Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Sekelumit Cerita Membesarkan Anak di Amerika


Katanya, membesarkan anak di Amerika itu harus punya mental seperti membesarkan seekor burung: kalau anaknya sudah besar, orang tua harus rela melepasnya untuk terbang jauh. Sebab anak-anak yang dianggap sudah dewasa dan punya pekerjaan sendiri, mereka tidak akan lagi tinggal di rumah orang tuanya. Mereka akan menjadi 'manusia' sendiri dengan dunianya sendiri, cita-citanya sendiri, tujuan hidupnya sendiri, agamanya sendiri, prinsip-prinsip sendiri, bahkan bisa jadi, orang tua adalah "orang lain" yang dalam banyak aspek tidak bisa sembarangan berinteraksi, berintervensi, atau mengambil keputusan apapun soal hidup anaknya yang sudah dewasa.

Saya berulang kali mendengar cerita itu ketika duduk makan dengan Pak Wakidi, pemilik rumah yang rumahnya saya sewa dan tinggali di Amerika. Anak pertamanya sudah tinggal dan bekerja sendiri di kota yang butuh 6 jam perjalanan pesawat dari DC. Jika Pak Wakidi ingin bertemu dengan anaknya, ia harus menghubunginya dulu, membuat janji dulu, yang sangat mungkin ketika menghubungi itu, pesannya tidak dibalas, teleponnya tidak diangkat. Bahkan lebih buruk, ia pernah datang dan sudah sampai depan rumah malah dimarahi oleh anaknya sendiri, karena datang tiba-tiba tanpa buat janji. Katanya, ia bukan satu-satunya yang mengalami kondisi demikian. Hampir setiap orang tua yang sudah punya anak dewasa di Amerika ini memang begitulah budayanya: untuk makan bersama anak atau cucu sendiri pun harus buat janji dan reservasi.

Apa jadinya jika kondisi itu terjadi di Indonesia? Barangkali, sang anak akan dicap anak durhaka karena menolak kedatangan orang tuanya sendiri. Tapi karena kejadiannya di Amerika, di negeri yang budayanya berbeda, sang anak tidak bisa dicap durhaka. Justru malah akan orang tuanya yang dicap tidak punya etika. Jadi, definisi durhaka itu berangkat dari standar budaya yang mana? Wew, itu topik yang lain lagi. 

Definisi nilai keluarga yang ada di kita dan di Amerika punya perbedaan yang nampaknya tidak bisa sepenuhnya dianggap sama. Di Indonesia bagian wilayah saya, anak dan orang tua bisa hidup bersama sampai tua adalah hal yang wajar dan lumrah. Saking lumrahnya, tak heran ada banyak orang tua yang ingin mempunyai anak dengan motif sebagai investasi agar di masa tua bisa diurus sama anak, dinafkahi (balik) sama anak, bahkan seringkali mendapat penguatan dari ceramah para ustaz yang membingkai frasa "mengurus orang tua yang sudah sepuh" sebagai wujud bakti anak kepada orang tua. Bahkan saya sering diceramahi agar segera menikah dan punya anak, supaya nanti anak akan mengurus saya ketika tua nanti. Lalu bagaimana cara agama mendakwahkan konsep berbakti kepada orang tua bagi orang Amerika yang sejak usia 21 tahun saja, hidupnya dengan orang tua sudah jadi masing-masing? Wew, itu bahasan kedua yang lain lagi.

Mungkin ada beberapa alasan kenapa orang tua di sini tidak tinggal serumah dengan anaknya yang sudah dewasa. Pertama, pengaruh urbanisasi dan globalisasi telah memberikan peluang pekerjaan dan pendidikan bagi masyarakat Amerika, sebagaimana terjadi pada kita orang Indonesia, yang mengakibatkan keluarga terpisah geografis. Kedua, nilai-nilai individualisme yang dianut orang Amerika menyebabkan anak dewasa cenderung mencari kehidupan mandiri setelah mencapai usia tertentu. Ketiga, bisa jadi, orang tua sendiri yang memang memutuskan untuk tidak ingin tinggal serumah dengan anaknya. Lelucon "anak sebagai beban keluarga" bisa dipakai dalam kondisi di mana orang tua "mengusir" anaknya untuk tidak lagi hidup bergantung pada orang tuanya, dan sudah saatnya belajar hidup mandiri dalam segala hal.

Pergeseran ini, jika tidak berlebihan untuk menyebutnya sebagai pergeseran, tidak hanya mengubah pola tempat tinggal, tetapi juga merintangi keterlibatan emosional dan interaksi langsung antara orang tua dan anak dewasa. Kegiatan sehari-hari seperti makan bersama yang dahulu merupakan bagian integral dari kehidupan keluarga, kini memerlukan rencana dan janji temu. Hal ini tentu saja menimbulkan kesan bahwa hubungan keluarga menjadi lebih formal dan kurang akrab. Orang tua bisa jadi tidak kenal 'siapa' anaknya, juga anak bisa jadi tidak kenal 'siapa' orang tuanya. Orang tua bisa jadi tidak tahu anaknya sedang dekat dengan siapa, sedang mengerjakan apa, sedang ada di mana, dll. Atau sebaliknya, anak bisa jadi tidak tahu bahwa orang tuanya sedang apa, punya kebiasaan baru apa, bahkan jika orang tuanyanya sudah duda/janda, anak bisa jadi tidak tahu bahwa orang tuanya sedang memacari siapa. Satu kondisi yang tidak lazim terjadi di Indonesia.

Kata Pak Wakidi, budaya di Amerika soal kondisi ini secara umum ada benarnya. Setiap orang butuh privasi, yang kadang privasi itu tidak jelas batasnya dalam hubungan anak dan orang tua. Hidup kita  sebagai manusia dewasa memang tidak sepatutnya selalu dibayang-bayangi orang tua sendiri. Ya, mereka berjasa telah melahirkan dan membesarkan, namun tidak berarti jasa itu harus dibalas dengan menyeragamkan diri seumur hidup dengan orang tua, sehingga bisa disetir dan dianggap selalu berhutang budi seumur hidup. Ada kalanya anak kita, kata Pak Wakidi, mereka lelah bekerja setiap hari dan ingin menikmati akhir pekannya sendiri, atau mungkin sudah janji dengan temannya, dengan pasangannya, dan bukan dengan orang tuanya. Maka wajar saja kalau ia menolak untuk bertemu dengan kita meskipun orang tuanya sendiri. Sebenarnya, di Indonesia pun, bisa saja kita sedang tidak ingin bertemu atau menolak permintaan orang tua sendiri, namun terlalu tabu untuk menolak dan mengabaikan permintaan orang tua sendiri sebab ada doktrin agama dan nilai budaya yang kuat, di samping karena kita semua mayoritas terlahir sebagai makhluk yang gak enakan.

Membaca bagaimana cara orang tua membesarkan anak di Amerika menarik juga. Beberapa minggu lalu, saya menemani seorang diplomat yang sedang dalam kunjungan kerja ke Amerika. Ia bilang ingin dapat penempatan tugas di negara yang maju dan bagus, semisal Amerika, agar bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang bagus dan berkualitas. Lalu ia pun membandingkan kondisi sekolah di Indonesia, yang menurutnya masih punya banyak hal yang perlu ditingkatkan. Sementara di lain waktu, saya pernah berbincang dengan seorang ibu yang yang sudah enam tahun di Amerika, yang justru menyekolahkan ketiga anaknya di Indonesia. Katanya, sekolah di Amerika memang bagus buat pengalaman belajar anak, kemampuan bahasa Inggrisnya juga pasti meningkat pesat. Tapi sekolah Amerika gak ada pelajaran akhlak, tidak ada pelajaran agama, kurikulumnya sudah mulai masuk isu-isu LGBT, gurunya terlalu cuek, lingkungan pertemanan yang sulit dibaca, termasuk kenakalan remaja yang levelnya agak lain. Jika di Indonesia para orang tua khawatir anak-anaknya akan terekspos pada narkoba dan minuman beralkohol, bagaimana berjuangnya orang tua di Amerika, yang mana di banyak tempat, akses terhadap minuman beralkohol sangatlah mudah, bahkan merokok ganja saja adalah hal yang legal. "Masa pas istirahat sekolah pada ciuman dan ngeseks di toilet sekolah?" kata Si Ibu mengelus dada.

Di hari Kamis minggu ini, masyarakat Amerika akan merayakan hari Thanksgiving, yang ternyata terjemahan Indonesianya adalah "Hari Bersyukur" (Saya baru tahu padanan kata ini dari diplomat-diplomat Amerika yang akan bertugas ke Indonesia). Di momentum Thanksgiving ini, orang-orang Amerika akan berkumpul bersama keluarga, mudik dari kota ke kampung halaman, makan malam bersama dengan hidangan ayam kalkun dan aneka kue khas Thanksgiving, dan menikmati waktu bersama. Thanksgiving adalah momen lebaran versi Amerika. Momen di mana anak dan orang tua bisa kembali bertemu dan membayar rindu.

Saya mungkin terlalu dini untuk membuat kesimpulan seperti ini, dan sangat mungkin pembacaan saya ini suatu hari akan terkoreksi sendiri. Tapi setidaknya, sejauh ini, inilah pembacaan saya, juga sebagai jawaban jika ada yang bertanya tentang sekelumit gambaran umum relasi orang tua dan anak di Amerika.

Senin, 20 November 2023.

Komentar

  1. Tulisan ringan namun padat wawasan tentang kehidupan sosial masyarakat Amerika yang jarang terekpos. Sukses selalu dan berkah.

    BalasHapus

Posting Komentar