Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Catatan Safari Literasi Gol A Gong yang tidak seru

Minggu lalu, saya mengikuti acara safari literasi Gol A Gong yang labelnya sebagai Duta Baca Nasional, di Gedung Olahraga Disporaparbud Purwakarta.

Gol A Gong mengunjungi beberapa tempat di Indonesia, tujuan besarnya ingin mengajak orang untuk gemar membaca dan mungkin menulis juga. Tadinya saya diminta jadi moderator oleh Kang Rudy untuk acaranya Gol A Gong ini. Tapi karena waktunya pagi hari dan saya harus masuk kerja, rencana itu batal. Kata Kang Rudy, merapat aja ke Disporaparbud kalau-kalau kerjaan saya beres dzuhur. Saya pun mengiyakan dan dzuhur di hari itu pun saya merapat ke Disporaparbud Purwakarta. Saya kira mau nongkrong-nongkrong dan ketemu biasa aja sebagaimana anak komunitas ketemuan. Ternyata, Gol A Gong masih ada acara di sana. Jadi hari itu ia punya dua agenda di Purwakarta, yang salah satunya di pagi hari di mana seharusnya saya jadi moderator tapi gagal. Lalu hadirlah saya sebagai peserta dadakan di acara keduanya Gol A Gong, yang kok bisa-bisanya saya masuk dan ngisi daftar hadir padahal gak pernah daftar dulu seperti peserta lain.

Jadilah akhirnya saya hadir di acara Safari Literasi Gol A Gong. Sejujurnya, saya gak puas-puas amat dengan acara itu lantaran beberapa hal. Pertama, acaranya ngaret hampir satu jam. Bukan ngaret, tapi lebih tepat disebut ganti jadwal. Kedua, setelah acaranya mulai malah diisi dengan banyak sekali sambutan yang menurut saya bertele-tele dan tidak esensial. Dari Kabid, Ketua Acara, Kadis, yang semua kontennya bercerita soal pentingnya budaya membaca dan menjadi sukses seperti Gol A Gong. Sampai saya ingin nanya langsung, bapak-bapak yang ngasih sambutan itu lagi baca buku apa sekarang? Atau buku apa yang terakhir kali ia baca? Soalnya gimana ya, dari retorika dan pilihan kata yang mereka gunakan, saya gak melihat aura-aura bapak-bapak ini punya banyak referensi, minimal referensi soal cara menyampaikan orasi yang enak untuk dikonsumsi. Kecuali Bapak-bapak yang terakhir, kalau gak salah Sekdis Arsip dan Perpustakaan, pilihan kata dan retorikanya enak didengar, enak dicerna. Semacam kalimat-kalimatnya mudah dipahami dengan subjek dan predikat yang telinga saya bisa narimakeun. 

Ketiga, ketika telah tiba waktunya Gol A Gong bicara, saya langsung kecewa di lima belas menit pertama. Karena ia lebih banyak promosi soal buku barunya supaya kita beli, dibanding kembali pada jalur topik yang tertulis di banner, soal bagaimana mengubah pengalaman atau perjalanan menjadi tulisan yang kreatif. Tidak ada panduan teknis atau tips menulis sama sekali. Bahkan dalam salindia yang ditampilkan, ia hanya menampilkan foto-foto masa kecilnya, pengalamannya jadi atlet bulu tangkis, naik truk ke Bali semasa muda, keluar dari bangku kuliah, hadiah lomba olimpiade, dan menuliskan kisah itu jadi buku. Terus tips kreatifnya? Bisa jadi, kisah ini cocok sebagai inspirasi untuk menulis. Tapi masalahnya, kendala orang tidak menulis adalah bukan karena gak ada inspirasi, tapi karena banyak orang hidupnya lempeng-lempeng aja sehingga gak punya cerita luar biasa untuk dituliskan. Atau punya inspirasi menarik tapi gak tau bagaimana cara menuliskannya. Dan dua hal ini jadi problem lapangan yang tidak terselesaikan dalam acara Gol A Gong ini. Atau kalau kita kembali ke tujuan awal safari literasi supaya banyak orang mau membaca buku, nampaknya langkah dan strategi yang dilakukan di acara ini juga tidak tepat. Yang ada dan yang jelas ada adalah jualan buku. 

Catatan lain yang bikin saya gak terpuaskan soal kegiatan pemerintah ini adalah ada hal-hal yang sebenarnya tidak esensial tapi diada-adain. Misalnya, setiap peserta dibagi buku notebook, pulpen, hand sanitizer botol kecil, dan kotak kudapan. Maksud saya, hand sanitizer itu kenapa gak beli aja yang botolan gede lalu taro di beberapa sudut yang strategis. Itu pasti menghemat anggaran dibanding beli botolan kecil dan banyak. Notebook juga gak butuh-butuh amat, karena rata-rata pesertanya sudah punya kesadaran datang bawa alat tulis sendiri. Dan kotak kudapan alias snack box. Di Indonesia memang penting banget ada makanan setiap acara, meskipun sebenarnya kenapa juga ya harus dikasih makanan? Saya gak pernah nemu itu selama di Mesir, bahkan dosen-dosen saya tiap ke Amerika atau Eropa pun selalu menceritakan hal yang sama soal tidak adanya snack di acara-acara formal. Paling ada coffee break, itu pun ya hanya kopi dan kacang, dan biasanya hanya ada di acara yang pelaksanaannya di atas 5 jam atau 7 jam.  

Ah, nyinyir. Atau iri aja kali ya karena uang lebih dari beli hand sanitizer dan ATK itu gak masuk kantong saya. Huehehehe …

Satu hal yang membuat saya merasa terhibur adalah saya dapet doorprize karena berani bertanya, sebuah buku baru yang sepanjang acara dijualin penulisnya. Saya belum buka kemasannya, dan masih tersimpan di rak kamar saya sampai hari ini. Hal lain yang membuat saya merasa senang adalah saya punya teman baru yang kebetulan duduk di samping saya. Namanya Gina, empat tahun lebih muda dari saya. Anaknya baik kayanya, mudah akrab, dan ternyata belerja sebagai guru di sekolah. Kita follow-follow-an Ig dan dari Ig-nya itu saya jadi tahu bahwa ibunya punya banyak koleksi tanaman hias yang potensial untuk saya rampok. Huehehehe ... 

19 September 2021

Komentar