Drama Beasiswa India

Saya tidak benci India, tapi tidak juga jatuh hati pada India. Sikap, perasaan, dan pikiran saya soal India adalah biasa saja. Kalau ada kesempatan pergi ke sana, saya akan bilang "ayo!". Kalaupun kesempatannya gak ada, saya juga gak akan ngebet mencari berbagai cara. Kondisi ini yang saya alami dalam setahun terakhir soal India. Pas tau saya dapet beasiswa S2 ke India, ya saya senang dan bilang "ayo!". Tapi pas tau ternyata cuma prank, ya udah. Biarin aja. Kok bisa? Jadi ceritanya gini. Di awal-awal baru pulang dari Cairo, 2021 lalu, saya banyak mencari informasi soal lowongan kerja dan beasiswa S2. Doanya memang gak condong ke dapet kerjaan atau dapet beasiswa, pokoknya yang mana yang nyantol duluan, berarti itu yang terbaik. Entah berapa beasiswa dan lowongan kerja yang waktu itu saya lamar, pokoknya tak terhitung. Lalu di tengah pencarian Google, nemu lah satu info tentang beasiswa S2 di India, namanya beasiswa ICCR (Indian Council for Cultural Relations). ICCR

Ada cerita apa dua minggu di Pare?


Suatu pagi, anak-anak di penginapan tidak bisa mandi karena air tidak mengalir. Kebetulan saya adalah satu-satunya yang sudah mandi pagi itu. Kira-kira ada tiga puluh orang penghuni penginapan itu yang hari itu berangkat ke kelas tanpa mandi pagi. Usut punya usut, ternyata air mati bukan karena ada pemutusan aliran oleh pemerintah, tapi karena colokan jetpump-nya saya cabut dan saya ganti untuk nyolok dispenser. Saya gak tahu kalau colokan itu adalah colokan jetpump air satu penginapan. Bagian terparahnya adalah ada salah satu anak yang lagi buang air dan tiba-tiba airnya mati sebelum WC-nya di-flush. Anak-anak heboh sampai Pak Tara, rekan saya, harus ngakutin air pake ember dari kolam renang.

Itulah salah satu dosa saya ketika jadi pembimbing anak-anak selama di Pare beberapa waktu lalu. 
 
Pada 20 Mei lalu, saya membersamai anak-anak SMP tempat saya mengajar dalam sebuah program intensif bahasa Inggris di Pare, Kediri, selama dua pekan. Dua minggu tersebut punya banyak cerita dan "ghibaheun" yang seru tentu saja, karena ada banyak hal yang terjadi selama kegiatan tersebut berlangsung. 
Jumlah siswa yang ikut program ini adalah 111 orang, dengan jumlah guru sebanyak 8 orang. Mengatur 111 orang anak remaja adalah tantangan yang luar biasa. Secara spesifik, saya hanya fokus mengurusi anak kelas saya saja yang sejumah 23 orang. Semuanya laki-laki dan semuanya unik dengan karakternya masing-masing. Ada yang pendiem, ada yang cerewet, ada yang suka ngeledek, ada yang suka diledek, ada yang jajan terus, ada yang hiperaktif, ada yang keluyuran sendirian terus, ada juga yang malem-malem ngajak curhat katanya lagi suka sama adik kelas tapi bingung gimana cara ngungkapinnya. Konsultasi asmara ke saya, gak salah nih anak? 

Ngurus anak-anak ini memang bukan hal yang mudah, tapi bukan juga hal yang sulit. Sebagai pembanding, program dua minggu ini mengingatkan saya pada masa-masa dulu tinggal di pesantren. Sewaktu SMA kelas 11-12, saya tidak tinggal di asrama anak SMA sebagaimana teman-teman saya yang lain, tapi tinggal di asrama anak-anak SD yang tinggal di pesantren. Mengurus anak SD tentu saja lebih rumit dari pada mengurus anak SMP. Membangunkan subuh anak-anak SMP selama dua minggu di Pare masih jauh lebih mudah dibandingkan membangunkan subuh anak-anak SD waktu itu. Menyuruh mandi, makan, dan berangkat ke kelas anak-anak SMP adalah jauh lebih mudah dibanding anak-anak SD. Yang menjadikan dua minggu kemarin terasa lebih berat adalah orang tua anak-anak yang mayoritas baru pertama kali berjauhan dengan anaknya. Faktor ini menjadi alasan kenapa selama dua minggu itu hape saya selalu banyak notifikasi, entah pagi entah malam. Padahal kan gak punya pacar ya, tapi kok notif rame terus? Eeaaaa .... 

Bagi sebagian besar anak, program ini adalah pertama kalinya mereka terpisah dari orang tua untuk jangka waktu yang lama. Begitupun bagi orang tuanya, ini adalah pertama kalinya mereka berjauhan dengan anaknya. Yang namanya berjauhan pertama kali pasti ada banyak cemasnya, banyak khawatirnya, bahkan kadang muncul curiga. Makanya LDR-an itu gak direkomendasikan kalau buat pemula. *eh

Yaaa namanya orang tua ke anak, jangankan berpisah selama dua minggu, berpisah hanya satu malam pun dalam program Mabit atau Lailatul Ijtima' di sekolah, pasti ada kekhawatirannya. Bagaimana makan anaknya, menu makannya seterjamin makanan yang dimasak di rumah atau enggak, bagaimana tidurnya, kasurnya nyaman atau enggak, selimutnya dipakai atau enggak, obat/vitaminnya dimakan atau enggak, pakaian kotornya disimpen di mana, dan sebagainya. Saya sangat memaklumi kekhawatiran ini sebagai sesuatu yang wajar, mengingat latar belakang orang tua di sekolah ini mayoritas bukan orang tua yang pengalaman melepas anaknya jauh. Lain cerita dengan anak-anak lain di tempat lain yang tinggal di pesantren, dengan orang tua yang, mungkin, punya pengalaman juga tinggal di pesantren atau pernah tinggal jauh dengan orang tuanya di masa lalu. Bentuk kekhawatirannya tidak akan sebesar ini.

Dalam bingkai yang lebih besar, saya melihat berbagai macam pola asuh orang tua terhadap anaknya. Dari yang khawatiran banget, sampai yang cuek banget. Ada yang begitu perhatian sampai detail terkecil semisal, "anak saya gak nyaman di kamar karena AC-nya mati," padahal baterai remotnya abis. Atau minta diingatkan supaya anaknya tidak jajan sembarangan, tidak tidur kemaleman, termasuk ada juga yang minta dipastikan anaknya tidur pakai selimut atau enggak. Dalam pola lain, ada juga orang tua yang selama dua minggu tidak pernah menanyakan kabar anaknya, kecuali hanya soal "uang jajannya masih ada, gak?".

Selain itu, gambaran lain yang saya dapat dari program dua minggu ini adalah, ada orang tua yang fokus memperhatikan program dari sisi fasilitasnya, misalnya soal makanan, penginapan, transportasi, dan lain-lain, ada juga yang fokus memperhatikan dari sisi pembelajarannya. Tipe yang pertama memang paling sering terjadi, dan cukup rumit untuk diatasi, mengingat keterbatasan saya yang berada di program itu hanya sebatas guru pendamping tanpa punya kuasa menentukan keputusan/kebijakan. Sedangkan orang tua tipe kedua, di mana banyak berkonsultasi seputar isi program, progres kemampuan anak, kurikulum, termasuk kegiatan day-to-day, sejujurnya bikin saya lebih deg-degan. Pertanyaan kapan katering datang, bisa dijawab dengan jawaban "nanti jam satu siang", misalnya. Sementara pertanyaan, "kira-kira gimana ya cara ngukur kemampuan anak saya sebelum dan sesudah program selain pakai angka di sertifikat?", tentu jawabannya tidak sesederhana pertanyaan yang pertama.       

Setiap hari berdiskusi dengan orang tua siswa telah membukakan banyak sudut pandang bagi saya pribadi. Begitupun dengan anak-anak yang selama dua minggu di program tersebut cukup intens berkomunikasi dengan saya 24/7. Satu hal yang tidak terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan punya pekerjaan seperti ini, di mana fokus pembicaraan adalah soal anak dan pola asuh. Saya melihat bagaimana seorang remaja dibesarkan oleh keluarga yang ayahnya dominan, atau ibunya dominan, orang tua yang bercerai, orang tua sambung, orang tua yang cuek, orang tua yang memasang banyak target, orang tua pekerja yang jarang di rumah, termasuk anak yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Cara saya melihat anak-anak berangkat sekolah, belajar di kelas, dan pulang sekolah tidak lagi sama.

Di sisi anak-anak, sekhawatir dan seheboh apapun orang tua nanya ini itu, anak-anaknya mah ketawa-ketiwi aja. Malem-malem nyebur renang bareng, sepedahan bareng ke sana-sini, beres-beres kamar bareng-bareng, termasuk diskusi topik anak remaja yang baru meletek: cara nembak cewek yang efektif dan pi-ditarima-eun, dan tidak malu-maluin kalau seandainya ditolak. Bayangkan, gimana rasanya jadi saya sebagai seorang wali kelas, gurunya mereka di sekolah, tapi harus terlibat dengan obrolan bibit-bibit buaya seperti itu? Cape-cape bikin image guru yang berwibawa, bijaksana, dan murid-harus-segan-sama-aing, tiba-tiba seorang anak nyeletuk di grup, "urusan cinta-cintaan mah nanya aja ke Mr. Maul."

Dua minggu ngurusin anak-anak ini rasanya seperti jadi single parent yang istrinya lagi kerja di Arab. Bangunin subuh, nyuruh makan, nyuruh belajar, ngurus laundry, sampe ngerampas hape supaya anak tidur gak kemaleman. Sementara ibunya cuma nelepon, nanya kabar, dan ngirim transferan. Sebuah deskripsi seorang suami yang istrinya TKW banget kan?

Di samping urusan sekolah dan pekerjaan, saya punya pengalaman lain soal dua minggu tinggal di Pare. Saya melihat Pare sebagai tempat yang efektif untuk belajar bahasa Inggris, bukan karena masyarakatnya pada lancar berbahasa Inggris, tapi karena ada banyak lembaga kursus bahasa Inggris di sana, sehingga orang-orang yang punya niatan yang sama berkumpul di tempat yang sama. Sayangnya, native speaker di sana sangat terbatas. Bahkan jarang sekali ada lembaga kursus yang menyediakan penutur asing sebagai tutornya. Jangankan tutor, toko buku yang menjual buku berbahasa Inggris juga tidak saya temukan. Ada satu toko buku yang saya temukan, itupun koleksi buku bahasa Inggris cetakan lama, bahkan buku bajakan. Iklim Kampung Inggris ini terasa sebagai tempatnya orang-orang nongkrong sambil belajar bahasa Inggris, tapi iklim akademisnya tidak sekental yang saya ekspektasikan. 

Ketiadaan tutor penutur asing ini berdampak pada kondisi sebuah bahasa asing yang dipelajari oleh bukan penutur aslinya punya kemungkinan besar hanya dipelajari sebagai bahasa tanpa budayanya. Hal ini saya temukan ketika saya masuk ke dua kelas dewasa yang belajar bahasa Inggris di Pare, saya menangkap penjelasan tutornya tidak cukup memuaskan, jika dibandingkan dengan pengalaman saya belajar bahasa Inggris dengan tutor native speaker di British Council atau American University. Pendapat ini tentu saja sangat subjektif, toh kelas yang masuki juga cuma dua kali, sekali di kelas Writing, dan sekali di kelas Grammar. Saya pengen juga masuk ke kelas itu rutin, tapi pagi-pagi mau berangkat masuk kelas, tiba-tiba ada anak yang sepedanya rusak, kunci sepeda hilang, dompet hilang di kamar, catering sarapan belum datang. Giliran anak-anak gak ada masalah, kelasnya sudah berjalan mau hampir beres. Keseringan gak masuk kan malu juga kalau tiba-tiba masuk.

Hal lainnya yang saya alami ketika di Pare adalah obrolan dengan Mas Arif yang bertemu lebih dari satu kali. Mas Arif bekerja di salah satu warung kopi tempat saya biasanya ngadem selama di Pare. Ia dan saudaranya punya usaha kos-kosan yang biasa dijadikan camp kursusan, yang katanya selalu sepi sejak pandemi melanda. Mas Arif adalah penduduk lokal yang sering ngasih tau saya soal ini itu tentang Pare, semacam teman ngobrol gratisan kalau saya berkunjung ke warungnya. Selain Mas Arif, saya juga ketemu teman kuliah, Miqdad. Saya gak nyangka dan gak tahu sebelumnya bahwa ia tinggal di Pare, padahal pertemanan kita waktu di Mesir lumayan deket, bahkan pernah bisnis bareng. Beruntunglah ada teman yang rumahnya tak jauh dari penginapan, jadi bisa nongkrong dan jalan-jalan gratisan sewaktu di Pare.

Sebagai kesimpulan, Pare adalah tempat yang lumayan berkesan, meskipun sejujurnya tidak jadi list tempat yang ingin saya kunjungi kembali. Satu-satu alasan ingin balik lagi ke Pare, Kediri, dan Bromo adalah kaena gak ada foto saya yang bagus! Saya fotoin orang pada bener, giliran saya difotoin kok gak jelas semua. Fyuh..

Saya gak mau lagi ke Pare bukan karena faktor anak-anak, orang tua, atau warga Pare-nya sih, tapi karena faktor ... apa hayoh apa ... tuliskan tebakan terbaik kamu di kolom komentar. Jawaban yang tepat akan saya ajak ngeghibah. *loh

Juni 2022.         
    

Komentar

  1. Paragraf ke 5 sangat lucu, apa boleh saya jadikan materi stand up di masa depan😅

    BalasHapus

Posting Komentar