Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Satir Kejuaraan dan Nishfu Syaban

Kemarin malam adalah malam Nishfu Syaban, alias pertengahan bulan Syaban dalam hitungan kalender hijriah. Katanya, di malam itulah buku amal kita disetorkan setiap tahunnya. Karenanya tak heran banyak orang saling meminta maaf dan memperbanyak berbuat baik menjelang malam itu, supaya tutup bukunya bagus.

Saya tidak akan bercerita apa itu Nishfu Syaban atau ada hikmah apa di balik malam itu. Tapi saya ingin cerita satu ingatan yang pernah terjadi di malam Nishfu Syaban tahun 2011 lalu. Waktu itu saya masih siswa SMA kelas 11 yang sedang ikut lomba Khutbah Jumat di Bekasi.

Ceritanya saya jadi delegasi Jawa Barat untuk cabang lomba Khutbah Jumat tingkat SMA dalam helatan Pekan Kreativitas dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) tingkat Nasional. Dari 32 peserta dari provinsi yang berbeda-beda, saya dapat juara 1. Lumayan lah ya, pernah bisa khutbah pada masanya. Tentu saja saya senang, karena ini pertama kalinya dan sampai sekarang masih menjadi satu-satunya pengalaman menjuarai tingkat nasional. Tapi kesenangan itu belakangan justru malah membuat saya merasa, menyedihkan juga ya. Ada sisi-sisi yang membuat saya berpikir bahwa itu menyedihkan, tapi juga membanggakan, tapi juga menyedihkan. Ah, rumit.

Biar saya ceritakan detailnya.

Ketika perlombaan di Bekasi itu, Kami para peserta lomba dan guru pembimbing tinggal di Asrama Haji selama tiga hari. Kebetulan saya satu kamar dengan delegasi tim nasyid akapela dari SMAN 6 Bandung. Satu kamar isi empat ranjang tingkat, seingat saya, jadi muat banyak. Alhamdulillah pertemanan saya dengan mereka sampai saat ini masih terjalin meski hanya sebatas saling follow di Instagram. Tim nasyid ini punya pelatih namanya Pak Taufik Arief, tapi anak-anak nasyid biasa memanggilnya "Ayah". Akhirnya saya pun jadi ikutan manggil "Ayah". Saat itu, saya punya guru pembimbing yang ikut dan sama-sama tinggal di sana. Tapi entah bagaimana, Pak Taufik ini jauh lebih perhatian sama saya dibanding guru pembimbing saya sendiri. Misalnya begini: Ia nyuruh saya latihan khutbah di hadapannya, lalu sedikit-sedikit ia koreksi cara saya berdiri, cara saya melihat hadirin, cara saya pegang naskah, cara mengatur intonasi suara, mengatur jarak mulut dengan pelantang suara, bahkan ia meminjamkan sorbannya untuk saya pakai di pentas. Lebih detail lagi, ia yang mengatur bagaimana baiknya sorban itu dipakai, dipadupadankan dengan warna baju dan peci, bahkan sebelum saya tampil ke podium, saya dibedakin dan dikasih lipbalm. Katanya biar gak pucet dan nampak segar. 

Pak Taufik adalah orang lain yang baru saya temui di acara itu. Sebelumnya tidak pernah bertemu, apalagi kenal. Tapi dengan dalih "tong ngerakeun Jawa Barat" (jangan malu-maluin Jawa Barat), ia melakukan banyak perhatian yang justru tidak dilakukan oleh guru pembimbing saya sendiri. Saya tidak bilang bahwa guru saya tidak kerja apa-apa. Tentu kontribusinya juga tak kalah banyak. Namun hal-hal yang dilakukan Pak Taufik ini membuat saya terkesan dan teringat sampai sekarang.

Singkat cerita, saya masuk babak final dan tampil tepat di malam Nishfu Syaban. Jantung saya berdebar luar biasa sejak memasuki ruangan perlombaan. Saya ingat betul sebelum urutan saya dipanggil, Pak Taufik nyamperin saya dan menyodorkan botol air minum. " Minum dulu biar gak tegang!" katanya. Lalu saya pun tampil dengan berbagai teori dan retorika yang sudah dihafalkan, lancar, sampai akhirnya turun podium.

Keesokan harinya adalah pengumuman kejuaraan. Singkat cerita saya dapat piala, lalu acara pun bubar. Di momen bubar ini, para delegasi pulang ke daerahnya masing-masing dengan kendaraannya masing-masing. Pas giliran saya mau pulang, ternyata tidak ada kendaraan jemputan. Tidak ada mobil atau apalah itu yang disediakan khusus untuk membawa saya pulang dari Bekasi ke Purwakarta. Maka si juara nasional ini dengan guru pembimbingnya naik angkot bawa piala ke Terminal Bekasi, lalu naik bis Primajasa Ekonomi tujuan Purwakarta. Saya gak tau kenapa waktu itu tidak ada jemputan dari Pemda atau Pemprov atau siapa lah, bahkan sekolah saya sendiri hanya merespon "semua mobil yayasan sedang keluar". Waktu itu ngerasa, kok gak ada yang mau berkorban ya buat saya? Waktu itu mau bilang "asu" tapi gak bisa, soalnya baru juara khutbah jumat.

Di sepanjang jalan pulang, saya berimajinasi ketika sampai di sekolah nanti, di Purwakarta, saya akan mendapat sambutan hangat dari orang-orang. Pertama kali, loh, sekolah saya juara nasional. Apalagi waktu itu bertepatan dengan acara besar yayasan yang diselenggarakan di lapangan sekolah. Jadi saya mikir, kalau datang ke Purwakarta pas jam 1 siang (karena waktu itu berangkat dari Bekasi jam 11-an), maka itu acara di tenda besar itu masih berlangsung dan saya akan disambut. Tapi ternyata, setelah saya turun dari bis di Jalan Veteran, jalan kaki 100 meter dengan medali, plakat, dan piala berbentuk gelas anggur para ningrat zaman Romawi kuno, acara yayasan itu sudah bubar. Para mamang-mamang sedang membongkar tenda dan dekorasi yang sebelumnya menutupi seluruh area lapangan sekolah. Si juara nasional ini, untuk kedua kalinya, pengen bilang "asu" tapi gak bisa karena baru juara khutbah jumat.

Di momen itu saya merasa harus mendapatkan penghargaan, tapi waktu belum kenal konsep filosofi stoic yang mengajarkan untuk tidak berharap lebih pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Jadinya ya kecewa weh, gak sesuai ekspektasi. Dan satu-satunya penghargaan yang saya minta, dan saya sampaikan ke guru pembimbing saya, adalah minta izin pulang selama beberapa hari (karena waktu itu saya tinggal di asrama pesantren). Saya pun menelepon rumah dan dijemput sepupu saya pakai motor.

Sejak Nishfu Syaban 2011 itu, saya jadi selalu ingat kenangan di hari-hari itu tiap kali bertemu lagi dengan Nishfu Syaban lainnya. Tapi yang membekas di kepala saya bukan soal bahagianya jadi juara nasional, tapi sebuah satir tentang kenapa dan kenapa pada hal-hal yang satu pun di luar kendali saya. Guru pembimbing tidak begitu perhatian pada detail-detail, sekolah tidak menjemput pulang, atau kadang saya juga bertanya, kenapa keluarga saya gak ada yang hadir ya menyaksikan saya tampil? Kan Bekasi itu masih sangat bisa dijangkau, belum beda planet. Sibuk dan gak peduli memang agak tipis perbedaannya. 

Tapi ya itulah namanya hidup. Kalau semuanya berjalan sempurna, mungkin tulisan ini tidak akan ada. Dan mungkin saya juga tidak akan belajar soal bagaimana mengontrol diri sendiri untuk tidak bilang "asu" meski keadaan sangat membuat saya ingin bilang "asu". Meski ingatan semacam ini tidak cukup manis untuk dikenang, tapi saya tetap akan menjaganya sebagai sesuatu yang berharga.

Di tahun 2012, satu tahun setelah Pentas PAI itu, Pak Taufik meninggal dunia. Kabar yang mengejutkan sekali. Padahal ketika tinggal sekamar di Asrama Haji itu, saya, Pak Taufik, dan anak-anak nasyid (Bayu, Bagus, dll.) sering berkelakar akan lebih sering ketemu di Bandung. Waktu 2011 itu, angan-angannya saya akan kuliah di Bandung selepas SMA, lalu akan jadi satu tongkrongan dengan anak-anak nasyid itu dan akan sering main ke rumah Pak Taufik. Tapi apa mau dikata, Pak Taufik meninggalkan kita dan wacana-wacana yang bagi saya sebagai bocah SMA sangat menyenangkan meski hanya membayangkannya saja.

Itulah cerita Nishfu Syaban versi saya. Sebagaimana para ulama berdoa di bulan ini, semoga kita diberi keberkahan di sepanjang Syaban dan disampaikan usia hingga bisa menikmati Ramadan dengan sebaik-baiknya bekal.

Selamat menyambut Ramadan.

10 Maret 2023

(Sayang sekali tidak ada dokumentasi yang layak dalam rangkaian acara itu. Hanya ada beberapa foto ini sebagai dokumentasi yang masih tersimpan sampai saat ini.)

Komentar