Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Kemarin hari (Kamis, 15/10) saya ikut zoom meeting kelas Reading Enthusiasts yang diadakan yayasan tempat saya bekerja, yang bekerja sama dengan sebuah lembaga public speaking asal Jogja. Ada grup whatsapp-nya, ada agenda mingguannya. Katanya sih ini program buat yang suka baca buku, atau mungkin mengakarkan budaya membaca di kalangan para staf yayasan. Saya agak terlambat masuk grup ini karena tiba-tiba saja disuruh gantiin atasan yang berhalangan hadir. Saya gak nge-set ekspektasi apa-apa soal orang-orang di grup ini, utamanya soal budaya membaca. Gak tau kenapa, semacam udah tau lah definisi orang-orang menerjemahkan literasi baca tulis di kota kecil ini. Yang udah-udah juga seringkali bikin kecewa karena ekspektasi sendiri. Dan memang benar saja, grup ini bukan komunitas orang-orang yang suka membaca, tapi grup motivasi supaya mau membaca. Baru mau. Sehingga pas mentornya nanya, minggu ini pada baca buku apa, tak satu pun ada yang menjawab. Kalau tidak ada yang dibaca, lalu apa yan

Musik Iman Ulle yang menyatukan

Saya tak mengira bahwa perkenalan saya dengan Gin Ginanjar akan diakrabkan oleh obrolan seputar Iman Ulle, seorang seniman asal Purwakarta yang karya-karyanya begitu lekat dengan sosok Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta yang nyentrik itu. Pak Gin, atau A Gin-Gin, begitulah orang-orang memanggilnya, adalah seorang guru seni yang kebetulan bekerja di tempat yang sama dengan saya. Minggu lalu, kami diharuskan ikut kegiatan orientasi yang diadakan yayasan tempat kami bekerja selama dua hari penuh. Sedikit banyak kegiatan itu membuat kita jadi lebih sering ngobrol dan sedikit banyak berbagi cerita masing-masing. Dari yang awalnya nyari barengan yang kenal biar ada teman ngobrol selama acara, tak dikira bahwa topik Iman Ulle akan muncul sebagai titik tolak bagaimana kami bisa ngobrol lebih banyak lagi. Sebab tanpa poin itu, saya gak tahu harus ngobrolin apa dengan Pak Gin. Ngomongin musik, jelas-jelas saya tak paham soal itu. Nyanyi gak bisa, main alat pun tak mampu. Tak ada satupun alat musik yang becus saya mainkan, bahkan belajar gitar pun tak kunjung eces, hanya mentok di beberapa kunci yang tak kunjung nambah. Tentu saja dengan lagu yang itu-itu saja.

Awalnya saya dan Pak Gin saling follow Instagram, lalu dari sanalah Pak Gin melihat bahwa saya follow Iman Ulle. "Kenal juga?" tanyanya. Ya kenal cuma sekadar kenal, sudah tahu sejak lama sejak grup musik Emka9 muncul di Purwakarta. Siapa kira, ternyata Pak Gin pernah jadi bagian dari Emka9 itu, memainkan gitarnya atau pianonya atau apalah itu. Dari kesamaan following Instagram itulah obrolan saya dan Pak Gin jadi makin luwes. Emka9 yang sebelumnya hanya saya tahu sebagai, yang menurut saya, gerakan politik kultural Dedi Mulyadi, kini jadi punya perspektif lain di kepala saya. Utamanya soal Iman Ulle yang bisa dibilang sebagai kepala di grup musik semi resmi pemerintah Purwakarta di masa Dedi Mulyadi itu.

Tapi terlepas dari apakah ada Dedi-nya atau tidak, saya penikmat karya-karyanya Iman Ulle. Pak Gin pun mengamini hal itu. Iman Ulle hadir sebagai seniman bertangan luwes yang rasa-rasanya, meski saya tak paham soal musik, karya-karyanya terasa kaya rasa, banyak referensi, terdengar punya kualitas yang tidak cukup pas jika harus dilabel sebagai karya seniman yang lekat dengan tokoh-tokoh politik praktis.

Jauh sebelum ketemu Pak Gin, saya pernah membuat draf corat-coret tulisan soal Iman Ulle ini ketika menghadiri acara Nyawang Bulan di Subang tahun lalu. Ada Iman Ulle dan timnya menyanyikan beberapa tembang di sana. Ada Sujiwo Tejo dan Ayu Utami sebagai bintang tamu pada waktu itu. Sepanjang acara itu, saya teringat berbagai cerita soal seniman-seniman di lingkaran politik. Dalam istilah kesastraan Arab disebut Syu'araa Bilaath Mamlakah, alias para penyair lantai istana. Tentu saja lema syu'araa (para penyair) ini bisa saja diganti dengan istilah yang lebih umum seperti fannaan (seniman) atau sejenisnya, karena secara konteks pada zaman dulu, seniman istana identik dengan penyair, terlebih dalam khazanah kebudayaan Arab. Jika orkestra sudah ada di masa itu, mungkin akan ada istilah orkestra bilaath mamlakah, cuman sayangnya belum ada. Para seniman di lantai istana ini ada banyak sekali. Sebut saja misalnya Abu Nawas sang Syaairul Bilad (penyair negara/istana) yang karya-karyanya begitu lekat dan menjilat penguasa di Bani Abbasiyah, ada pula Ibnu Zamrak sang penyair Alhambra di Granada, atau penyair Umru'ul Qois yang mencari nafkah dari karya-karya yang mengagungkan penguasa istana dan menjatuhkan lawan politiknya. Kalau dalam versi Indonesia, mungkin bisa kita sebut penyanyi Waldjinah yang langganan manggung di istana negara dari masa Presiden Soekarno sampai SBY. Lalu apakah bisa jika Iman Ulle di lingkaran Dedi Mulyadi di-qiyas-kan dengan nama-nama dan kisah-kisah itu? Seniman di pojokan panggung politik?

Saya bertanya apa iya para seniman di lingkaran politik praktis itu benar-benar bisa mempertahankan idealisme keseniannya, di tengah besarnya arus kepentingan pusaran kekuasaan. Sementara jika melihat lagu-lagu dan musik aransemen Iman Ulle, rasa-rasanya saya bisa melihatnya sebagai seniman utuh yang seolah tak tersentuh kepentingan politik praktis. Tidak seperti, misalnya, ketika saya dengar lagu dan musik hasil seniman yang mengibarkan bendera partai Perindo di jaringan RCTI, atau mars lagu-lagu partai yang  aransemen dan musiknya begitu organ tunggal ala lagu-lagu '90-an. Bahkan jauh sebelum saya sepenuhnya sadar bahwa Iman Ulle adalah seniman yang selalu ngikut Pak Dedi, saya mendengar beberapa lagu karya Iman Ulle di Soundcloud dan Youtube, yang bikin saya berkesimpulan, kayanya dia freelance aja sama Pak Dedi, cuma panggilan sesekali aja buat nyanyi di pendopo, bukan grup reguler yang semi atau bahkan permanen. Karena untuk dibilang seniman "antek" pemerintah, dia terlalu bagus. Beneran. Apalagi jika seniman bagusnya itu muncul dari kota tidak terkenal seperti Purwakarta, rasanya tidak lazim terjadi. 

Saya ingat dulu waktu saya putus komunikasi dengan mantan saya, mantan saya ngirim musikalisasi puisi Acep Zamzam Noor yang judulnya Perpisahan. Di bawahnya ada rekomendasi untuk diputar: Imaji yang Hilang, yang ternyata itu karyanya Iman Ulle. Jadi Iman Ulle ini tidak hanya menyatukan saya dengan Pak Gin, tapi juga pernah menyatukan kenangan saya putus dengan mantan. Jangkrik. 

Selain Imaji yang Hilang yang mengandung kenangan itu, diam-diam saya juga menyukai beberapa lagu Iman Ulle yang saya putar berulang kali pada masa-masa tertentu. Misalnya lagu Arjuna yang Terluka, Teman Bicara, Memanen Cinta, Cinta Masih Dikeresekan, lagu-lagu Emka9 yang berbahasa Sunda, termasuk aransemen musik di pertunjukan Musikal Lutung Kasarung yang pernah pentas di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. 

Meski, sekali lagi, saya bukan ahli soal musik, yang saya rasa ketika mendengar karya-karyanya Iman Ulle adalah insting membedakan mana karya dari seniman yang lingkaran referensinya sempit dan mana yang punya jangkauan wawasan yang luas. Kekayaan warna itulah yang menurut saya hadir di karya-karyanya Iman Ulle, yang bikin betah mendengarkannya, bahkan mungkin beberapa lagunya bisa mewakili momen-momen tertentu. Seperti misalnya ketika .... mmmm.... patah hati ....  

Kalau kata Pak Gin, Iman Ulle adalah seniman alam yang hidupnya punya dedikasi untuk bermusik dan tidak bergeming oleh iming-iming jadi PNS haha .... 

Saya ingin mengutip perkataan Sujiwo Tejo sewaktu Nyawang Bulang tahun lalu. Ia bilang, seniman itu, atau siapapun yang punya jiwa seni yang hidup dalam dirinya, punya kepekaan tentang tenaga, waktu, dan pikiran yang senantiasa dinyatakan sebagai hutang rasa. Apa yang ia lihat, ia dengar, ia pikirkan, ia lakukan, akan ditangkap sebagai sesuatu yang harus diterjemahkan menjadi rasa yang bisa ditransfer agar lebih banyak orang bisa merasakan rasa yang sama. Dan saya kira tak juga berlebihan jika saya mengatakan bahwa karya-karya Iman Ulle punya kandungan rasa yang bisa dirasakan oleh penikmat karya-karyanya, salah satunya saya.

Terima kasih, Kang Iman, sudah bikin karya-karya yang asik dan ciamik, sehingga telinga saya bisa dapat nutrisi musik yang mneyegarkan dari seniman sedaerah. Terima kasih juga sudah jadi Iman Ulle, yang karenanya saya dan Pak Gin jadi punya topik obrolan untuk berkenalan. Semoga suatu waktu bisa bertemu dan nonton Kang Iman dan Kang Gin nge-jam bareng. 

23 September 2021.              

 

Komentar

Posting Komentar