Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Pengalaman Wawancara Kerja di Kedubes Suriah Jakarta

Sejak Oktober sampai sekarang, saya mengirim banyak sekali lamaran kerja. Saking banyak dan seringnya, saya sendiri lupa ada berapa banyak, ke mana aja, untuk posisi apa saja. Bahkan sampai ada satu masa di mana melamar kerja sudah seperti rutinitas sebelum tidur. Dari sekian banyak lamaran, tentu saja ada banyak penolakan. Bahkan ditolak semua, gak tau diterimanya kapan. Awalnya kecewa, lama-lama ketawa. Ditolak kerja udah kaya lucu-lucuan aja. 

Dari sekian banyak lamaran itu, ada beberapa yang sampai tahap interview. Pernah interview calon guru Bahasa Arab di Malaysia, yang wawancara pak cik-pak cik. Kirain pake bahasa Melayu, ternyata bahasa Arab. Pernah juga wawancara untuk posisi Media Relations sebuah organisasi diaspora profesional Indonesia. Interviewnya singkat cuma 10 menit, pake bahasa Inggris, dan kayanya ini wawancara tertepat waktu, terefisien dan terefektif. Dijadwalin 10 menit bener-bener cuma 10 menit. Wawancaranya asik, kaya ngobrol biasa aja, tapi ditolak. Fyuh. Tapi yang paling berkesan adalah wawancara di Kedutaan Besar Suriah di Jakarta. Jadi gini ...

Tahap pertama dari proses seleksi itu adalah seleksi administrasi. Saya gak tau berapa banyak yang daftar dan disaring, pokoknya tau-tau nyisa lima orang yang masuk tahap wawancara. Mereka menghubungi saya via telepon sore-sore, via whatsapp juga. Dari ngirim berkas sampai panggilan wawancara kira-kira satu mingguan. Lalu saya pun diberi jadwal untuk masuk area kedutaan yang berlokasi di Mega Kuningan pada pukul 11.30 WIB. Itu satu kompleks kedutaan semua, semacam Garden City kalo di Kairo. Jalannya sepi, teduh, dan agak tegang sebenarnya karena banyak CCTV dan patroli polisi. Lokasi Kedutaan Suriah cukup mudah ditemui di Google Maps, meskipun tidak banyak review dan foto-fotonya. Kalau dilihat dari bentuknya, kedutaan ini seperti rumah biasa dan tidak terlalu luas. Halamannya hanya beberapa meter taman dan parkiran mobil yang langsung nyatu dengan garasi. Ketika sampai sana, saya ketemu seorang kandidat lain yang sedang menunggu di depan pagar, namanya Mas Ronald. “Jadwal saya jam 12.00, belum dibolehin masuk!” Katanya. Waktu itu saya tiba kira-kira pukul 11an entah lebih berapa menit. Sambil kami kenalan dan nebak-nebak bakal ditanya apa nanti, seorang petugas keamanan memanggil nama kami dan memperbolehkan masuk. Di pos keamanan itu kami mengisi buku tamu, dan menanggalkan semua alat elektronik karena tidak boleh dibawa masuk. Kami pun masuk ruangan dan di sana sudah ada tiga kandidat perempuan. Kami berlima duduk di ruang tamu, saling diam seribu bahasa. Ruangan itu benar-benar sepi, hanya terdengar suara sepatu para staf yang bulak-balik ruangan. Jadinya bingung, ini sebenernya boleh ngobrol gak sih? Mau berisik dikit tapi takut dosa. Saya cuma sempet nanya teteh-teteh yang duduk di sebelah saya, katanya dia dari Depok. Udah, itu aja. 

Lalu saya dipanggil di urutan ketiga dan langsung diarahkan seorang staf perempuan untuk masuk ke  ruang kerja Pak Dubes yang tak jauh dari ruang tamu. Lalu masuklah saya dengan degdegan. Ruangannya cukup luas, mirip ruang Dekan di Al-Azhar. Ada bendera negara Suriah, ada peta Daulah ‘Arobiyah, ada tanaman hias di beberapa sudut, furnitur serba kayu, pajangan beberapa cenderamata, tumpukan berkas di meja kerja, dan papan nama terbuat dari kayu tertulis nama Pak Dubes. Tidak ada salaman jabat tangan, karena harus jaga jarak dan masker gak boleh lepas. Tapi Pak Dubesnya gak pakai masker, jadi saya bisa lihat jelas bagaimana mimik mukanya sepanjang wawancara. 

Pertama, ia membaca CV saya. Waktu itu saya sebagaimana dua orang sebelumnya bawa berkas dalam map berupa ijazah, sertifikat, dan lain-lain. Tapi kata Pak Dubes, “I don’t need your certificates. Everything already written on your CV, just be honest.” Wah seru nih. Wawancara pun dimulai. Wawancara ini berlangsung dalam bahasa Arab dan Inggris. Kadang ditanya pake Inggris, kadang Arab. Kadang campur-campur juga, berasa jadi anak Jaksel versi Arab. 

Pertanyaan pertamanya adalah soal pengalaman kerja. Apa, di mana, ngapain aja. Salah satunya karena di CV tertulis pernah kerja di KBRI Cairo, ia bertanya soal kerja sama pendidikan Indonesia-Mesir. Apa saja kerja samanya, tugas saya waktu itu sebagai apa. Lalu karena tertulis pula pernah Temus di Saudi, ia bertanya apa kelebihan Saudi dibanding Mesir dan Indonesia. Apa yang disukai dari Saudi dan apa yang disukai dari Indonesia. Sejujurnya saya takut ditanya soal Suriah, karena survey saya gak banyak soal ini. Yang ada di kepala saya soal Suriah cuma cerita-cerita Mang Dadan Kecrek yang kerja di KBRI Damaskus yang katanya suka denger suara ledakan dan gak banyak tempat nongkrongnya.  

Lalu pertanyaan berikutnya soal pendidikan. Karena saya kuliah Bahasa Arab, salah satu pertanyaan yang saya ingat adalah, “what’s your favorite subject at university?”. Saya jawab gak ada, karena susah semua wkwkwk. Tapi karena dipaksa jawab, saya bilang Kritik Sastra. Alasannya karena suka cuma mata kuliah itu yang bisa ngarang bebas pas ujian. Gak harus ngafal syair kaya Nushush, atau nelaah kaidah kaya Nahwu atau Balaghoh. Pak Dubes cuma ketawa. Mungkin di pikirannya, ini kayanya anak keliatan banget pemalas ngafalnya. Lalu ia bertanya soal sastrawan asal Suriah. Ini horor sih, berasa ujian lisan. Waktu itu saya ditanya soal syair favorit dari Suriah, ditanya soal Nizar Qabbani, dan beberapa tokoh sastrawan dan budayawan Arab secara umum. Nanya Ibnu Farid, Ummu Kultsum, Fairuz, Naguib Mahfouz, bahkan terakhirnya ditanya pendapat saya soal Nawaal Sadawi. Ih ngeri kali ini Dubes. Tapi sebagai fans Faia Younan garis lembut, yang mana Faia penyanyi kelahiran Suriah tulen, tak lupa saya bilang bahwa saya suka sama dia. Seseneng itu bisa mengutarakan rasa kagumku lewat Dubesnya.

Terakhir sebelum ditutup, Pak Dubes ngasih kalimat yang sebenernya bikin ge-er dan bikin kita ngarep. "You have a good skill, competence, and capability to do this job bla bla bla..." sambil menggaris-bawahi kata-kata tertentu di lembar CV saya dengan pulpennya, yang saya gak tahu maksudnya apa. Lalu sesi pun ditutup dan saya dipersilakan keluar tanpa diberi tahu kapan akan diumumkan, daannn sampai sekarang gak pernah ada pengumumannya. Udah berbulan-bulan loh. Waktu setelah beberapa minggu dari wawancara itu, saya sempat menghubungi nomor kedutaan dan menanyakan kabar lanjutnya. Tapi katanya memang belum diumumkan. Kata teman sih katanya ada proses screening yang cukup lama kalau mau kerja di kedutaan asing. Mungkin profil kita lagi diselidiki semacam Amn Dawlah gitu kali ya.

Wawancara itu berlangsung sekitar 30 menitan lebih. Selesai keluar ruangan, saya langsung kembali ke ruang tamu, mengambil barang di pos dan langsung pulang. Sebenernya saya gak begitu ngarep hasilnya akan diterima atau tidak, karena mungkin sejak lama sudah terlatih untuk tidak pernah ngarep lebih sama apapun. Efek keseringan patah hati kah? Haha...

Terlepas dari tidak diterima pun, wawancara kerja ini menurut saya menjadi pengalaman yang berkesan baik, karena mencerahkan dan mendorong saya untuk belajar lebih banyak lagi. Buat saya proses melamar kerja itu, khususnya wawancara, adalah sebuah diskusi yang setara. Saya punya sesuatu yang dibutuhkan user, dan user punya sesuatu yang dibutuhkan pelamar. Dengan cara pandang seperti itu artinya tidak ada yang lebih superior di antara kedua pihak. Idealnya sih gitu, meskipun nyatanya mungkin enggak. Suka sotoy deh aku. 

Rabu, 14 April 2021.


Baca juga:

Nasehat untuk Maba dari Kakak yang Udah Dua Kali Rosib

Guru Bimbel, membantu najah atau mempercepat nikah?

Jika Masisir menikah dengan non-masisir

Seni menangani jamaah haji nyasar

Kenapa Masisir suka pencitraan?

Surat cinta untuk Adek yang gak lolos seleksi ke Mesir


Komentar