Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Ke Amerika, mau jadi yang seperti apa? - Review Buku Impian Amerika by Kuntowijoyo



Dulu pernah dengar dari senior kampus, bahwa di Mesir ada pepatah bagi para pendatang, "Mitsluka Kitiir!" (yang sepertimu sudah banyak!). Yang datang ke Mesir dengan tujuan belajar, sudah banyak. Yang datang dengan cita-cita jadi ulama, sudah banyak. Yang datang dengan tujuan menjemput rizki, sudah banyak. Yang inginnya cari jodoh, juga sudah banyak. Maka, kamu mau jadi yang seperti apa? Apa yang membuatmu menjadi pendatang yang tidak sama dengan pendatang lainnya?

Pepatah itu kembali teringat ketika saya membaca novel "Impian Amerika" karya Kuntowijoyo. Novel itu berisi 30 cerita yang berdiri sendiri-sendiri, soal 30 orang berbeda dengan mimpinya masing-masing di New York City. Novel ini punya representasi yang menarik soal orang-orang Indonesia yang berhijrah ke Amerika, mengingatkan saya bahwa pepatah "Mitsluka Kitiir!" itu memang benar adanya. Apalagi dengan populasi orang Indonesia yang estimasinya puluhan ribu orang di Amerika, tentu ada banyak orang yang datang ke negeri ini dengan kesamaan cita-cita, kesamaan tujuan, termasuk pada akhirnya punya kesamaan nasib.

American Dream adalah satu konsep yang erat melekat dengan pendatang. Kuntowijoyo bilang, “Impian Amerika adalah kebebasan (belenggu menjadi kemerdekaan), mobilitas ekonomi (kemiskinan menjadi kelimpahruahan), mobilitas sosial (karyawan menjadi majikan), dan mobilitas budaya (keterbelakangan menjadi kemajuan). Dari sejumlah harapan orang itu yang tersisa barangkali hanya kebebasan (termasuk kebebasan untuk rusak, kafir, dan mati).” Konsep ini menjadi ruh yang setiap saya selesai membaca satu ceritanya, saya jadi menginterpretasi, "Oh, tafsiran American Dream-nya seperti ini bagi tokoh ini." Beberapa kisah bercerita soal kebebasan, beberapa soal mobilitas ekonomi, sosial, atau budaya, beberapa lainnya adalah kisah kebebasan yang menimbulkan "rusak, kafir, dan mati", dari kaca mata Kuntowijoyo yang sering kali memasukan unsur profetik dalam karya-karyanya.

Jika kita berekspektasi soal alur dan tokoh yang punya titik klimaks dan dramatis, novel ini bukan jawabannya. Novel ini hanya bercerita soal kehidupan sehari-hari yang sederhana. Tokoh "Aku" dalam novel ini berperan sebagai orang luar yang mengamati kehidupan ke-30 tokoh berbeda dengan cerita yang berbeda-beda. Karenanya, novel ini tidak menuntut kita untuk membacanya secara runut. Pembaca bisa membacanya dari bagian manapun sesuka hati.

Malah saya jadi berpikir, novel ini akan membuat pembaca berpandangan "biasa saja" terhadap Amerika. Negara yang selama ini punya impresi luar biasa di media, dalam deskripsi novel ini justru punya narasi yang tidak begitu menarik. Sebagai tempat untuk mencari penghidupan, Amerika memang menarik. Tapi sebagai tempat untuk membangun kehidupan, Amerika tidak cocok untuk semua orang.  Novel ini membuat pembaca, atau setidaknya saya, tidak telalu berambisi untuk tinggal di Amerika.

Kekuatan Kuntowijoyo dalam novel(-novel)nya ada pada ceritanya. Ia punya sudut pandang yang kuat ketika mengangkat satu isu atau kondisi untuk diceritakan. Bisa jadi hal yang sangat sederhana bahkan tidak kita perhatikan, Kuntowijoyo bisa mengangkat itu menjadi cerita yang menarik. Di kisah ke-10 yang berjudul "Taksi", tokoh bernama "Purnomo" diceritakan sebagai laki-laki yang hobi membuat anak. Awalnya dua anak, lalu empat anak. Kisah ini menyisipkan benturan nilai antara "banyak anak, banyak rizki" versus "banyak anak, banyak repotnya". Lalu Purnomo pernah mendatangkan pembantu dari Indonesia, tapi lagi-lagi ada benturan cara pandang bahwa kehadiran pembantu akan membentuk anak-anak “berkebudayaan pembantu” atau tidak mandiri; dan tidak mandiri itu adalah kelakuan yang unamerican.

Ada juga kisah Tajudin sang “Pemberontak Sejati” yang hidup dengan paham Marxisme. Tajudin adalah mahasiswa yang beasiswanya diputus. Kondisi ini yang menggiringnya pada prinsip yang penting berguna, bukan sekolah. "Tidak ada gunanya pintar sendiri di tengah-tengah kebodohan massal, tidak ada gunanya kaya di tengah-tengah kemiskinan, tidak ada gunanya berkuasa di tengah-tengah penindasan”.

Kekuatan lainnya bahwa novel ini punya sisipan nilai-nilai teologi (khususnya Islam), juga-juga prinsip-prinsip hidup orang Jawa. Nilai-nilai ini menjadi kontras ketika disandingkan dengan orang-orang Indonesia yang ketika tinggal di Amerika, sebagian besar "seperti berganti akar", atau pepatah Sunda bilang, "kawas kuda leupas tina gedogan" (seperti kuda yang lepas dari kandangnya). Amerika bisa menjelma menjadi "pengalaman pertama" bagi banyak orang. Pengalaman pertama mencicipi vodka, pengalaman pertama jalan-jalan di luar ruangan dengan pakaian seksi, pengalaman pertama menganut paham baru, juga pengalaman pertama mendebatkan nilai agama dengan orang yang kontra agama. Dalam kisah "Orang Pertama" di bab ke-27, Kuntowijoyo menuliskan, “Kata anak itu, mencari orang pandai di Amerika itu gampang, orang kaya banyak. Yang susah mencari orang suci.”

Sayangnya, Kuntowijoyo bukan penulis yang memproduksi cerita dengan bahasa yang renyah dan mudah dicerna oleh kepala saya. Saya seringkali merasa bahwa penulis adalah bapak-bapak yang sedang bercerita dengan bahasa lisannya, yang kadang kalimat dan idenya loncat ke topik-topik di luar topik utamanya. Ditambah lagi dengan kinerja editor yang tidak begitu detail, masih banyak salah ketik yang membuat kita sedikit mengernyitkan dahi. Misalnya pada kalimat, “Bagaimana saya busa lupa sama Indonesia” (Hal. 19),  "Sebab, dari Tawangmangu busa mendaki Gunung Lawu lewat Cemoro Sewu" (Hal. 86), Waktu dua minggu sudah habus dan izin tinggalnya mati" (Hal. 106).

Lagi-lagi ini soal selera saya pribadi dalam cerna-mencerna kerenyahan kalimat. Tapi secara keseluruhan, kekuatan cerita yang disajikan membuat saya betah untuk membacanya sampai selesai. Novel ini juga menjadi sangat relate untuk saya baca, sebab setiap kisahnya membuat saya banyak merenung dan berpikir ulang, apakah saya akan masuk kategori "Mitsluka Kitiir!" atau justru menjadi "Wa laa ka ayyi rojulin", just one of a kind.

Judul Buku: Impian Amerika
Penulis: Kuntowijoyo
Penerbit: DIVA Press
Kota Terbit: Yogyakarta
Cetakan: Pertama, November 2017
Tebal Buku: VII+264 Hlm
ISBN: 978-602-391-468-5

(Saya membacanya versi digital di aplikasi iPusnas [Perpustakaan Nasional])

30 Mei 2023.



Komentar