Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Gotong Royong Benerin Jalan di Momentum Agustusan

Beberapa hari lalu ada gotong royong benerin jalan rusak di kampungku. Dari kerja bakti itu, saya nemu satu jokes baru dari bapak-bapak: tidak semua yang dimasukkin ke dalam itu keluar di dalam, tapi ada yang dimasukkan tapi keluarnya ke luar. Apa itu? Kancing baju. 

Penyampaian pertama kali memang lucu, tapi ketika diulang lagi dengan porsi dan takaran yang sama, jadinya garing. Yaa namanya juga bapak-bapak. Pengen bilang, "udah, Pak, gak perlu diulang lagi, lucunya udah abis!" tapi segan, jadinya cukup bilang di dalam hati aja. Saya khawatir kalau nanti jadi bapak-bapak, saya juga akan begitu. Makanya dari sekarang harus segera berdoa dan melakukan hal-hal antisipatif supaya tidak jadi bapak-bapak yang jokesnya garing dan cringe. 

Kerja bakti dengan warga kampung beneran menyenangkan. Tidak hanya belajar soal jokes-jokes garing dan jokes-jokes yang kadang (sayangnya) seksis, tapi juga belajar hal lainnya. Misalnya cara pegang palu untuk memecah batu, cara memegang linggis dan mencongkel batu besar, dan lain hal. Dalam bingkai yang lebih besar, kegiatan kerja bakti dan gotong royong bisa mengikat kekeluargaan antartetangga agar lebih kompak dan harmonis. Setuju banget sih soal ini, karena orang-orang pertama yang biasanya selalu datang membantu adalah tetangga terdekat, sekalipun kita punya saudara, tapi kalau gak tetanggaan pasti yang selalu sedia setiap saat adalah tetangga.

Gotong royong di kampung memang terasa lebih sering terjadi dibanding mereka yang hidup di kompleks perkotaan. Ketika saya bikin IG story soal kerja bakti benerin jalan ini, beberapa teman yang tinggal di kota mengamini hal ini. Menurutnya, orang-orang di kota jarang sekali ada yang memikirkan kekompakan dan kebersamaan dengan tetangga, karena dari bangun tidur sampai tidurlagi isi kepalanya soal duit. Gak menggeneralisasi, tapi mungkin saja ada benarnya. Karena bisa jadi, kegiatan gotong royong lah yang justru membuat satu komunitas bisa kenal lebih dekat satu sama lain. Contohnya, bapak saya yang banyak beraktivitas di masa mudanya dengan orang-orang sekampung, ia bisa tahu rumahnya yang mana, nama bapaknya siapa, anak-anaknya siapa, pekerjaannya apa, termasuk gosip-gosipnya. Padahal orang itu bisa jadi tinggal di lintas RT, lintas RW, bahkan lintas Desa. Tapi hal seperti itu memang umum terjadi bagi warga kampung. Mengenal satu sama lain secara lebih dekat, karena mungkin mereka sering menghabiskan waktu bersama dalam kegiatan kerja bakti, gotong royong, atau hal lainnya.

Momen kerja bakti benerin jalan ini kebetulan sekali berbarengan dengan momentum perayaan HUT RI ke-76. Jadi kalau buat ambil foto, lumayan bagus banget. Orang-orang sedang kerja bakti dan di sepanjang jalan ada bendera merah putih. Kebetulan momennya bertepatan juga dengan pemilihan umum Kepala Desa yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Jadinya, gimana ya, Pak Kades yang maju nyalon lagi ketika hadir di kegiatan kerja bakti jadi ada aja yang menerjemahkannya sebagai bentuk kampanye. Apalagi dengan adanya fakta semen, pasir, batu, dan gorong-gorong yang dibeli pake dana desa di bawah kepemimpinannya, isu kampanyenya di-enggak-enggak juga tetap terasa kental.

Terlepas dari urusan politik desa itu, kegiatan gotong royongnya tetap yang utama. Sekarang jalan di depan rumah saya sudah kembali mulus setelah sebelumnya selalu nampak seperti sungai kering. Berbatu, bergelombang, banyak kerikil, bahkan akhir-akhir ini sering berair karena gorong-gorong yang menjembatani aliran solokan di jalan sudah tua dan bocor. 

Melihat betapa antusiasnya orang-orang bergotong royong, saya percaya dengan survey yang pernah bilang bahwa negara kita punya semangat volunteer paling tinggi di dunia. Ada yang bantu makanan, bantu cemilan, bantu tenaga, bantu pikiran, semua itu dilakukan tanpa ada pikiran akan dapat apa nantinya atau akan rugi apa jika dilakukan. Bahkan Prof Santos dalam kursus Science of Well-being bilang, cara paling mudah untuk membahagiakan diri sendiri adalah dengan membantu orang lain. Apalagi jika bantuan yang kita berikan tidak hanya berdampak membahagiakan diri sendiri, tapi justru bisa membawa perubahan sosial. Contohnya benerin jalan rusak.

20 Agustus 2021.     

Komentar