Dear Ex-Isro …

  Hello, Al-Isro!  How’s life? Tiap liat Pak Tara nyetatus foto kalian, atau mamah kalian bikin status, rasanya saya masih Walas kalian. Kaya belum nerima aja kenyataan bahwa kita gak lagi bersama. Padahal setahun kemarin, pagi siang malam hape selalu rame notif entah dari kalian, entah dari orang tua kalian. Dari perkara Birul nanyain sekolah pake seragam apa, Sam nanya daring apa luring, sampe urusan gak penting dari Rai yang pertanyaannya suka absurd. Sementara sekarang, saya nyaris belum kenal kelas baru yang saya walikelasi, baik anak-anaknya maupun orang tuanya. Jadinya belum ada titik temu mau ngobrol apa atau bercanda apa sama kelas sekarang. Kondisi ini rasanya kaya hubungan yang dipaksa putus pas lagi sayang-sayangnya, lalu tiba-tiba dijodohin sama orang baru yang belum kenal. Statusnya sama orang baru, tapi hatinya masih sama orang lama. Aduduh …  Gini nih kalo udah putus tapi masih sayang, susah move on. Tiap liat Fachri, Davi, Otir ngumpul, bawaannya pengen motoin. Tiap li

Resensi Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Judul Buku:  Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Penulis:  Rusdi Mathari

Penerbit:  Buku Mojok

Tebal  Buku:  226 halaman

Terbit:  Cetakan ketujuh, Januari 2020

ISBN:  978-602-1318-40-9

“Persoalannya, bagaimana kamu akan mengenali Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah. Sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya.” – hal. 24

Antusias yang tinggi terhadap tulisan-tulisan karya Rusdi Mathari selama bulan Ramadan di tahun 2015 dan 2016 berhasil mengetuk Penerbit Mojok untuk mengemasnya menjadi sebuah buku. Buku “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya” sejatinya merupakan kumpulan tulisan yang pernah tayang di laman Mojok.co dan telah dibaca lebih dari enam ratus ribu kali. 

Dilihat dari judulnya saja, buku ini memang unik dan menggelitik. Calon pembaca sejak mula diajak bertanya-tanya kira-kira tentang apa isi dari buku ini, dan apa pula maksud tersembunyi di balik judul yang ciamik itu. 

Buku ini menceritakan kehidupan di suatu kampung yang memiliki penduduk yang beragam. Dikisahkan terdapat tokoh Mat Piti yang suka membantu tetangganya, Cak Dlahom yang dianggap kurang waras dan menyebalkan, ada Romlah putrinya Mat Piti si kembang desa, ada Pak Lurah yang kental dengan kehidupan politiknya, dan lain sebagainya. Melalui tokoh-tokoh ini, Rusdi Mathari menyampaikan berbagai macam pesan agamis nan filosofis dalam format percakapan, tindakan, dan plot cerita yang mudah dicerna oleh pembaca. Format inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tulisan-tulisan Rusdi banyak digemari pembaca, karena topik kehidupan beragama disajikan dengan pendekatan yang ringan dan renyah, sehingga pembaca tidak merasa digurui atau diceramahi.

Melalui buku ini, pembaca diajak merenung dan memikirkan bagaimana kehidupan bermasyarakat sekaligus beragama dalam aneka situasi yang berbeda. Tulisan-tulisan yang secara umum dibagi menjadi Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua ini memiliki kesinambungan plot dan alur, sehingga ketika membacanya, pembaca seperti sedang membaca kumpulan cerpen bersambung, atau novel minim intrik. 

Salah satu penggalan kisah yang menarik dari buku ini antara lain tentang orang-orang yang masih sempit mendefinisikan lema ibadah hanya pada kegiatan ritual semata. Orang-orang sibuk membangun masjid, pergi umroh, atau tahajud setiap malam, sementara ada tetangga terlupakan yang sedang kelaparan dan terlilit hutang. Bisa dibilang, buku ini mengajak pembaca untuk menjadi pribadi yang saleh tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga saleh dalam kehidupan sosial. 

Membandingkan Rusdi dengan para pendakwah atau para penulis buku religi memang bukan sesuatu yang seimbang. Rusdi melalui buku ini hanyalah menulis cerita berdasarkan hikmah-hikmah yang ia dapatkan dari kajian yang ia ikuti, ceramah yang ia cerna, dan kisah-kisah kehidupan sehari-hari. Tapi tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa buku ini cukup mendeskripsikan kualitas dan kecerdasan Rusdi dalam menyampaikan materi agama. Dengan latar pengalaman sebagai jurnalis, Ia mampu menunjukkan kemampuan menyampaikan topik-topik berat dalam bidang tasawuf atau akidah dengan cara sesederhana mungkin, sebisa mungkin agar bisa dimengerti oleh orang awam sekalipun.

Komentar