-hal besar seperti perang dagang vaksin dan konspirasi, saya lebih tertarik ngomongin orang-orang yang sejak korona ini jadi uninstall Tinder karena orang-orang yang mutualan punya alasan PSBB untuk tidak ketemuan di dunia nyata.

Secara agak serius, saya pernah menulis soal korona ini di sini, sudah diikutsertakan di acara PPI Timur Tengah dan Afrika, dapet terbaik keenam dari 120 sekian, dapet duit 30$, dan dapet janji akan diterbitkan jadi buku tapi sampe saya pedekatean dan gagal dan pedekatean lagi masih belum diterbitkan juga sampe sekarang. Ah, kirain politisi doang yang suka janji manis. Duh.

Di tulisan itu sederhananya saya berpendapat bahwa pemuka agama punya peran besar dalam memberikan pengaruh kepada masyarakat. Ketika suara ahli virus dan tenaga medis tidak cukup didengar oleh masyarakat, maka ulama perlu turun tangan dan ikut menyuarakan mengingat besarnya gaung yang didengar oleh masyarakat kita. Kenapa saya menyoroti pemuka agama?

Jadi gini. Saya memfavoritkan banget Surat An-Nahl ayat 43: kalo lu gak tau, tanya sama ahlinya! Nanya fatwa ke mufti, bikin baju ke tukang jahit, belajar matematika ke guru matematika, urusan penyakit dan obatnya ya ke tenaga medis. Mungkin aja kita konsultasi fikih solat ke Pak Habibie, tapi ingat dia ahlinya di bidang pesawat. Hanya tahu dan berwawasan soal fikih solat bukan berarti Pak Habibie ahli dalam hal Ilmu Fikih. Begitupun dengan korona. Ustadz-ustadz kita memang tahu dan ahli soal dalil agama dan mereka tahu bagaimana membingkai musibah korona ini sebagai bagian dari fenomena yang perlu ditanggapi dengan kaca mata spiritualitas dan keagamaan. Tapi ketika perannya sudah lewat pada batas yang seharusnya pendapat virolog dan Nakes lebih menggaung, di situ ada kesalahan.  

Saya seringkali menemukan The Negativity Bias atau efek negativitas di banyak orang lewat isu korona. Ada di antara kita orang-orang yang cenderung membesar-besarkan berita negatif, berita buruk, sering menyebarkan berita jumlah kematian, ketidakpercayaan berlebihan terhadap tenaga medis, suudzan sepenuhnya sama pemerintah, dan seneng aja membagikan berita gak seneng. Berdasarkan ciri-ciri itu, kemungkinan orang tersebut mengalami mental disorder bernama negativity bias ini. Sering kok kita jumpai orang yang selalu terdepan dan bersemangat membagikan kisah pilu korona ini sebagai "kesenangan mental" bagi dirinya, seperti ingin memberitahu semua orang bahwa korona adalah rekayasa, tenaga medis sepenuhnya settingan, dan pemerintah hanya ingin ambil untung dari agenda besar yang disembunyikan.

Pertama, saya tidak menutup mata bahwa pemerintahan kita memang tidak sepenuhnya bertindak benar dan cepat soal korona ini. Setidaknya berdasarkan apa yang saya alami selama hampir setengah tahun lebih masa korona ini saya masih hidup di bawah atmosfer pemerintah Mesir, dan beberapa bulan berikutnya sampai sekarang di bawah atmosfer pemerintah Indonesia. Kesimpulan saya, kalau memang pemerintah mau ambil untung, justru negara banyak dirugikan secara ekonomi. Mesir kehilangan jutaan wisatawan, begitupun Indonesia dan negara-negara lainnya.

Begitupun dengan berita Jokowi divaksin, apakah itu vaksin yang sama yang akan diberikan ke masyarakat, atau mungkin cuma vitamin C aja. Saya ingin berhusnudzan bahwa Jokowi adalah pria soleh yang jujur dan bertanggung jawab. Kalaupun yang disuntikkan itu ternyata vitamin C dan bukan vaksin, lalu membuat pembohongan publik, ya udah kalo kita beriman mah nanti juga bakal ketahuan malaikat. Pedih-pedihnya paling dia dicap pemimpin dzalim di akhirat. Sesimpel itu. 

Kedua, saya juga tidak menutup mata bahwa korona telah menjadi ajang bisnis bagi dunia kesehatan. Waktu pertama kali tes PCR di Kairo, saya tidak melihat keseriusan tenaga kesehatan dalam menguji setiap pasien. APD asal pakai, antrian kacau balau, pengambilan hasil juga berdesakan, bahkan benar-benar nampak murni sebagai formalitas bagi yang punya kebutuhan akan PCR. Gak ada steril-sterilnya, sangat jelas terkesan ingin duitnya aja. Lalu ketika PCR di Jakarta, hasil PCR dikeluarkan berdasarkan seberapa berani kita mampu bayar. Dari tarif 1,5 juta keluar 3-4 hari sampai tarif 3,5 juta keluar 6 jam. Bisnis banget kan? Bahkan setiap yang mau dioperasi di RS harus PCR dulu. Waktu itu ketemu teteh-teteh yang bapaknya darurat mau dioperasi jantung. Tapi operasinya belum bisa dilaksanakan karena harus PCR dulu dan hasil PCR-nya gak keluar-keluar. Kan kasian jadinya. Saya mengalami PCR ternikmat pas lagi di Istanbul. Harga jauh lebih murah dibanding Kairo dan Jakarta, hasilnya juga 3 jam keluar. Udah gitu petugasnya taburan surga. Duhh.Orang Turki cakepnya emang gak ada obat!

Ada juga cerita tetangga di teras rumah yang bilang, ketika Pak X meninggal di RS karena korona, keluarga hanya bisa menyaksikan dari balik kaca proses pemandian dan pengkafanannya. Tapi setelah sampai di rumah dan sebelum dikuburkan, entah bagaimana ada anggota keluarga yang membuka kantong mayatnya dan didapati Pak X tak memakai kain kafan sehelai pun. Jadi kafan yang tadi dipasangin dilepas lagi? Dan beberapa cerita lainnya yang bikin kita kehilangan percaya ke tenaga medis dan korona. Tapi apakah kondisi itu membuat saya menjadi tidak percaya korona? 

Saya punya terlalu banyak teman dan kenalan dokter untuk tidak percaya korona. Dari perawat puskesmas, dokter umum, peneliti farmasi, sampai ahli bedah dan ahli-ahli lainnya ada di kontak whatsappku. Beneran. Dan mereka seringkali bikin status yang menurut logikaku, mereka ahlinya dan lebih layak didengar daripada opini ahli tafsir hadis ketika membahas korona ini. Tapi apakah alasan ini cukup bertenaga jika saya lemparkan ke orang-orang bermental negativity bias tadi? Akan selalu tertolak. Kenapa? Karena ada gap literacy yang cukup jauh yang tidak bisa menjembatani pemikiran ini. Alih-alih menjadikan percaya-tidak percaya korona ini sebagai alternatif pemikiran/pendapat yang harusnya berbeda tapi saling menghargai, kita atau saya malah dikategorikan sebagai bagian dari satu grup yang kalau gak hitam ya putih. Sama kaya kita ngomongin Arab sebagai sebuah hamparan luas berisi 20 negara lebih, tapi lawan bicara kita hanya paham Arab sebatas Mekah lagi Mekah lagi. Nyambungnya susah. 

Ada satu terjemahan menarik di salah satu buku Quraisy Shihab, Islam yang Saya Pahami. Ayat "Innama yakhsya Allah min ibaadihi al ulamaa" bagian 'ulamaa'-nya tidak diterjemahkan dengan lema 'ulama' yang dalam bahasa Indonesia memberi tendensi 'ahli agama', orang yang secara spesifik mempelajari ilmu-ilmu keagamaan. Alih-alih ia menggantinya dengan kata 'cendekiawan'. Saya merasa senang sekali dengan terjemahan itu, karena memberi tafsiran bahwa cendekiawan yang memahami ilmu apapun dalam derajat spiritualitasnya justru akan menemukan Tuhan dan menemukan rasa takut padaNya. 

Nah, saya ingin menyimpan dengan baik di ingatan saya bahwa ahli virus dan tenaga medis yang paham betul soal korona ini juga ulama di bidangnya. Jangan sampai keahliannya itu kalah suara oleh seseorang yang mengklaim dirinya ustadz, atau diklaim, hanya karena pengalaman pernah mesantren atau pernah umroh, atau pernah haji. 

Jadi kesimpulannya gimana? Dengan ada atau tidak adanya korona, saya akan tetap cuci tangan sebelum makan, saya akan tetap olah raga sebisa mungkin, saya akan tetap makan makanan sehat, dan saya akan tetap menjaga hati dan pikiran saya agar tidak jadi toxic buat orang lain, dengan tetap kritis tanpa suujon SUUJON pada pemerintah atau tenaga medis atau pemuka agama.

Korona akhirnya jadi salah satu cara untuk mati bagi sebagian orang. Coba deh liat di jalanan Purwakarta atau Bekasi, ada orang bawa motor pake masker tapi gak pake helm. Katanya takut mati karena korona. Mati kok bisa pilih-pilih gitu ya .... 

20 Januari 2021.  
   

Komentar