Sekelumit Cerita Membesarkan Anak di Amerika

Katanya, membesarkan anak di Amerika itu harus punya mental seperti membesarkan seekor burung: kalau anaknya sudah besar, orang tua harus rela melepasnya untuk terbang jauh. Sebab anak-anak yang dianggap sudah dewasa dan punya pekerjaan sendiri, mereka tidak akan lagi tinggal di rumah orang tuanya. Mereka akan menjadi 'manusia' sendiri dengan dunianya sendiri, cita-citanya sendiri, tujuan hidupnya sendiri, agamanya sendiri, prinsip-prinsip sendiri, bahkan bisa jadi, orang tua adalah "orang lain" yang dalam banyak aspek tidak bisa sembarangan berinteraksi, berintervensi, atau mengambil keputusan apapun soal hidup anaknya yang sudah dewasa. Saya berulang kali mendengar cerita itu ketika duduk makan dengan Pak Wakidi, pemilik rumah yang rumahnya saya sewa dan tinggali di Amerika. Anak pertamanya sudah tinggal dan bekerja sendiri di kota yang butuh 6 jam perjalanan pesawat dari DC. Jika Pak Wakidi ingin bertemu dengan anaknya, ia harus menghubunginya dulu, membuat janji d

Ketabahan Emak dan Bayi-bayi yang Langsung Pergi


Tahun lalu saya pernah menemani kawan yang istrinya melahirkan di rumah sakit. Dari pagi mules-mules, waktu duha masuk ruang operasi, sampai sorenya siap-siap mau pulang dengan anggota keluarga baru. Tak lama setelah bayinya lahir dan sang ibu baru tiba di ruang rawat, kawan saya sering senyum-senyum sendiri dan bilang, “Ul, urang boga budak!” (saya punya anak). Kalimat itu diucapkan sudah tak terhitung jumlahnya. Lagi jalan ke apotek mau ngambil obat, tiba-tiba aja nyeletuk, “Ul, urang boga budak!”. Pergi keluar beli makan, ke masjid mau Jumatan (karena waktu itu hari Jumat), pulang dari masjid, saya mendengar banyak sekali “Ul, urang boga budak!”. Saking seringnya, saya jadi kesel sendiri. Ingin sekali menyadarkan dia bahwa saya udah tahu informasi itu dan gak butuh pengulangan. Tapi kan gak mungkin bilang itu di saat kawan saya sedang bahagia-bahagianya. Mungkin dalam otaknya sedang ada BCL lagi nyanyi, “ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku bahagiaa….”


Hari itu tidak mudah dilupakan bagi saya, meskipun saya tak berkontribusi sedikitpun dalam proses kelahiran bayi itu. Jika dikategorikan, ada beberapa fase kebahagiaan yang saya lihat. Pertama, ketika proses menunggu istrinya yang sedang dibelah perutnya tanpa ada suami di sampingnya. Guru saya pernah bilang, supaya kamu tahu perjuangannya istri, kamu harus berada di sampingnya ketika melahirkan, karena pengalaman itu salah satu penguat rumah tangga, katanya. Jika saran itu benar adanya, berarti kawan saya telah kehilangan momen itu. Momen bisa pegang tangan istrinya, mengelap keringatnya, atau mungkin dijambak rambutnya ketika mengejan. Di fase penantian itu, tak ada yang bisa dilakukan sang suami selain berdoa. Ketika kakak saya melahirkan, Abang saya bilang bahwa momen nunggu istri lahiran adalah momen paling bingung seumur hidupnya, karena gak tau harus ngapain. Apa yang bisa dibantu selain berdoa?

Fase berikutnya adalah ketika pertama kalinya melihat bayi. Saya tidak pernah tidak terharu jika melihat momen ini. Ketika manusia mungil itu mengecap-ngecap mulut kecilnya, menggoyang-goyang kepalanya seperti mencari posisi bantal yang nyaman, lalu orang-orang di sekelingnya tersenyum bahkan meneteskan air mata. “Jadi ini anak abi?” katanya terharu. Lalu sang ayah baru pun mulai merancang nama sapaan terbaik untuk bayinya. Apakah ayah, abi, baba, abah, bapak, atau lainnya. Ayah baru pun mulai belajar menggendong bayi, karena tidak semua laki-laki kenyataannya tidak punya kemampuan ini. 

Di sebuah buku yang saya kutip, seorang laki-laki bisa menyebut dirinya laki-laki ketika istrinya sudah bilang, “Mas, aku hamil!”. Di hari berikutnya ia bisa bilang dirinya sebagai ayah, ketika istrinya bilang, “Mas, ini anak kita!”. Kalau kamu mau tahu gimana harunya momen ini, cobalah cari temen atau senior yang kira-kira mau lahiran. Hubungi dia dan buat janji untuk nemenin proses kelahirannya nanti. 


Saya pernah mengazani bayi karena waktu itu bapaknya lagi pergi ke apotek dan lama tak kunjung kembali. Karena takut terlalu lama, akhirnya saya yang waktu itu ada di situ disuruh azan. Buat saya, itu adalah moment berharga, karena bisa tahu gimana bau amisnya bayi yang baru lahir. Heuheu… Sialnya, bayi itu tumbuh besar dengan bentuk telinga yang tidak ada kuriwel-kuriwelnya. Rembing kaya sendok. Jika ia tidur, daun telinganya bisa menampung air. Kodrat itu sering digunakan orang tua dan kakak-kakanya untuk nyalahin saya. “Kamu adzannya kekencengan!” katanya. Harusnya keluarga ini bersyukur waktu itu saya azani, bukan nyanyiin lagu sabyan yang hmmm hmmm hmmm itu. 

Minggu ini, di Masisir ada kelahiran bayi baru, ada juga yang meninggal dunia. Karena orang tua bayi-bayi ini adalah juga teman yang saya kenal, saya jadi ikut baper pada moment keduanya. Keduanya lahiran di waktu yang berurutan, dan mengumumkan berita bahagia di waktu yang berurutan. Tapi di urutan selanjutnya, ada berita bahagia yang ubah haluan jadi berita duka. 

Tahukah kamu gimana caranya menghibur orang yang sedang kehilangan?

Jika ini soal pacar, maka urusannya akan lebih mudah. Salah satu alasan kenapa kita gak boleh bikin pacar kita menangis, sakit hati, atau merasa kehilangan kasih sayang, adalah karena di momen-momen itulah tukang tikung beraksi. Nah jika urusannya soal kehilangan orang tua, kehilangan anak, kehilangan kesempatan untuk bisa kuliah di mesir, cara mengatasinya lain, bahkan saya sendiri gak tau gimana. 

Jika mengucapkan bela sungkawa dirasa cukup, saya sudah melakukan itu ke teman saya. Tapi saya yakin seyakin-yakinnya, itu tidak cukup. Saya punya cerita soal kejadian serupa yang barang kali bisa membantu. Jika teman saya ini baru pertama kali punya anak dan harus kehilangan kebahagiaan itu, maka siapapun kamu harus belajar dari ibu saya sendiri yang sudah empat kali kehilangan bayi. Keempat bayi yang harusnya jadi kakak saya itu pernah tinggal di perut ibu dalam hitungan yang normal, lahir ke dunia dengan cara yang normal, semuanya punya nama, dan semua orang pernah tersenyum mendengar tangisannya. Ada yang beberapa hari, ada yang beberapa minggu, lalu pergi meninggalkan ibu, meninggalkan kami yang sangat menantikannya. 

Ibu pernah cerita, kehilangan bayi itu sakit hati, jauh lebih sakit hati dari beban apapun. Semua pakaian yang telah disiapkan, bedak yang belum dibuka tutupnya, nama terindah yang dirangkai berminggu-minggu, semua ingatan itu mengantarkan pada sakit hati paling menyayat. Di malam setelah kematian salah satu bayinya, Ibu bermimpi bertemu bayinya yang mewujud anak laki-laki yang putih dan tampan. Katanya, ia melambai tangan, menjauh dengan senyuman yang sampai sekarang masih tergambar betapa manisnya senyuman itu. 

Saya pernah menceritakan kisah ini kepada seorang teman di AUC yang pernah kehilangan anaknya dan nampak trauma untuk punya anak lagi. Setelah kisah ini diutarakan, ia sempat terdiam beberapa saat lalu dia bilang, “Shame on me! She’s suffering more than me!”. 

Saya belum punya pengalaman punya anak, tapi saya belajar tahu bahwa bahagianya punya anak tak akan cukup diwakili oleh sekadar mengucap hamdalah. Jika ada kalimat pujian di atas itu, barangkali para orang tua akan mengucapkan itu. Kita diharapkan sejak dalam rahim, bahkan sebelum rahim. Kita adalah wujud dari doa yang dipanjatkan sejak lama sekali. Malu rasanya jika sudah sebesar ini selalu mengecewakan doa-doa dan harapan-harapan itu. 

Ada saat saya iri sama bayi, yang mana dalam kondisi apapun sering dikelilingi ammah-ammah dan pipinya dicubit-cubit. Ah sudahlah ….

12 Juli 2018.


Komentar

Posting Komentar