Drama Beasiswa India

Saya tidak benci India, tapi tidak juga jatuh hati pada India. Sikap, perasaan, dan pikiran saya soal India adalah biasa saja. Kalau ada kesempatan pergi ke sana, saya akan bilang "ayo!". Kalaupun kesempatannya gak ada, saya juga gak akan ngebet mencari berbagai cara. Kondisi ini yang saya alami dalam setahun terakhir soal India. Pas tau saya dapet beasiswa S2 ke India, ya saya senang dan bilang "ayo!". Tapi pas tau ternyata cuma prank, ya udah. Biarin aja. Kok bisa? Jadi ceritanya gini. Di awal-awal baru pulang dari Cairo, 2021 lalu, saya banyak mencari informasi soal lowongan kerja dan beasiswa S2. Doanya memang gak condong ke dapet kerjaan atau dapet beasiswa, pokoknya yang mana yang nyantol duluan, berarti itu yang terbaik. Entah berapa beasiswa dan lowongan kerja yang waktu itu saya lamar, pokoknya tak terhitung. Lalu di tengah pencarian Google, nemu lah satu info tentang beasiswa S2 di India, namanya beasiswa ICCR (Indian Council for Cultural Relations). ICCR

Resensi Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Judul Buku:  Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya

Penulis:  Rusdi Mathari

Penerbit:  Buku Mojok

Tebal  Buku:  226 halaman

Terbit:  Cetakan ketujuh, Januari 2020

ISBN:  978-602-1318-40-9

“Persoalannya, bagaimana kamu akan mengenali Allah sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah. Sedekahmu masih kau tulis di pembukuan laba rugi kehidupanmu. Ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar sementara bodoh saja tak punya.” – hal. 24

Antusias yang tinggi terhadap tulisan-tulisan karya Rusdi Mathari selama bulan Ramadan di tahun 2015 dan 2016 berhasil mengetuk Penerbit Mojok untuk mengemasnya menjadi sebuah buku. Buku “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya” sejatinya merupakan kumpulan tulisan yang pernah tayang di laman Mojok.co dan telah dibaca lebih dari enam ratus ribu kali. 

Dilihat dari judulnya saja, buku ini memang unik dan menggelitik. Calon pembaca sejak mula diajak bertanya-tanya kira-kira tentang apa isi dari buku ini, dan apa pula maksud tersembunyi di balik judul yang ciamik itu. 

Buku ini menceritakan kehidupan di suatu kampung yang memiliki penduduk yang beragam. Dikisahkan terdapat tokoh Mat Piti yang suka membantu tetangganya, Cak Dlahom yang dianggap kurang waras dan menyebalkan, ada Romlah putrinya Mat Piti si kembang desa, ada Pak Lurah yang kental dengan kehidupan politiknya, dan lain sebagainya. Melalui tokoh-tokoh ini, Rusdi Mathari menyampaikan berbagai macam pesan agamis nan filosofis dalam format percakapan, tindakan, dan plot cerita yang mudah dicerna oleh pembaca. Format inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tulisan-tulisan Rusdi banyak digemari pembaca, karena topik kehidupan beragama disajikan dengan pendekatan yang ringan dan renyah, sehingga pembaca tidak merasa digurui atau diceramahi.

Melalui buku ini, pembaca diajak merenung dan memikirkan bagaimana kehidupan bermasyarakat sekaligus beragama dalam aneka situasi yang berbeda. Tulisan-tulisan yang secara umum dibagi menjadi Ramadan Pertama dan Ramadan Kedua ini memiliki kesinambungan plot dan alur, sehingga ketika membacanya, pembaca seperti sedang membaca kumpulan cerpen bersambung, atau novel minim intrik. 

Salah satu penggalan kisah yang menarik dari buku ini antara lain tentang orang-orang yang masih sempit mendefinisikan lema ibadah hanya pada kegiatan ritual semata. Orang-orang sibuk membangun masjid, pergi umroh, atau tahajud setiap malam, sementara ada tetangga terlupakan yang sedang kelaparan dan terlilit hutang. Bisa dibilang, buku ini mengajak pembaca untuk menjadi pribadi yang saleh tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga saleh dalam kehidupan sosial. 

Membandingkan Rusdi dengan para pendakwah atau para penulis buku religi memang bukan sesuatu yang seimbang. Rusdi melalui buku ini hanyalah menulis cerita berdasarkan hikmah-hikmah yang ia dapatkan dari kajian yang ia ikuti, ceramah yang ia cerna, dan kisah-kisah kehidupan sehari-hari. Tapi tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa buku ini cukup mendeskripsikan kualitas dan kecerdasan Rusdi dalam menyampaikan materi agama. Dengan latar pengalaman sebagai jurnalis, Ia mampu menunjukkan kemampuan menyampaikan topik-topik berat dalam bidang tasawuf atau akidah dengan cara sesederhana mungkin, sebisa mungkin agar bisa dimengerti oleh orang awam sekalipun.

Komentar