Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Guru Cerdas Finansial: Agar Sejahtera Meski Gaji di bawah Rata-Rata


Judul Buku: Bukan Guru Oemar Bakrie... Menjadi Guru Cerdas Finansial
Jumlah Halaman: 178 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 28 Jan 2013
ISBN: 9789792264685

Sejak nama Oemar Bakrie dipopulerkan Iwan Fals dalam lagunya, sosok ini menjadi istilah bersama yang digunakan masyarakat kita sebagai gambaran kehidupan seorang guru yang mengabdikan diri di dunia pendidikan. Latar belakang sosial yang sederhana, serta jiwa pengabdian yang besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membuat nama Oemar Bakrie begitu lekat dan sering dipakai dewasa ini untuk menggambarkan kondisi guru-guru Indonesia saat ini: tanggung jawabnya besar, namun tidak cukup sejahtera.

Kiranya hal itulah yang melatarbelakangi Zainal Umri untuk memakai nama Oemar Bakri sebagai bagian dari judul bukunya, "Bukan Guru Oemar Bakrie... Menjadi Guru Cerdas Finansial".

Buku ini bicara soal cara menyiasati gaji guru di Indonesia yang pada umumnya sangat kecil. Dari bab pertama sampai bab ketiga, buku ini memaparkan deskripsi seputar sedihnya jadi guru di Indonesia, sementara beban kerjanya luar biasa banyak. Penulis buku ini hadir menawarkan alternatif pemikiran agar sekecil apapun gaji yang ada, sebisa mungkin harus disiasati dengan kecerdasan finansial yang mapan. Menurutnya, para guru pun bisa meraih kesuksesan finansial dengan cara bermartabat, tanpa harus mengorbankan profesionalitasnya sebagai seorang guru.

Di bab berikutnya, buku ini menjelaskan tentang empat level kecerdasan finansial: 1) Kecerdasan untuk mendapatkan uang; 2) Kecerdasan untuk mengelola uang; 3) Kecerdasan untuk memberdayakan uang agar terus berkembang; dan 4) Kecerdasan menggunakan uang untuk tujuan menciptakan kemakmuran. Judul bab-babnya tidak sama persis dengan poin-poin itu, tapi esensinya demikian.

Buku ini inspiratif, namun terlalu repetitif. Isinya terlalu banyak menjual kesedihan kondisi guru bergaji kecil, alih-alih fokus pada materi kecerdasan finansial itu sendiri. Saya ingin menyebutnya sebagai buku inovatif, namun belum sampai itu. Alasannya karena buku ini tidak banyak menyuguhkan tawaran cara baru untuk bagaimana mendapatkan dan mengelola uang bagi guru, tapi lebih banyak menceritakan jenis-jenis pekerjaan yang sudah dilakukan oleh guru-guru di Indonesia sebagai usaha sampingan. Entah itu dengan menjadi guru les, berjualan pulsa, membuka warung, memungut sampah, dan lain-lain. Bahkan di bab-bab awal, bahasannya terlalu melebar pada soal guru yang profesional dan ideal. Untuk mendeskripsikan kondisi guru saat ini sebagai intro, rasanya terlalu panjang. Bahkan saya berkesimpulan, daripada baca buku ini, mending baca saja buku yang dari judul sampai penutup khusus membahas manajemen finansial tanpa embel-embel kondisi hidup guru.

Gaya tutur dalam buku ini membuat saya berpindah-pindah dalam memosisikan diri. Kadang kala penulis seperti sedang bicara di hadapan pembaca yang sesama guru, kadang kala menganggap pembaca bukan berprofesi guru. Inkonsistensi ini membuat segmentasi buku ini menjadi kabur, sebenarnya siapa yang ingin ditarget? Mengajari guru bergaji kecil agar cerdas finansial, atau memberi tahu pembaca umum tentang pentingnya kecerdasan finansial bagi guru bergaji kecil?

Buku ini punya ide premis yang kuat dan poin-poin yang kuat. Bahasa yang digunakan juga sederhana dan mudah dimengerti. Mungkin karena saya pernah jadi guru, beberapa bahasannya juga nyambung dengan pemahaman saya. Beberapa hal teknis cukup mengganggu saya selama membaca buku ini. Misalnya terdapat kesalahan ketik dan tanda baca. Yang paling enggak banget dari buku ini adalah desain covernya. Jenis hurufnya nampak default bawaan Windows, mungkin desainernya kejar tayang dan tidak cukup waktu untuk bereksplorasi lebih jauh.

Jika anda seorang guru dan ingin tahu tentang manajemen finansial, buku ini bisa menjadi pengantar yang baik. Pun jika anda bukan seorang guru, buku ini bisa memberi anda dua hal di waktu bersamaan: deskripsi nyata kehidupan guru di Indonesia, dan bagaimana guru-guru di Indonesia bisa bertahan hidup dengan gaji yang di bawah upah minimum.

Selamat membaca.

Komentar